DANDELION: Nata • 05


 

"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."


.

.

.


Nata tidak bisa mengabaikan kemelut di pikirannya. Walau ia telah berusaha untuk melupakan apa yang Vano beritahukan, tetapi tidak bisa. Ia terus terpikirkan semua kenyataan yang begitu memusingkan.

 

“Nata..” Suara lembut itu mengalun hingga menyadarkan Nata dari lamunan yang entah terjadi sejak kapan.

 

“Kamu kenapa?”

 

Nata menatap wanita setengah baya yang kini telah berstatus sebagai bundanya. Ia memperhatikan wajah teduh yang mulai dihiasi kerutan di sekitar mata itu dengan hati yang gusar.

 

Padahal niat awal ia tidak ingin menceritakan apa pun kepada bundanya. Sayang sang Bunda malah menyadari kekalutannya.

 

“Bun..”

 

Wanita itu mengangguk. Ia memilih untuk diam untuk memberikan keleluasaan kepada Nata. Ia tahu anaknya ini pasti menyimpan sebuah rahasia yang begitu mengusiknya sampai-sampai seminggu belakangan ini ia menemukan Nata yang kerap melamun. Hal yang jarang sekali terjadi dan aneh baginya.

 

“Bunda ingetkan orang tua asuh aku?”

 

Lagi-lagi sang Bunda menganggukkan kepalanya.

 

“Bunda juga masih ingetkan alesan kenapa aku bisa tidur di teras rumah Bunda waktu itu?”

 

“Iya Nat, Bunda inget. Ada apa?”

 

Nata terlihat menarik napasnya sebelum berpindah duduk di samping sang Bunda.

 

“Bun, kecelakaan itu, aku udah nemuin buktinya.”

 

Sang Bunda tersenyum. Senyum senang karena mendengar kabar baik mengenai kecelakaan yang menewaskan orang tua asuh Nata waktu itu. Tapi ia bingung, kenapa Nata malah terlihat gusar. Bukankah ini berita baik?

 

“Terus kenapa muka kamu kayak gitu?”

 

Lagi-lagi Nata menarik napas yang panjang sebelum mengembuskannya berkala.

 

“Bunda..”

 

Wanita itu masih setia mendengarkan.

 

“Yang nabrak Bapak sama Ibu malem itu adalah Ibu tiri aku, Bun.”

 

Ada hening yang ganjil setelah Nata mengungkapkan kebenaran yang beberapa hari ini merisaukan pikirannya. Jujur saja, sang Bunda terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa orang yang melakukan aksi tabrak lari itu masih memiliki hubungan dengan Nata?

 

“Lalu bagaimana? Kamu masih mau membuka kasus ini lagi?”

 

Nata menatap sang Bunda dengan mengangguk pelan.

 

“Iya, Bun. AKu mau mencari keadilan buat Ibu sama Bapak. Bukti-bukti yang memberatkan pelaku pun udah aku sama Vano kumpulin.”

 

Nata menjeda ucapannya yang membuat sang Bunda merasa bingung.

 

“Kenapa natap Bunda kayak gitu?”

 

Nata tidak langsung menjawab. Ia meraih tangan sang Bunda untuk dibawa ke dalam genggaman tangan besarnya.

 

“Bunda..”

 

“Kamu jangan liatin Bunda kayak gitu dong, Bunda jadi takut tahu. Kenapa sih?” Sergah sang Bunda yang semakin dibuat bingung dengan kelakuan anaknya.

 

Untuk kesekian kalinya, Nata mengisi seluruh sisi paru-parunya dengan udara sebelum vokalnya kembali terucap.

 

“Bun, yang membela wanita itu waktu persidangan sampai kasus akhirnya ditutup itu…” Ada jeda singkat yang diberikan Nata untuk memberikan keyakinan pada dirinya sendiri.

 

“Dia mantan suami Bunda, Mika Alexander.”

 

Bagai disambar petir, jantung Mella bergemuruh cepat begitu mendengar nama pria yang berhasil menorehkan luka besar di hatinya. Ia tidak menyangka akan kembali mendengar nama itu dan mungkin berurusan dengan pria itu setelah sekian lama.

 

Ia tidak tahu harus bagaimana, tetapi tidak mungkin juga ia menghentikan niat Nata untuk membuka kasus kecelakaan itu. Ia tidak mau menghancurkan usaha yang selama ini Nata lakukan untuk mencari keadilan bagi dua orang yang sudah mau mengurus dan menampungnya di saat keluarganya sendiri membuang dirinya.

 

Maka setelah dirinya lepas dari rasa terkejut itu dan meyakinkan dirinya bahwa hidupnya akan baik-baik saja sekalipun ia harus bertemu kembali dengan pencipta luka di hidupnya, Mella menatap Nata dengan memasang senyum serta menggenggam balik tangan Nata yang mulai mendingin.

 

“Nat, buka kembali kasusnya. Kamu harus kasih keadilan buat Ibu sama Bapak kamu. Bunda enggak apa-apa. Bunda percaya kamu enggak akan ngebiarin Bunda sama Aza sakit karena laki-laki itu.”

 

Nata langsung memeluk sang Bunda. Ia mengeratkan pelukannya sambil terus mengucapkan terima kasih.

 

“Enggak usah makasih ke Bunda, sayang. Bunda enggak ngelakuin apa-apa. Bunda cuma bisa doain kamu.”

 

“Iya, Bun. Tapi makasih karena Bunda tetep mau dukung Nata walaupun mungkin nantinya Bunda akan berhubungan sama laki-laki itu. Tapi Bun, Nata janji. Nata enggak akan biarin siapa pun nyakitin Bunda sama Aza, termasuk mantan suami Bunda.”

 

“Bunda percaya kamu, Nat.” Ujarnya dengan usapan yang ia berikan di punggung tegap sang anak.

 

Jika boleh jujur, ada ketakutan yang bersemayam di benak Mella tentang rencana Nata. Ia takut jika luka yang masih coba ia obati kembali terbuka karena harus bertemu dengan sang mantan suami. Tapi sebagian besar hatinya menaruh keyakinan penuh pada sang anak yang tidak akan membiarkan dirinya dan Aza terluka.

 

Maka dengan memegang keyakinan tersebut, Mella berusaha meyakinkan diri jika tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya dan Aza selama ada Nata. Ia yakin Nata dapat memegang janjinya.



T . B . C


- DF -

Comments

Popular Posts