DANDELION: Nata • 04


 

"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."


.

.

.


Sore itu setelah jam kerja usai, Nata bertemu dengan Vani di salah satu kafe yang berada tidak jauh dari kantor sang sahabat. Ia menunggu kedatangan sahabatnya itu dengan ditemani secangkir latte. Tidak lama, bahkan Nata baru menyesap sedikit cairan berwarna cokelat itu, Vano tiba dan langsung menduduki kursi di depannya.

 

“Gua udah pesenin iced americano buat lo, bentar lagi dianter.” Nata membuka suara begitu sang sahabat mendaratkan bokongnya di atas kursi.

 

Dan benar saja, tidak lama setelah itu, seorang pelayan datang mengantarkan minuman yang dipesan Nata saat ia sampai tadi.

 

“Makasih..”

 

Vano mengambil gelas bening berisi cairan hitam itu lalu meminumnya.

 

“Jadi gimana Van?”

 

Pertanyaan Nata membuat suasana di antara mereka menjadi serius. Vano yang mengerti lalu mengambil sesuatu dari dalam tas yang berada di kursi di sebelahnya. Ia mengeluarkan sebuah map yang ternyata berisi lembaran-lembaran kertas yang kemudian dijajarkan ke hadapan Nata.

 

“Lihat ini.” Ujarnya sambil menunjuk selembar kertas dengan materai.

 

“Ini bukti penjualan mobil itu. Lo liat namanya.”

 

Nata otomatis mengarahkan matanya. Saat deretan huruf itu berhasil diartikan oleh otaknya, saat itu juga matanya membulat dan tangannya mengepal dengan kuat.

 

“Adrian Andersn.”

 

Vano mengangguk, lalu ia juga menunjukkan lembaran lain yang membuat amarah Nata semakin terbakar.

 

“Laporan warga sekitar lokasi kecelakaan enggak bisa diproses lebih lanjut setelah sidang pertama karena kurangnya bukti.”

 

“Ini?”

 

“Mika Alexander, dia dipercaya sebagai pengacara keluarga Andersn. Dan dia juga yang udah menangin persidangan waktu itu.”

 

Seketika kemarahan yang sudah memenuhi relung hati berubah menjadi sesak yang tiada tara. Pasalnya, selain menyeret keluarga Andersn, kecelakaan hari itu ternyata juga menyeret nama seorang Mika Alexander.

 

Nata bingung. Apa yang harus ia katakan kepada Aza mengenai kebenaran ini? Ia takut jika Aza akan semakin membenci keluarganya, walaupun Nata sendiri juga tahu kalau sampai detik ini Aza masih begitu benci dengan Ayah dan keluarga barunya.

 

“Van..”

 

Hm?”

 

Nata mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk. Sorot matanya langsung bertabrakan dengan iris gelap Vano.

 

“Lo kenapa?” Tanya Vano bingung. Pasalnya tadi Nata terlihat begitu marah, tapi sekarang wajah sang sahabat berubah kelabu.

 

“Gua bingung.”

 

“Bingung?” Beo Vano.

 

“Gua bingung sama apa yang harus gua bilang ke Aza sama Bunda, Van.”

 

Vano semakin dibuat bingung. Ia tidak mengerti dengan arah bicara Nata. Kenapa jadi membawa Aza dan bundanya?

 

“Maksud lo apa sih gua enggak ngerti?”

 

“Dia..” Nata menunjuk foto seorang pria yang berdiri di samping sepasang suami istri di depan pengadilan.

 

“Dia Ayah kandung Aza.”

 

Mata sipit Vano seketika membulat dan membesar begitu mendengar ucapan Nata. Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Vano tidak pernah menyangka akan mendengar kalimat itu keluar dari mulut Nata.

 

“Jadi, Aza sama Bunda itu…” Vano tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Lidahnya kelu dan stok kata di otaknya seperti hilang begitu saja.

 

Kepala Nata mengangguk.

 

“Aza adalah anak dari Bunda dan pria itu sebelum akhirnya mereka pisah. Dan ternyata pria itu yang udah buat keluarga Andersn menang di persidangan.”

 

“Dan sialnya, keluarga Andersn adalah keluarga lo, Nat.” Imbuh Vano yang berhasil menghadirkan kembali letupan-letupan amarah yang sempat surut.

 

“Rencana Tuhan keren banget. Kalian dipertemukan setelah mendapatkan rasa sakit dari orang-orang yang gak seharusnya ngasih rasa sakit.”



T . B . C


- DF -

Comments

Popular Posts