The Ominous Meeting





CAST :
Kang Sena
Lee Minhyuk 

GENRE : Romance

Kim Dhira, Salsa, GSB 
Present

The Ominous Meeting
  






Author POV


Teriknya matahari siang itu membuat hembusan angin seperti membakar kulit manakala sebuah mobil melaju kencang dari arah berlawanan. Semuanya terjadi dengan cepat. Dan sekarang, saat pria bertopi itu membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah kondisi motornya yang sudah tak berbentuk. Belum lagi pesanan yang hendak ia antar juga ternyata sudah tercecer di jalanan. Pria itu berdiri, mengabaikan rasa sakit yang menjalar di kakinya dan menghampiri sang pembuat kekacauan.


“YA! Keluar kau!” teriak pria itu sambil menggedor kaca mobil di hadapannya. Tak butuh waktu lama, kaca mobil itu mulai turun, menampakkan wajah tak peduli sang gadis pengemudi.


“Bisakah kau tak menggedor mobilku sekencang itu? bagaimana jika mobilku rusak, eo?! Apakah kau bisa menggantinya??” ucap gadis itu dingin seakan kejadian yang baru saja terjadi hanyalah sebuah angin lalu yang tak merugikan siapapun.


Pria itu mendecak pelan kemudian menatap gadis di depannya dengan nanar.
“disaat seperti ini kau masih memikirkan mobilmu?” cerca pria itu dengan kesal. Pria itu benar-benar jengkel, terlebih saat gadis itu kelihatan mengabaikan dirinya.


“lihat! yang harusnya ganti rugi itu kau! lihat….. semua pesanan yang ingin kuantar jatuh di jalanan dan jangan lupakan motor butut yang sudah ringsek itu!”


Panas dan marah. Perpaduan itu nampaknya bercampur dengan sangat baik hingga menarik perhatian orang-orang yang melintas di jalan. Kekacauan, dalam hal ini motor rusak, makanan yang berceceran diatas jalan dan juga keributan yang ditimbulkan oleh seorang pria berseragam pelayan yang tengah berteriak-teriak meminta pertanggung jawaban, menarik rasa ingin tahu dari para pengguna jalan lainnya.


“Dengar ya tuan berisik, motor bututmu rusak bukan salahku. Makananmu berceceran di jalan juga bukan karena diriku. Jadi berhenti menyalahkan diriku. Dasar pengganggu!” pria itu makin kesal mendengar pernyataan tidak bersalah yang diucapkan gadis itu, kepalanya seperti terbakar begitu gadis itu hendak menaikkan kaca mobilnya.


Ia menggedor kacanya dengan cepat yang membuat gadis itu mendecak.
“Apa Lagi?? Jangan ganggu aku!” pekik gadis itu.
“tidak sebelum kau membayar semua kerugian ini”
“begini ya… sekarang ini aku harus segera sampai di salon! Jadi menyingkir dan biarkan aku pergi!”
“kau bisa pergi sesukamu jika saja kau membayar ganti rugi!” pria itu masih bersikeras mendebat, berusaha mendapatkan apa yang harus diterimanya. Tangannya bertumpu yakin di atas kaca mobil sedan itu dengan tujuan agar gadis itu tidak melarikan diri.


“lepaskan!” perintah gadis itu.
“tidak!” jawaban sama kerasnya dilontarkan pria itu.
“oh baiklah……. terserah kau saja”
Pria itu mengangguk, menunggu tindakan gadis itu selanjutnya. Namun bukannya mendapat biaya ganti rugi, pria itu justru terhuyung karena gadis gila yang membuat harinya sial, malah menjalankan mobilnya.


“kau gila? Hentikan mobilnya!” pria itu masih berusaha menjaga keseimbangannya. Tangannya masih mencengkram kaca mobil itu. Ia tidak mungkin melepaskannya, jika ia melakukannya, ia pasti akan terhempas.


“sebelumnya aku sudah memperingati dirimu. Jadi jangan salahkan aku sekarang” mobil masih melaju, tak perduli seorang pria sudah kewalahan menyamakan langkahnya.


Cciitt……
Mobil pun berhenti mendadak, hingga detik kemudian seorang pria malang sudah tersungkur di aspal. Pria bertopi itu meringis kesakitan manakala ia merasa bokongnya nyeri.


“hei tuan…. Apa tidur di jalanan itu menyenangkan? Kalau begitu, selamat menikmati santai siangmu. Aku duluan ya!” tak lama mobil sedan berwarna merah itu kembali melaju meninggalkan seorang pria yang tengah merintih kesakitan di aspal.


**********


Minhyuk keluar dari ruangan atasannya dengan wajah tertunduk. Belum juga luka di sekujur tubuhnya terobati, kini hatinya juga ikut teriris manakala mengingat ucapan wanita tua yang belum juga menginjak pelaminan di usianya yang sudah memasuki kepala lima. Ucapan yang membuat ia benar-benar mengutuk sosok pengemudi tak berotak dan tak tahu diri yang telah membuat ia mendapatkan surat peringatan, sekaligus merusak gelarnya sebagai pekerja terbaik.


Ya.. dia Lee Minhyuk. Pria yang baru saja menggenapkan usianya menjadi 21 tahun. Pria pekerja keras yang tak mudah putus asa. Pria muda yang harus menjadi seorang pekerja demi kelangsungan kehidupannya. Dan seorang pria yang harus merasakan kasar dan panasnya aspal di siang hari karena tindakan tak bertanggung jawab seorang gadis tak dikenal.


Minhyuk menghela napasnya. Panas siang itu telah benar-benar membakar seluruh tubuhnya. Tak hanya kulit tubuhnya saja, tetapi otaknya juga telah ikut terbakar. Ia meletakkan baskom berisi air di atas pangkuannya. Menyelupkan kain yang ia bawa ke dalam, setelahnya ia keringkan dan ia usapkan pada kulit tangannya yang memerah akibat terjatuh di aspal. Berulang kali ia usapkan kain itu pada bagian tubuhnya yang lain yang juga telah memerah bahkan sampai mengeluarkan cairan kental yang juga berwarna merah. Dan semuanya ia akhiri dengan menempelkan plester pada tulang pipinya.


**********


“darimana saja kau?” sergah seorang gadis saat sosok itu baru saja muncul dan langsung mendudukkan tubuhnya pada salah satu kursi disana.


Sosok itu mendengus. Wajahnya tiba-tiba saja memerah. Dan tangannya terkepal. “ini semua karena pelayan bodoh itu!” desisnya.


“pelayan?” ulang gadis itu. Ia memicingkan matanya, menatap bingung sosok itu melalui kaca di hadapannya.


“Ya.. pelayan bodoh yang meminta ganti rugi karena motor butut serta pesanan yang akan ia antar” jelas sosok itu. Ia menyenderkan tubuhnya dan tak lama muncul seorang pelayan yang telah siap dengan sebuah handuk kecil di tangannya.


“nona, mari ikut saya”


**********


Minhyuk POV


Helaan napas panjang kembali terhembus. Aku tak kuat lagi. Dengan jalan pincang begini, kapan aku bisa sampai di kelas? Cih… gadis itu! gadis tanpa perasaan dan tanggung jawab. Jika saja Tuhan mengizinkanku bertemu dengannya sekali lagi, kupastikan gadis sial itu akan membayar semuanya. Jika saja Tuhan mempertemukan kami sekali lagi, aku janji akan membuatnya bertekuk lutut dan mengemis-ngemis maaf. Jika saja……………………. TUNGGU!


Serentak seluruh sarafku menegang. Aku tidak sedang berkhayal kan? Jangan bilang ini halusinasi. Dia…….. disini? Di universitas yang sama denganku? “Kang Sena!” panggil seseorang, membuat gadis itu menoleh. Dan benar! Tidak salah lagi, gadis yang dipanggil ‘Kang Sena’ itu adalah gadis kurang ajar yang kemarin.


Tanpa pikir panjang, aku memaksakan kakiku yang luar biasa nyeri ini berlari. Aku masih dapat mengingat wajah angkuhnya dengan jelas, dan aku yakin perempuan itu adalah dia. “HEH!” Aku menarik lengannya, membuat gadis itu otomatis berbalik. Dan begitu mata kami bertemu, air mukanya langsung berubah. Kaku. Jadi dia mengingatku? Baguslah!


“KAU!”
“Ne.. aku… wae? kau takut?”
“apa yang harus kutakuti?”
“tck… kau tahu seberapa besar kerugian yang kualami karenamu? Sekarang lebih baik kau tanggung jawab!”


“tanggung jawab? Untuk apa? mobilku juga lecet kok, kurasa kita impas”
“impas katamu? Hei… motorku rusak, tubuhku luka, aku tak bisa berjalan dengan benar dan…”
“hentikan! Jika aku benar-benar salah, aku akan ganti rugi. Tapi ini…, bukankah kau yang tidak hati-hati?” gadis itu tetap bersikeras mengatakan bahwa ini bukan salahnya. Lantas mengambil langkah memutar dan melanjutkan jalannya.  CUKUP! Gadis ini benar-benar keterlaluan! Melihat sikapnya yang seperti itu, jelas saja aku tak lagi bisa bersabar.


Dengan kasar, aku meraih kedua bahu gadis itu dan membalik tubuhnya secara paksa, lantas kuhempas sampai menghantam tembok. Rahangku mengeras, aku menatap gadis itu dengan tatapan sadis.


“How Dare You!!” teriaknya dengan wajah syok berat.
“aku tak akan melepasmu sampai kau mau bertanggung jawab”
“apa maumu?” gadis itu balik menatapku dengan tajam. Jelas tak terima.
“pertama, kau harus membayar penuh perbaikan motornya. Kedua, aku tak mau tahu kau harus membelikan semua obat luka yang kubutuhkan, dan ketiga………..” aku mengambil jeda dan menatap gadis itu sambil menyeringai. “katakan ‘aku minta maaf’. Mudah kan?”


Gadis itu terlihat tak habis pikir. Ia menundukkan kepalanya, lalu tanpa peringatan………. BUK!!! Ia menendang perutku dengan lututnya. Tidak bisa disebut keras. Tapi tendangan itu sudah cukup membuatnya lolos dan membuatku mual. Aku memegangi perutku sambil meringis, sementara gadis itu menjulurkan lidahnya dan berlari menjauh. Sial!


Sena POV


Ketukan jariku terhenti, aku menoleh dan tersenyum menyambut namja yang langsung mengambil posisi duduk disampingku. Jang Ji Hoo, namjachinguku sejak sebulan terakhir. “kudengar kau diganggu seorang namja pagi ini” ujarnya.


Aku terdiam sebentar, menatapnya lemah dan mengangguk.
“ne.. dia minta ganti rugi”
“siapa namanya? Perlukah kuberi pelajaran?”
“aku tak mengenalnya”
“aku bisa cari tahu. Bagaimana?”
“terserah kau saja”


**********


Sena berlari kencang melewati selasar gedung universitasnya. ‘Sena~ya……. Ji Hoo memukuli seorang pria’ kalimat itulah yang membuatnya begini. Ia menyesal sudah mengatakan ‘terserah kau saja’ sebagai jawaban. Tck…. Harusnya gadis itu menolak sejak awal.


Langkah Sena terhenti. “CUKUP” teriaknya. Namun Ji Hoo tak mendengarkan. Gadis itu lantas berlari semakin dekat  dan menarik-narik lengan Ji Hoo.


“Dasar tak tahu diri! Kudengar kau bisa masuk universitas ini hanya karena beasiswa kan?” Minhyuk, pria yang sudah tersungkur lemah itu tak menjawab. Ia sudah menyahuti semua perkataan Ji Hoo sebelumnya, membuat pria itu kehilangan kesabaran dan memukulinya sampai begini.


“wae? kenapa sekarang kau malah diam?” ujarnya sambil menendang kepala Minhyuk, membuat pria yang hendak bangkit itu kembali jatuh.


“Oppa! hentikan! Ayo pergi dari sini” ucap Sena tak tahan. Gadis itu berusaha menghilangkan rasa bersalah yang memenuhi hatinya, tapi saat ia melihat Minhyuk tersungkur kesakitan, dadanya malah semakin sesak. Ji Hoo menarik lengan gadis itu dan berjalan meninggalkan lapangan.


Saat berjalan, Sena tak dapat menahan kepalanya untuk menoleh. Dan saat itulah matanya bertemu dengan mata Minhyuk. Namja itu tengah menyeka darah di bibirnya, terlihat tak berdaya. Sena semakin terenyuh. Dengan tatapannya, gadis itu mencoba menyampaikan permintaan maaf, tapi Minhyuk malah membuang muka.


**********


Sena yang merasa sangat bersalah akhirnya memutuskan untuk berbohong pada Ji Hoo. Gadis itu bilang bahwa ia memiliki urusan lain dan harus pergi saat itu juga. Ji Hoo percaya begitu saja dan pulang lebih dulu. Setelah terlepas dari pria itu, Sena segera membeli beberapa obat luka dan mencari-cari Minhyuk.


Minhyuk POV


Gedung universitas semakin sepi. Dan aku masih tak tahu bagaimana caranya pulang. Masih merintih sakit sambil bersandar lemah di pinggir lapangan. Hingga tiba-tiba saja sepasang kaki menghalangi pandanganku. Aku mendongak, mencari tahu pemilik kaki itu dan…


“Kuharap ini belum terlalu terlambat untuk minta maaf” ujarnya sambil mengulurkan sebuah bungkusan. Aku menatap gadis itu dengan sinis, lantas membuang muka. “pergilah!”


Bukannya pergi, gadis itu malah berjongkok di hadapanku. Ia mengeluarkan kapas dan meneteskan obat merah di atasnya, kemudian mengulurkannya ke sudut mataku yang berdarah. Dengan cepat aku menghindar. Menatapnya dengan tatapan terganggu.


“aku tak membutuhkan bantuanmu” gadis itu terlihat tak peduli dan tetap mengusapkan kapasnya di wajahku. Aku langsung meraih tangannya, membuat gadis itu kontan menatapku. “kubilang aku tak butuh bantuanmu. Pergilah!”


Ia mendesah, “oke…. kau mungkin tak membutuhkanku, tapi aku yakin kau membutuhkan ini” ia mendekatkan bungkusan hitamnya padaku, lalu berdiri.


“sekali lagi aku minta maaf, aku tak tahu Ji Hoo akan berbuat sejauh itu padamu”
Setelah mengatakan itu, ia bergegas mengenakan tasnya dan pergi meninggalkanku. Tunggu…… meninggalkanku? Tck… kalimat macam apa itu? itu bukan dirimu Lee Minhyuk!! Itu terdengar seperti kau laki-laki lemah! Tak seharusnya kau mengatakan itu!! bahkan terhadap gadis yang telah membuat hidupmu menjadi runyam!


Author POV


Minhyuk membungkukkan tubuhnya singkat sebelum kembali menuju dapur tempatnya bekerja. Ya tentunya dengan berbagai macam luka yang bersarang di wajahnya. Mengingat luka-luka itu membuat laki-laki tampan tersebut bagaikan tersengat aliran bertekanan tinggi. Kesal, marah, tak terima, semua berbaur menjadi satu dan membentuk lingkaran dendam di hatinya. Namun bukan Minhyuk jika ia juga melakukan hal bodoh seperti yang Ji Hoo lakukan padanya. Dan menurutnya, waktunya terlalu amat berharga untuk seorang Jang Ji Hoo.


Kembali kepada apa yang tengah laki-laki itu lakukan, ia mengambil satu buah mangkuk berisikan sup jagung dan juga segelas jus jeruk dan membawanya keluar dari dapur menuju meja bernomorkan 5 di atasnya. Namun kemunculan seseorang berhasil membuat langkahnya terhenti dan hampir membuat ia menabrak atasannya yang ternyata tengah berjalan ke arahnya.


“ah mian sajangnim………” ucapnya sembari membungkuk.
Wanita itu mengangguk singkat. “lebih baik kau segera antarkan makanan itu sebelum pelanggan kita menunggu” perintah wanita itu dengan tangan yang ia lipat di depan dada.


Minhyuk mengangguk. Kemudian ia segera bergegas mengantar makanan yang dibawanya.
“untuk apa gadis itu ada disini?” batinnya.


Hari telah larut dan cafe telah ditutup sejak beberapa saat yang lalu. Sementara pelayan-pelayan yang lain telah bersiap-siap untuk kembali ke rumah masing-masing, Minhyuk masih disibukkan dengan beberapa kantong hitam besar dimana sisa-sisa olahan makanan dibuang. Ia membawa kantong-kantong itu menuju tempat pembuangan sampah yang berada di belakang cafe.


Setelah membersihkan kantong-kantong dengan bau menyengat yang  dapat mengganggu pernapasan, laki-laki itu segera kembali ke dalam menuju ruang karyawan. Ia membuka lokernya dan kemudian mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian miliknya. Namun wajah gadis yang hampir membuat ia menabrak atasannya kembali muncul di pikirannya. Membuat berbagai macam pertanyaan akan gadis itu kini hadir di benaknya.


**********


Mentari baru saja bangkit dan menyinarkan sinarnya ke seluruh seluk bumi. Burung-burung baru akan memperdengarkan suara merdu mereka kepada khalayak ramai. Namun hal itu tak membuat Minhyuk masih berada di ranjangnya. Karena dalam kenyataannya laki-laki itu telah mengenakan tas sekolahnya dan bersiap untuk berangkat menuju tempat dimana ia akan menuntut ilmu.


Ia meraih jaketnya dan segera berangkat keluar menuju tempat pemberhentian bus. Tak berapa lama kendaraan besar itu datang, dan Minhyuk segera masuk mencari tempat terbaik guna mengulang kembali apa yang telah ia pelajari sebelumnya. Ya.. namja itu memang tipe mahasiswa giat yang tak suka menyia-nyiakan waktu.


**********


Sena POV


Bukankah itu pria yang kemarin? maksudku Lee Minhyuk. Tanpa pikir panjang, aku segera menghampirinya. “apa kakimu masih sakit?” pria itu mengernyit aneh mendengar pertanyaanku. Oh.. benar. Ada apa denganku?


“kau cuma mau menanyakan itu?” tanyanya aneh.
“ti…………… dak” ujarku, mungkin terlihat sangat bodoh.
“kalau begitu apa?” aku masih tak tahu harus melakukan apa. Dan masih tak mengerti kenapa aku menghampirinya. Entahlah, tapi sesuatu dalam diriku menyuruhku begitu.


“kuhitung sampai tiga, jika kau tak bicara juga, aku akan pergi! Satu…………….. dua……………”
“AKU AKAN BERTANGGUNG JAWAB” Semua orang berhenti dan menoleh pada kami, padaku lebih tepatnya. Namja itu terkejut menatapku, tapi aku bahkan lebih terkejut dari itu. Dan sedetik selanjutnya, ia tertawa geli.


“kau tahu? kata ‘tanggung jawab’ terdengar terlalu…………………” namja itu memutar matanya, memilah kata yang tepat.


“ara… ara… ara… bagaimana kalau kuralat? Aku akan ganti rugi, eotte?”


Author POV


Minhyuk diam. Ia mengamati Sena baik-baik, seolah sedang menilai gadis itu. “kau yakin?” tanyanya dengan suara tenang. Minhyuk terlihat sangat serius, ia seperti tak yakin dengan Sena dan hal itu jelas membuat gadis itu jengkel bukan main.


Sena menghembuskan napasnya kasar, kemudian menatap Minhyuk dengan tatapan terganggu. “aku tidak pernah seyakin ini tuan Lee. Jadi cepat katakan apa yang harus kulakukan sebelum aku berubah pikiran” ucap Sena.


Untuk sejenak Minhyuk kembali berpikir, hingga kemudian mengangguk pelan. “Baiklah kalau begitu. Besok datang ke kafe tempat kubekerja. Ingat! Datang jam 10, tidak ada terlambat atau alasan lainnya” Minhyuk berbalik, pria itu langsung meninggalkan Sena begitu ia menyelesaikan ucapannya. Dengan langkahnya yang menyedihkan Minhyuk pergi, tak memperdulikan Sena yang masih terkejut. Aku? bekerja di kafe? What the…..


Sena POV


Aku tidak mengerti kenapa aku harus melakukan aksi ganti rugi ini. Bisa saja kan aku mengabaikan kejadian waktu itu dan bersikap biasa. Lagipula, walau berada di satu kampus, aku jarang bertemu dengannya. Tapi kenapa? Kurasa ini karena perbuatan Ji Hoo oppa waktu itu. Demi Tuhan aku tidak bisa mengenyahkan rasa bersalah begitu mengingat kondisinya yang mengenaskan. Ia sudah dalam keadaan yang menyedihkan dengan luka di tangan dan kakinya sebelum Ji Hoo oppa menghajarnya. Jadi bisa bayangkan setragis apa kondisinya saat ini.


Seorang pria berkemeja putih mendatangiku. Ia menyambutku begitu aku berada di dalam kafe. “anda nona Kang Sena?” tanya pria itu. Aku mengangguk cepat,  “kalau begitu mari ikuti saya” ia mempersilakan aku jalan terlebih dulu.


Ia menuntunku memasuki ruang dalam kafe yang masih sepi dan terlihat sangat rapi. Aku mengedarkan pandangan. Dimana tuan-babak-belur itu?


“silahkan nona” suara pria tadi menyadarkanku. Ia mengarahkan tangannya ke arah toilet. “ini baju kerjamu. Kau bisa menggantinya disana” jelasnya sambil memberiku seragam kerja yang masih terlipat rapi. Aku mengangguk kemudian bergegas ke toilet.


**********


Minhyuk POV


“heh… Lee Minhyuk!” ucap seseorang, kontan membuatku menoleh. Dan…  Kang Sena? dia benar-benar datang?


“kau? kukira gadis sepertimu tak akan memenuhi janji” cibirku.
“tck…. Aku bukan gadis seperti itu! Sekarang, apa yang harus kulakukan?”
Aku menyedekapkan tangan dan menatapnya serius, “sama seperti pelayan yang lain. Jika ada pelanggan yang datang, tanyakan pesanannya dengan sopan! Kau juga harus mengantar makanan dan mengerjakan beberapa tugas lain di dapur”


“Cuma itu?” aku mengangguk. “lalu, berapa lama aku harus bekerja disini?”
“sampai kakiku sembuh total”
“apa? tapi tidak lama kan?”
“tergantung kakiku”
“bagaimana bisa begitu? aku harus membayar perbaikan motor dan bekerja disini dalam kurun waktu yang tidak jelas. Ini keterlaluan!!”


“wae? tidak terima? Mau mengadu lagi pada pacarmu?”
“mengadu? Aku tak pernah mengadu padanya! dia tahu segalanya sendi……..YAA!! MINHYUK! BENAR-BENAR TIDAK SOPAN! LEE MINHYUK” Sebelum ucapannya tuntas, aku membalik badan dan pergi. Cih…  tak pernah katanya?


Author POV


Berbagai macam manusia datang silih berganti memenuhi kafe yang berada tak jauh dari pusat perbelanjaan utama di Seoul itu. Mulai dari hanya sekedar menyesap segelas kopi hingga mengisi perut mereka dengan makanan-makanan lezat yang tersedia disana. Ramai….. adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan dalam kafe siang itu.


“cepat antarkan makanan ke meja no. 5!”
“satu mango passion dan satu fetuccini”
“Yak! Mana pesanan untuk meja no. 17? Mereka sudah menunggu lama!”
Dan masih banyak lagi teriakan-teriakan yang memenuhi dapur kafe itu. Hingga jam antik yang berada disana berbunyi untuk yang keempat kalinya, barulah keadaan kafe perlahan mulai berangsur sepi.


“aahh…. Aku lelah” gadis itu melenguh lelah.
“cih dasar anak manja! Baru bekerja seperti itu saja sudah mengeluh!” cibir seorang pria yang baru saja mendudukkan tubuhnya.


“mwo? Apa yang kau katakan? Manja?!”
Pria itu menatap gadis tersebut malas sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya.
“heh~ dengar ya tuan Lee yang terhormat. Aku bukanlah gadis manja!”
Pria itu kembali menatap sosok gadis tersebut dengan pandangan meremehkan, ia bangkit dari duduknya. Berjalan ke hadapan gadis itu yang ternyata juga tengah berdiri dengan tangannya yang terkepal di sisi tubuhnya.


“oh benarkah? Kalau begitu buktikan apa yang kau ucapkan Kang Sena!”
Pria itu pergi. Meninggalkan Sena dan juga kemarahan gadis itu.


**********


Sena merasa sangat lelah. Gadis itu merasa jiwanya begitu lemah, ia butuh waktu istirahat. Sejak tiga hari yang lalu ia bekerja di kafe, dan semenjak itu pula ia merasakan punggungnya yang remuk. Setiap kali ia merebahkan tubuhnya, bunyi regangan tulangnya sampai terdengar. Huh… kalau bukan karena merasa bersalah, ia juga tidak akan berada di kafe itu lagi.


“hei cepat antarkan ini ke meja no. 3!” matanya mengerjap kaget. Ia langsung bergerak cepat mengambil nampan berisi pesanan yang harus ia antar.


Setelah selesai meletakkan semua pesanan meja No. 3, Sena kembali masuk ke dapur. Aroma sedap dari tumisan bumbu rempah-rempah menyambutnya begitu ia sampai di dalam dapur. Ia memerhatikan orang-orang yang tengah serius memasak. Sesekali ia mengangkat alisnya, begitu melihat atraksi api di wajan salah satu koki yang memasak. Ya.. sejauh ini ia hanya tenang menyaksikan hiruk pikuk di sekitarnya, tanpa berinisiatif untuk menawarkan bantuan.


“kau lelah?”
Ia mengangkat kepalanya begitu suara familiar terdengar olehnya. Sena mengulas senyumnya pada Tae Joon yang berdiri di depannya. Tae Joon, si pria tampan yang selalu memperlakukannya dengan baik, tidak seperti Minhyuk yang selalu menyuruhnya untuk melakukan ini dan itu.


“ya lumayan” jawab Sena.
Tae Joon tersenyum singkat, “oh ini untukmu. Kau sudah bekerja dengan baik” ucap pria itu sambil menyodorkan sekaleng kopi krimer.


Tanpa merasa tidak enak, Sena menerima kopi kalengan itu. “gomawo” ucapnya.
“kalau begitu aku kembali bekerja dulu ya” Sena mengangguk, melepas kepergian Tae Joon dengan reaksi tenang.


Sementara ia menikmati kopinya, keadaan di dapur semakin sibuk. Semua orang bolak-balik mengerjakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Ada yang tengah menggoyang wajan besarnya, ada yang sedang mencicipi makanannya, ada juga yang berlarian untuk mengambil piring dan segala perlengkapan alat makan lainnya. Berbeda sekali dengan Sena yang sedang menghabiskan waktu santainya dengan sekaleng kopi di kursi kecil yang terletak di sudut dapur.


Tak berapa lama setelah itu muncul Minhyuk dari balik pintu. Pria itu baru kembali setelah sebelumnya bolak-balik mengantar makanan. Titik peluh menghiasi wajahnya yang tengah serius memperhatikan rekan-rekannya. Walau kondisi tubuhnya tidak sebaik biasanya, meski lebam-lebam serta rasa nyeri masih terasa, Minhyuk tidak pernah lalai dalam pekerjaannya.


Pria muda itu hendak membawa nampan berisi pesanan lengkap yang sudah siap diantar ke meja pelanggan. Kakinya berhenti saat ia hampir sampai di depan pintu keluar. Tidak sengaja matanya menemukan Sena yang tengah duduk santai di dekat lemari penyimpanan bahan makanan.


Ia meradang. Ia langsung menghampiri gadis itu. Apa gadis itu tidak punya otak? Orang-orang sedang sibuk bekerja, sementara ia malah bersantai ria! Ckk… Minhyuk menggeram kesal. Matanya menatap tajam Sena yang menoleh padanya.


“sudah puas bersantai-santainya nona muda?” sindir Minhyuk. Hawa panas di selasar dapur terasa semakin panas begitu Minhyuk datang. Sena menghembuskan napasnya dengan kasar kemudian bangun dari duduknya.


“yang lain sedang sibuk…..” Minhyuk menggeleng tidak percaya, terlebih saat melihat sekaleng kopi yang tergeletak di meja kecil di sebelah kursi yang tadi Sena duduki.


“dan kau masih bisa duduk tenang seperti itu?”
Minhyuk mendecak, memancing Sena yang mulai emosi. “aku hanya beristirahat sebentar! Jangan berlebihan begitu! biar bagaimanapun aku lelah” elak Sena tak mau disalahkan.


“siapa yang berlebihan? Kau yang berlebihan Kang Sena! Semua orang disini juga lelah, tapi mereka tidak sepertimu. Mereka tidak manja!”


“apa kau bilang?” Sena menjerit heboh. Sontak perdebatan yang tadinya tidak menarik perhatian, kini membuat semua orang di dapur menoleh ke arah mereka berdua.


“harusnya aku sudah memperkirakannya dari awal!” Minhyuk melirik ke bawah, ia tahu semua orang tengah memperhatikannya saat ini. “kau hanya anak manja yang bisanya cuma mengeluh” lanjut Minhyuk kemudian pergi meninggalkan Sena yang terdiam.


**********


Sena POV


Huft…. Rasanya ingin mati kalau mengingat aku harus ke kafe setelah kuliah nanti. Aku akui aku baru satu minggu bekerja disana, aku juga sadar kalau aku bukan tipe pekerja yang giat atau bagaimana tapi rasanya ingin sekali berhenti. Aku lelah, aku sudah tidak kuat. Memangnya bekerja sampai malam itu tidak lelah apa? memangnya bolak-balik mengantar pesanan, berpindah dari satu meja ke meja lain itu tidak melelahkan? Tanganku sering sakit karena setiap hari mengangkat banyak piring. Perlu dicatat itu sangat berat.


“kau masih bekerja di tempatnya si pecundang itu?” aku menoleh pada Ji Hoo oppa yang tengah menyesap jus jeruknya.


Seperti biasa beginilah rutinitas seorang gadis yang terikat hubungan dengan seorang pria. Kemana-mana selalu bersama, walau kadang aku juga merasa kurang nyaman dengan sikap protektifnya. Setelah keluar dari ruang sosiologi awalnya aku ingin ke kantin, makan sambil menenangkan diri. Tapi seperti biasa Ji Hoo oppa telah berdiri diluar menunggu, hingga beginilah nasibku saat ini. Duduk berhadapan dengannya, tanpa bisa menikmati makan siangku dengan tenang ia terus menatapku dengan serius, bertanya banyak hal tentang pekerjaanku dan tentunya Minhyuk.


“ya begitulah” jawabku malas.
Sepertinya ia tidak puas dengan jawabanku, terlihat dari bagaimana ekspresi wajahnya sekarang.
“aku tak mengerti kenapa kau mau melakukan hal sebodoh itu? seharusnya biarkan saja. Itu bukan tanggung jawabmu!” suaranya meninggi. Seperti biasa begitulah intonasinya saat pendapatnya berseberangan denganku.


Tak kuhiraukan dirinya yang berulang kali menghela kasar. Aku lelah menjelaskan alasanku padanya. Apa salah kalau aku bersedia melakukan apapun untuk membayar kesalahanku? Lagipula aku hanya harus bekerja, itupun pekerjaan yang biasa.


“kau mulai menyukai si brengsek itu?” tuduhnya sambil menggebrak meja. Kontan aku berdiri. “jangan berteriak-teriak seperti  itu!” pekikku.


“kenapa? Kau merasa tersinggung?” ucapnya.
Aku menghela napas dan menatapnya lelah. “aku tidak menyukainya”
“benarkah?” namja itu menyandarkan badannya dan mengeluarkan ekspresi sinis.
“kau tak mempercayaiku?” tanyaku tak habis pikir. Dia tidak menanggapi.
“Baik. Aku menyukainya. Kau puas sekarang,huh?” aku menjerit, sudah terlampau kesal menghadapi sikapnya yang kekanakan, lantas pergi. Dan pria itu bahkan tak punya inisiatif untuk mengejarku dan minta maaf. Oh.. Bagus! Pria macam apa yang sudah kukencani?


**********


Author POV


Sena sampai di kafe dengan mood yang berantakan. Ia bahkan tak tersenyum saat pelayan lain menyapanya. Minhyuk yang melihat sikap Sena langsung mendecak, ia menghampiri gadis itu dan bersedekap di hadapannya. “heh” baru itu ucapan yang keluar dari mulut Minhyuk, tapi Sena sudah terlanjur pergi. Gadis itu mengabaikannya, ia mengambil seragam kerja dan menghilang di balik pintu ruang ganti. “kenapa lagi gadis itu?” gumam Minhyuk heran. Ia akhirnya memutuskan untuk menunggu Sena dan menanyakan apa yang terjadi.


Pintu terbuka. Minhyuk langsung merubah posisinya dan menghadap Sena. “ada apa denganmu?” ujar Minhyuk tanpa basa-basi.


“apapun yang terjadi padaku, bukan urusanmu” jawab Sena tanpa menatapnya.
“tapi….. ah tidak! kau benar! Untuk apa aku peduli padamu?” Minhyuk memutar langkahnya membelakangi Sena. Namja itu menggigit bibir, menyesali setiap kata yang keluar dari mulutnya.  Sebenarnya bukan itu yang ingin ia katakan, tapi cara Sena menjawab pertanyaannya tadi benar-benar membuat Minhyuk emosi.


**********


Sena POV


Aku membuka apron dan duduk di sudut dapur. “charanda. Kau bisa jadi chef hebat jika lebih sering berlatih” Tae Joon tersenyum dan menyodorkan segelas air. “gomawo” balasku singkat. Tae Joon duduk di sebelahku dan meneguk minumannya.


“sebenarnya apa yang kau tidak bisa? Kau pria, dan bisa memasak sehebat itu? mengagumkan!” Tae Joon tersenyum. Ya.. pria itu memang baru saja mengajariku memasak dengan teknik yang sangat menarik. Ia mengajariku bagaimana caranya membuat api menyembur dari atas wajan.


“YA! Kim Tae Joon! Siapkan motormu, pesanan delivery harus segera diantarkan ke alamat ini” Tae Joon meringis.


“ah.. aku benci melakukan delivery! Pasti diluar panas” keluhnya sambil berdiri.
“Tae Joon!” namja itu menoleh padaku. “Fighting!” ia tersenyum kecil, lalu “yep… fighting”
Sesaat setelah Tae Joon menghilang di balik pintu keluar, seorang perempuan bersedekap di hadapanku. Aku mendongak dan mendapati tatapan sinis seorang Han Yura, manusia menyebalkan yang senang sekali mengancamku ini itu.


“setelah mendekati Minhyuk, sekarang kau juga mau mencari perhatian Tae Joon, huh?” aku tak bereaksi, bahkan tak menatapnya. Ini bukan kali pertama aku menerima perlakuan seperti ini darinya, jadi lebih baik diabaikan saja.


“Heh wanita penggoda! Aku bicara padamu!” Yura berteriak sambil menggebrak meja. Sontak membuatku berdiri, tak terima.


“aku tak pernah mencoba untuk menarik perhatian siapapun, dan siapa yang kau maksud dengan wanita penggoda?”


“Tentu saja kau! perempuan brengsek, tak berguna”
“A-APA KATAMU? BRENGSEK? HYAAAAA” Karena tak tahan, akhirnya tanganku bergerak menjambak rambutnya. Gadis itu tentu saja membalas, ia menarik rambutku tak kalah kuat, bahkan mencoba mencakar wajahku dengan kuku-kukunya yang tajam. Perkelahian kami terus berlanjut hingga…… ”YAA! HENTIKAN!” Minhyuk melerai kami.


“Minhyuk~aa, Dia menyerangku!” Yura, dengan nada tak berdaya yang dibuat-buat, berlindung di balik tubuh Minhyuk. Aku menggeleng tak habis pikir lalu beralih menatap Minhyuk yang tengah balik menatapku tajam. Dia tak mungkin percaya begitu saja kan dengan nenek sihir ini?


“Minhyuk, aku………….”
“kau tak bosan ya membuat kekacauan terus?” Minhyuk membelanya. Aku terdiam, terenyuh dengan caranya bicara dan menatapku. Seolah aku adalah penyebab seluruh kesalahan di muka bumi. Ya Tuhan! Bagaimana bisa ia mempercayai Yura begitu saja? bahkan ia malah menyudutkanku duluan sebelum mendengarku bicara apa-apa. Aku menghembuskan napas pelan, lantas menatap Yura yang tengah tersenyum menang di belakang  Minhyuk. Oh Benar! Aku salah. Semuanya salahku!


**********


Aku mendekati salah satu pelanggan yang baru datang dan membungkuk sopan. “silahkan! Jika sudah siap memesan aku akan…………..”


“sepertinya ini kali pertama aku melihatmu disini” seorang namja berusia kira-kira akhir 30~an menyela ucapanku. Ia mengambil buku menu yang kuberikan dan membukanya.


“ne.. aku pelayan sementara disini. Eung,…. Apa anda sudah siap memesan, tuan?” tanyaku, merujuk pada buku menu yang sudah ia tutup kembali.


“apa kau tak masuk dalam menu?”
“a..apa?” aku tersenyum getir, dan tiba-tiba saja pria itu meraih tanganku.
“oh.. lihat ini! kenapa tanganmu bisa sehalus ini?”
“tuan, maaf. Tolong lepaskan tanganku” bukannya melepas, ahjussi sial itu malah sengaja menarikku mendekat, lantas menyentuh pinggangku seenak jidatnya. Tak terima mendapat pelecehan seperti itu, aku akhirnya mengangkat tanganku dan menamparnya. Membuat semua tatapan dari seluruh penjuru kafe tertuju padaku. Aku tak peduli, bahkan dengan terang-terangan memberikan tatapan tajam berkilat-kilat pada pria itu dan berteriak mengusirnya keluar. Dan tiba-tiba saja sebuah tangan mencengkramku dari belakang. Minhyuk.


“Minhyuk! Dia……. “ PLAAKK.. Belum sempat aku mengadu, pria itu telah menamparku terlebih dulu. Ya Tuhan, Lee Minhyuk!  Dengarkan aku dulu!! Kumohon! Aku merunduk sambil memegangi  pipi, rasanya panas, mataku juga terasa panas. Minhyuk……. Wae? tadi kau membela Yura dan sekarang pun kau tak mau mendengarku? Wae? Kenapa kau memperlakukanku seperti ini?


Tiba-tiba saja seorang wanita berpakaian rapi keluar dari ruangannya. Ia menatapku dan Minhyuk bergantian. “jadi kau membuat onar lagi, Kang Sena?” tanya wanita itu dengan geram. Tubuhku terasa semakin lemas. Kenapa semua orang terus menyalahkanku seperti ini?


“harus berapa kali aku memperingatimu?” Minhyuk bergumam di sebelahku. Ia menghembuskan napas berat dan berlalu. Aku menarik tangannya, membuat pria itu berhenti.


“sepertinya kakimu sudah sembuh, bisakah aku keluar dari tempat ini sekarang?” Saat menanyakan itu, air mataku jatuh. Aku tak sanggup lagi menahannya. Ini terlalu menyakitkan.


“Ne” ia mengangguk singkat, lalu kembali melangkahkan kakinya.


Perlahan, aku melepas apronku dan berjalan lemas ke arah wanita pemilik kafe. “terima kasih sudah menerimaku disini” ujarku sambil menunduk dalam, lantas mengembalikkan apron tersebut padanya. Wanita itu tak bicara, bahkan masih terdiam saat aku  berbalik dan berjalan lurus ke arah pintu keluar. Yura yang kebetulan sedang berjaga di pintu langsung membukakan pintunya dengan wajah yang sangat ceria.


“selamat tinggal” bisik gadis itu. Ia tersenyum lebar dan melambaikan tangannya tepat di hadapanku. Oh.. tentu saja! aku mengerti sebahagia apa dia sekarang.


*********


Author POV


Minhyuk masuk ke dalam dapur sambil memijit keningnya. Ia bisa merasakan rasa aneh di hatinya. Yang benar saja, kenapa harus menamparnya, Lee Minhyuk? Bagaimanapun juga Kang Sena adalah perempuan. Tadi tangannya bergerak di luar kendali, dan saat ia sadar, Sena sudah menunduk sambil memegangi pipinya.


“sena keluar? Dia tidak bekerja lagi?” tanya pelayan lain yang sedang mengintip lewat jendela.
“tck… Minhyuk~aa….. kenapa kau tidak mencegahnya?”
“dia berlaku tidak sopan pada pelanggan. Dia yang salah, jadi untuk apa kucegah?” sahut Minhyuk, berusaha terlihat tidak peduli.


“ei.. changkaman! Apa masalahnya dengan ahjussi itu?” Minhyuk ikut mengintip lewat jendela dan mengangguk.


“ahjussi itu memang sering melecehkan pelayan perempuan disini. Jadi Sena melawannya? Wa… gadis itu sangat berani”


“benarkah?” mendengar penjabaran rekannya, perasaan Minhyuk semakin tidak enak. Ia mengedarkan matanya ke penjuru kafe, namun ternyata Sena sudah benar-benar pergi.


**********


Pagi sudah cukup lama datang. Cicitan-cicitan burung yang selalu memanjakan telinga, telah berganti menjadi suara riuh kendaraan yang berlalu lalang. Membuat telinga seakan ingin pecah ketika puluhan klakson saling bersautan memenuhi jalan.


Sebuah sedan berwarna merah yang dikemudikan seorang gadis, baru saja menyusuri jalan keluar dari salah satu perumahan elit di daerah Gangnam. Dengan headset yang telah terpasang dan menutup pendengarannya dari suara-suara diluar list musik ponselnya. Ia menghela napas begitu lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah. Membuat ia harus menggerakkan kakinya yang sudah sangat malas, untuk menginjak rem.


Malas? Ya…. Gadis itu telah berubah menjadi seekor kucing yang tengah berhibernasi. Mengunci dirinya di dalam kamar, tidak makan, tidak minum, bahkan mengganti pakaian pun tidak. Berbeda dengan beruang yang memakan banyak makanan sebelum saat hibernasinya datang. Yang ia lakukan hanya menenggelamkan wajahnya di bantal dan sesekali suara isakan terdengar.


Lampu lalu lintas telah kembali menjadi hijau. Dengan cepat gadis itu  melajukan mobilnya menembus keramaian jalan. Tak lama, sedan merah itu sudah bergerak di area parkir bangunan universitasnya. Dan lagi-lagi, gadis itu menghela napas. Namun kali ini lebih panjang dan lebih terdengar dari sebelumnya.


Ia turun dari mobilnya. Berjalan memasuki area universitas dengan wajah tertunduk. Rasa lelah membuat kepalanya terasa lebih berat hingga membuat ia tak mampu untuk mengangkatnya. Dan sekaligus menutupi bekas kemerahan di pipinya, akibat….. akibat…. Pentingkah?? Bahkan gadis itu sudah sangat enggan untuk mengingatnya.


Masih dengan alunan musik yang mengalun di telinganya, hanya di telinganya, gadis itu, ah panggil saja dia Sena. Kang Sena. Ia berjalan menuju kelas dimana ia seharusnya berada sejak pagi tadi. Namun, belum sempat tangannya meraih gagang pintu, seseorag telah lebih dulu menariknya pergi.


Ia terkejut. Ya... tentu saja. Di saat tubuhnya terasa lemas dan rasa malas tengah merajainya, tiba-tiba saja seseorang muncul. Mencengkram tanganmu dan menarikmu pergi. Seperti nyawamu tertinggal saat ragamu ditarik.


Sena mengerutkan keningnya. Wajah sosok itu tak terlihat. Yang bisa ia lihat hanya tubuh belakang sosok itu. Ia hendak menepiskan tangan pria yang menariknya. Namun urung karena sosok itu lebih dulu melepaskannya, dan langsung mendorong tubuhnya. Membuat ia langsung terduduk di salah satu kursi yang berada disana. Sena hendak memaki pria itu, namun pria itu telah lebih dulu pergi meninggalkannya.


“ruang kesehatan?” gumam Sena saat ia baru menyadari tempat apa itu.
Sena hendak bangkit dari duduknya. Namun lagi-lagi tangan pria itu mendorong tubuhnya, membuat ia kembali terduduk.


“aaa…” ia merintih begitu sesuatu mendarat di pipinya. Memberikan sensasi dingin dan pedih secara bersamaan. Sementara itu, pria tadi terus saja menyusuri wajah Sena dengan kapas putih yang telah ia lumuti alkohol.


“apa yang kau lakukan?” Desis Sena tertahan. Ia hendak memaki pria itu, namun rasa pedih di wajahnya membuat ia tak bisa melakukannya.


Sena memicingkan matanya. Tetapi pria itu tetap saja tak menggubrisnya. Ia malah terus menggerakkan tangannya, menyentuh pipi Sena dengan kapas yang ia pegang.


“aku bertanya padamu! Apa yang kau lakukan?!” ulang Sena lagi dengan nada suara yang mulai meninggi.


“apakah kau tidak bisa melihat apa yang sedang aku lakukan?”
Bukannya menjawab, pria itu malah balik bertanya. Dan hal itu kembali menambah pundi-pundi amarah Sena yang telah ia coba redam. Dan dengan sekali gerakan, Sena menepiskan tangan pria itu. Beranjak dari duduknya dan menatap pria itu sengit.


“aku tak butuh bantuanmu!!!”
Ia memutar tubuhnya, hendak pergi namun pria itu menahan pergerakannya. “apa lagi?!!” tanyanya. Ia menatap pria itu jengah.


“duduk dan diamlah!” pria itu menarik Sena. Membuat gadis itu kembali duduk dengan wajahnya yang sudah mengeras. Ya.. Sena tengah menahan amarahnya.


Pria itu kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Ia mengeluarkan obat merah dari dalam kotak. Sena yang melihat itu, mengepalkan tangannya. Oh… melihat wajah pria itu membuat ia ingin mencakar habis wajahnya. Dingin, dan tak berdosa. Oh ayolah… Semua orang juga sudah tahu dari mana asal luka di wajahnya itu.


“selesai” ucap pria itu. Ia merapikan seluruh perlengkapan yang tadi digunakannya.
Pria itu bangkit, hendak meletakkan kembali kotak yang ia gunakan. Namun tak jadi dilakukan karena tangannya bergerak meraih tangan Sena.


“apa lagi??! kau telah selesai bukan, jadi sekarang kau tak berhak untuk menahanku?!!” Sena mencoba melepaskan tangan pria itu dari tangannya. Namun sayangnya, tenaga pria itu lebih besar dibanding dirinya. Semua yang ia lakukan tak membuahkan hasil apapun.


“bisakah kau diam disini sampai aku mengizinkanmu pergi!”
“nde? Apa yang kau katakan? Hei Lee Minhyuk-ssi, siapa dirimu!? Apa hakmu untuk memerintahku !?” geram Sena.


Ia menepiskan tangan pria itu. Berjalan pergi dan membiarkan pundaknya menabrak tubuh sang pria. Sena berjalan menuju area parkir. Melupakan mata kuliah yang seharusnya ia hadiri.


**********


Kelas baru saja berakhir. Namun keributan sudah terdengar di seluruh penjuru universitas. Tak terkecuali kelas yang baru saja ditinggal oleh seorang pria bertubuh tambun dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Panggil saja pria iti Shin-saem. Guru dengan pembawaan menyeramkan yang akan selalu menciptakan keadaan mencekam di setiap kelas yang diajarinya.


Minhyuk, ya.. pria itu kini tengah merapikan seluruh barang-barangnya ke dalam tas. Setelah mencatat beberapa point yang dituliskan oleh Shin seosaengnim, pria itu dengan cepat merapikannya. Ia kemudian berlari meninggalkan kelas, menuju cafeteria. Bukan untuk mengisi perutnya, tetapi mencari seorang gadis yang memenuhi pikirannya selama tiga hari ini. Dan tiga hari, selama itu pula ia mencari keberadaan gadis itu namun tak pernah membuahkan hasil apapun. Gadis itu tak dapat ia temukan dimanapun  di bangunan universitasnya.


“kemana dia? Ini sudah hari ketiga?!!” Minhyuk mengacak rambutnya frustasi.
“apakah dia sakit? Atau…….” Kini pikiran pria itu tengah ditumbuhi dengan berbagai spekulasi yang membuat ia merasa tak nyaman sendiri. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia membasuh mukanya beberapa kali. Mencoba menyegarkan pikirannya yang terasa panas.


“ada apa denganku? Kenapa aku menjadi seperti ini??” ia menatap pantulan dirinya di cermin. Mengamati raut wajahnya yang terlihat…. Sungguh wajahnya kini tak dapat dideskripsikan.


“apa yang aku lakukan? Kenapa aku memikirkan gadis manja itu???” ia kembali mengacak rambutnya. Benar-benar merasa frustasi akan dirinya sendiri.


**********


Seminggu telah berlalu. Namun hingga saat itu, Minhyuk belum juga bisa menemukan keberadaan gadis itu. Ya.. Kang Sena. Gadis yang tanpa sadar ia berikan tanda pada wajahnya beberapa hari yang lalu.


Kelas baru saja berakhir, namun Minhyuk sudah berada di koridor. Berjalan menuju area parkir dimana motornya terparkir. Namun sebuah pemandangan berhasil membuat langkahnya terhenti. Sekelompok orang tengah berdiri tepat di depan motornya. Mengerubungi motornya dengan sesekali melayangkan kaki mereka pada badan motor itu. Melihat itu, dengan cepat ia berlari menuju motornya. Menyingkirkan sosok-sosok tersebut. Namun belum sempat ia melakukannya, seseorang dari belakang telah lebih dulu menariknya hingga membuat tubuhnya mendarat di atas kerasnya aspal.


Minhyuk mengaduh. Dengan memperhatikan setiap orang yang tengah mengerubunginya, ia mencoba bangkit. Namun sebuah tendangan keras pada pundaknya berhasil membuat tangannya yang ia gunakan sebagai penompang melemah. Dan hal itu kembali membuat tubuh pria itu berada di atas aspal. Mendapatkan satu kali tendangan tak membuat pria itu menyerahkan begitu saja tubuhnya kepada orang-orang tersebut. Dengan sedikit rasa sakit yang mulai menjalar di area tangannya, pria itu masih mencoba untuk bangkit. Namun lagi-lagi, untuk kedua kalinya sebuah tendangan berhasil mengenai tubuh pria itu dengan baik. Membuat erangan kesakitan lolos begitu saja dari mulutnya.


“itu untuk apa yang telah kau lakukan pada wajah Sena!” ucap sosok yang menendang tubuh Minhyuk, dan juga yang membuat tubuh pria itu berada di atas aspal.


Dan setelah itu, Minhyuk berkali-kali mendapatkan tendangan dari orang-orang yang mengerubunginya. Orang-orang yang diketahui sebagai teman-teman Jang Ji Hoo, kekasih Sena. Jumlah yang tak sebanding membuat Minhyuk bagaikan sebongkah daging yang dimasukkan ke dalam kolam piranha. Tak berdaya dengan tubuh yang dipenuhi dengan luka.


Orang-orang itu masih terus saja menendangi tubuh Minhyuk, bagaikan tubuh pria itu sebuah bantal yang tak akan merasakan sakit walaupun tubuh itu ditendang, dipukul, bahkan hingga ditusuk sekalipun. Mereka bagaikan pembunuh berdarah dingin yang tak akan berhenti sampai sang korban menghembuskan napas terakhirnya. Namun semua itu berakhir saat tiba-tiba saja dua orang gadis muncul dan menghentikan pengroyokan tersebut.


“apa yang kalian lakukan?! Apakah kalian sudah gila?!!” sungut salah satu gadis.
“Rae Ah~aa, tolong bawa dia pergi” sambung gadis itu kepada temannya.
Mendengar hal tersebut, gadis bernama Rae Ah itu langsung membantu Minhyuk berdiri, dan membopong tubuh pria itu meninggalkan area parkir yang dipenuhi mahasiswa-mahasiswa lain yang menonton pengroyokan tersebut. Sementara gadis yang menghentikan adegan kekerasan itu dengan geram menarik pergi seorang pria yang ia yakini sebagai dalang dari semuanya.


“oppa! sebenarnya apa yang oppa pikirkan? Ini urusanku. Oppa tak berhak mencampurinya!”
“oppa melakukan ini karena pria tak tahu diri itu memang pantas mendapatkannya. Bisa-bisanya ia menamparmu padahal pengunjung sialan itu yang salah!”


Sena menghela napasnya. Ia telah memperkirakan  bahwa hal seperti itu akan terjadi. “ini hanya salah paham. Ia..”


“jadi kau membelanya? Ya Kang Sena! Aku ini kekasihmu, bukan pria miskin itu! jadi se….”
Sena melangkah mundur. Saat itu, saat dimana ada sesuatu yang menghantam perasaannya hingga membuat ia tak mampu untuk berkedip. Saat dimana napasnya menjadi tak teratur hingga membuat ia bagaikan kehabisan oksigen untuk bernapas. Melihat perubahan yang terjadi pada Sena, Ji Hoo menghentikan ucapannya. Ia menyadari kesalahan apa yang baru saja diperbuatnya. Dengan gerakan cepat, pria itu menarik tubuh Sena ke dalam dekapannya  namun gagal karena Sena yang telah lebih dulu membuat jarak di antara mereka.


“mian.. oppa tak..”
“cukup. Sudah cukup! Aku tak mau mendengar penjelasan apapun lagi dari oppa. Aku sudah mengerti. Oppa tak akan pernah bisa berubah. Dan sampai kapanpun oppa tak akan pernah bisa menepati janji oppa. Jadi lebih baik, kita akhiri saja hubungan ini!” ucap Sena. Suaranya terdengar bergetar dan genangan sudah mulai muncul di pelupuk matanya, namun nampaknya gadis itu menahan mati-matian agar genangan itu tidak tumpah dan membasahi pipinya.


Sena memutar tubuhnya. Hendak pergi namun tertahan karena sosok Ji Hoo yang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang. Sena sempat tersentak, namun gadis itu buru-buru melepaskan pelukan pria itu dan berlari pergi meninggalkan Ji Hoo yang terus saja memanggil namanya.


Saat itu hanya ketenangan yang ia butuhkan. Bentakan itu.. bentakan yang baru saja dilontarkan Ji Hoo benar-benar memberikan tamparan besar atas dirinya. Tamparan yang berhasil membuka ingatan menyakitkan yang sudah ia kubur dalam-dalam. Ingatan masa lalu yang membuatnya menjadi seorang Kang Sena yang sekarang. Kang Sena yang manja dan egois.


*********


Suara ketukan berhasil menyadarkan gadis yang tengah terbaring di atas ranjang dari istirahat singkatnya. Gadis itu mengerang pelan, dan kemudian mengusap matanya sebelum bangkit dari ranjang menuju pintu.


“aku tak lapar. Aku tak ingin makan” ucap Sena begitu ia membuka pintu kamar dan mendapati Song ahjumma –kepala asisten rumah tangga- tengah berdiri disana.


“maaf sebelumnya nona Sena, tetapi di bawah ada teman yang mencari nona”
Masih dengan setengah mengantuk, Sena kembali bertanya pada Song ahjumma. “siapa ahjumma?”
“ahjumma tidak tahu, dia hanya mengatakan teman satu universitas nona Sena. Dan dia seorang laki-laki”


Mendengar kata laki-laki, gadis itu membulatkan matanya. Ia mencoba mengingat-ingat siapa teman laki-lakinya yang mengetahui dimana ia tinggal. Dan satu-satunya laki-laki yang tahu hanyalah Jang Ji Hoo. Namun tak mungkin pria itu yang datang, karena Sena tahu bagaimana watak pria itu.


“ck.. kalau begitu terima kasih. Aku akan segera turun”
Sena kembali menutup pintu kamarnya dan segera beralih menuju kamar mandi guna membasuh wajahnya. Setelah merasa lebih segar, barulah gadis itu beranjak meninggalkan kamarnya menuju ruang tamu yang berada di lantai satu. Namun langkahnya terhenti begitu melihat wajah sosok itu dari pantulan pada kaca lemari.


“Neo! Ba- bagaimana kau bisa disini?!” tanya Sena terkejut. Matanya membulat dan tangannya terangkat menunjuk sosok itu.


“aku meminta Rae Ah memberikan alamatmu”
“oh..” balas Sena, ia berjalan menuju sofa, mendudukkan tubuhnya pada sofa yang berhadapan dengan sofa yang sosok itu duduki.


“untuk apa kau datang?” tanya Sena. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap sosok itu dingin.


“em… aku, aku ingin meminta maaf atas kejadian di kafe tempo hari”
“ya.. kumaafkan. Sudah? Itu saja?”
“Tidak! Tidak! aku benar-benar minta maaf. Saat itu aku sedang sangat emosi dan semua terjadi begitu saja”


“Ne Lee Minhyuk-ssi! Kumaafkan. Sekarang kau mau bicara apa lagi? Kalau tidak ada, kau tahu pintu keluarnya kan?” Ujar Sena yang langsung berdiri, kontan membuat lawan bicaranya ikut berdiri.


“kau tak terlihat seperti sudah memaafkanku” kali ini Minhyuk bicara dengan tegas. Sena menyedekapkan tangan dan menatap pria di hadapannya dengan jengah.


“lalu sekarang apa maumu?” Minhyuk tak menjawab. Ia mengalihkan tatapannya dari wajah Sena yang terlihat sangat muak, lalu menatap gadis itu lagi dengan ekspresi memohon.


“Kau tahu? saat melihatmu keluar dari restoran,  aku merasa sangat bersalah”
“aku tak tertarik mendengar ceritamu. Dan aku juga tak peduli pada apapun yang kau rasakan”
“oh ya? Tak peduli? Lalu kenapa kemarin kau menghentikan Ji Hoo saat ia memukulku?” Minhyuk menatapnya dengan tajam, membuat Sena yang sejak tadi terus bersikap dingin menjadi tak berkutik. “kau peduli padaku. Hanya saja kau tak mau mengakuinya”


“aku hanya….. “ Sena memutus ucapannya sendiri, kehilangan kata. “ah! Sudahlah! Lebih baik kau pulang sekarang juga” gadis itu mendorong Minhyuk sampai ke pintu keluar. Namun Minhyuk menahan kakinya dan berbalik menghadap Sena.


“Kang Sena! Bagaimana kalau aku menyukaimu?”

BRAK!


Karena terkejut dengan pengakuan Minhyuk yang terlalu mendadak, secara refleks Sena menutup pintunya hingga berdebam keras. Lantas bersender membelakangi pintu itu sambil memegangi dadanya.



 ****





Malam itu, entah mengapa langit begitu gelap. Terlalu kelam tanpa hiasan apapun yang biasa mempercantik dirinya. Tak ada satupun bintang di sana. Tak tahu mengapa, tapi yang jelas keadaan di luar sama gelapnya dengan keadaan kamar seorang gadis berparas cantik dengan berbagai macam benda-benda elektronik berlabel buah apel yang menempel di bagian belakangnya.

Gadis itu bangkit dari ranjangnya. Berjalan menuju meja dimana buku-buku bergambar diagram miliknya berada, ia kemudian menduduki kursi di depannya. Ia menghela napas panjang. Helaannya terdengar begitu lelah. Ia meraih ponselnya, membuka kunci dan mulai memainkan jarinya pada layar benda tersebut.

“ Apakah yang kau katakan itu benar?” gadis itu menggumam pada sebuah gambar dengan seorang laki-laki yang tengah membersihkan meja.

“ Akkkhhh…Kang Sena!! APA YANG KAU PIKIRKAN?” teriak gadis itu. Ia mengacak rambutnya. Ia benar-benar frustasi dengan seluruh perasaan yang tengah bersemayam di hatinya.

****


Ia tidak tahu kenapa ia mesti merasa panik begitu matanya menemukan sosok Minhyuk yang berkeliaran di sekitarnya. Ia tidak tahu kenapa ia harus menghindari pria itu. Ia tidak tahu kenapa kakinya tak juga lelah melangkah demi menghindar dari seorang Lee Minhyuk.

Ia…benar - benar tidak tahu kenapa jantungnya berdebar tak karuan setiap kali melihat sosok Minhyuk sekalipun itu dari jarak yang sangat jauh. Ia tidak tahu dan tidak ingin mencari tahu. Ia terlalu takut untuk menghadapi kenyataan atas rasa paniknya tiap kali pria itu mendekat, jantungnya berdegup kencang setiap melihatnya. Ia takut…ia takut menghadapi kenyataan bahwa ia memiliki perasaan yang sama dengan yang pria itu miliki. Ia mencintai Lee Minhyuk.

Walau begitu ia tidak ingin mengakui perasaan yang mulai tumbuh seiring dengan jarak yang membentang kian jelas. Ia selalu berusaha untuk mengedepankan akal sehatnya tiap kali desiran itu hadir. Bagaimana mungkin seorang Kang Sena yang cantik dan populer menyukai Lee Minhyuk si pelayan café?.

Sena berusaha untuk membantah perasaannya, bahkan ia langsung mencoret hasil goresan pena pada bukunya. Lagi-lagi ia menulis nama Minhyuk tanpa sadar.

“ Menulis namanya lagi” sena langsung menutup bukunya. Ia berusaha untuk menampakkan wajah tanpa ekspresinya pada Rae Ah yang baru saja menyenggol bahunya.

“ Akuilah Sena..” Ujar Rae Ah. Ia merangkul bahu Sena, tak sedikitpun memberi kesempatan untuk Sena mengelak.

Di lain sisi Sena ingin sekali menyentak tangan Rae Ah kemudian berlari, menjauh dari temannya itu. tapi tidak, ia tidak ingin Rae Ah semakin mencurigainya.

“ Ku sarankan agar kau segera mengakuinya, sebelum semuanya terlambat.” Rae Ah hanya tersenyum singkat sambil mengerlingkan matanya. Ia yakin jika Sena menyimpan rasa istimewa pada pria bernama Lee Minhyuk.

****

Kini Sena mengerti apa yang dimaksud dengan kata terlambat yang pernah Rae Ah ucapkan. Ia kini mengerti dan berharap tak pernah mengerti, tapi sayang hal itu terlalu jelas untuk ia abaikan. Kedekatan Minhyuk dan Jiyoung terlalu jelas untuk ia hindari.

Kedua orang itu bagai sepasang burung kasmaran yang tak bisa lepas dari satu sama lain. Dimanapun ada Minhyuk pasti disitu terlihat sosok lembut Jiyoung. Sungguh ia merasa sangat kesal tiap kali melihat kedua orang itu bersama. Dan sialnya Tuhan seolah ingin membuatnya tersiksa dalam perasaan kesalnya. Entah sengaja atau bagaimana, tapi ia sering melihat dua orang itu bersama.

Ia cemburu. Yah… biar bagaimanapun ia harus mengakui bahwa rasa jengkelnya beralasan. Ia cemburu. Kang Sena cemburu karena Minhyuk terus bersama Jiyoung . Ia cemburu karena Minhyuk bisa tertawa lepas bersama gadis cantik itu. ia cemburu dan berusaha untuk tidak merasakan apapun. Ia sudah berusaha tapi bayangan Minhyuk dan Jiyoung selalu muncul bagai mimpi buruk yang menghantui tidur malamnya.

Seperti ini contohnya. Lagi-lagi Minhyuk dan Jiyoung bersama. Sena menghela nafasnya, berusaha membuang energi negatif dari dalam tubuhnya. Ia berniat untuk memutar langkah. Tentu ia masih sangat waras. Ia tidak ingin berhadapan dengan dua sejoli itu dan menjadi gadis paling menyedihkan.

“ Sena!”

Tapi sayangnya Tuhan memiliki rencana lain. Saat ia hendak berbalik, Minhyuk memanggil namanya. Sena memejamkan mataya, berusaha untuk menekan sensasi aneh yang tengah bergejolak dalam hatinya. Sungguh ini bukan situasi yang baik. Ia tidak mungkin berbalik dan menyapa Minhyuk, tapi ia juga tidak ingin menghindar. Bukankah itu akan terlihat sangat jelas jika ia cemburu?.

“ Kang Sena! Tunggu!” panggil Minhyuk. Pria itu berlari, berusaha agar Sena tak pergi. Bertemu dengan Sena merupakan kesempatan langka dan ia tidak ingin melewatkannya.

Terdengar suara derap langkah yang semakin mendekat dan Sena benci mendengarnya.

“ Sena..”

Sena tidak memiliki pilihan lain selain berbalik menghadap Minhyuk yang sudah berdiri di belakangnya. Rasa tidak nyaman, kaku, canggung langsung mendominasi pertemuan itu. Ia yakin bahkan sangat yakin kalau ekspresi wajahnya saat ini sangat aneh, apalagi setelah matanya bertemu sosok Jiyoung yang tengah mengulas senyum padanya. Astaga…gadis itu manis sekali!.

“ Sena..”

Sena terkesiap dan langsung tersadar dari alam bawah sadarnya. Ia menatap Minhyuk yang terlihat masih terengah dengan napasnya.

Kau pasti bisa Kang Sena!.  Sugesti Sena pada hati kecilnya.

Ia mengubah ekspresi wajahnya. Ia kembali dengan lakonnya sebagai gadis manja yang angkuh. “ Ada Apa Tuan Lee?” tanyanya.

Sena benar – benar mempertahankan sikapnya. Seolah memagari hati rapuhnya di balik wajah angkuh yang coba ia tampilkan.

“ Ada yang ingin ku bicarakan! Kita harus bicara sebentar.” Tukas Minhyuk serius. Ia menatap Sena dengan sungguh-sungguh, berharap gadis itu mau meluangkan sedikit waktunya untuk mendengarkan semua hal yang ingin ia katakan. Ia ingin gadis mau memberinya kesempatan.

“ Maaf Tuan Lee, tapi ku pikir tidak ada yang perlu dibicarakan. Sekali lagi maaf..aku permisi.” Ucap Sena sebelum membalikkan badannya.

Gadis itu beranjak, ia benar-benar tidak ingin memberikan waktunya. Tidak…apapun yang ingin pria itu katakan, ia tidak ingin mendengarnya. Tidak.. ia tidak yakin akan sanggup mendengarnya.

Ia terus melangkah, melangkah secepat yang ia bisa. Ia ingin segera pergi hingga pria itu tak bisa menemukannya, tapi sayangnya Minhyuk sudah berada tak jauh di belakangnya. Pria itu mengejarnya.

“ Sena! Dengarkan aku!”

“ Sena!”

Sena tak lagi bisa menghindar begitu Minhyuk menahan lengannya dan menariknya dengan kuat. Ia tak bisa mengelak, ia hanya bisa meronta dan berharap pria itu mau melepasnya.

“ Dengarkan aku! kenapa kau terus menghindar, huh?” racau Minhyuk kesal. Pria itu benar-benar tak bisa menahan kekesalannya.

“ Lepaskan! Ku bilang aku tidak ingin bicara denganmu!” ronta Sena yang masih berusaha untuk melepaskan diri.

“ Sena! Tenanglah! Ku mohon..” Minhyuk mencoba berkompromi, tapi nampaknya Sena tidak akan mendengarnya.
“ KANG SENA!” kali  ini seluruh pertahanannya runtuh, ia sudah tidak bisa menahannya.

Walau tidak ingin berbuat demikian, tapi nampaknya ia tidak perlu menyesal. Karena suara tingginya memang satu-satunya cara untuk membungkam gadis itu. Gadis itu tak lagi berteriak atau meronta. Gadis itu menghela panjang dengan segenap jiwanya yang lelah, dan lambat-lambat panasnya airmata terasa mulai menumpuk di pelupuk matanya.

“ Sena…maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membentakmu.” Ujar Minhyuk berusaha untuk merengkuh perhatian Sena. Ia sama sekali tidak ingin membuat Sena ketakutan. Ia hanya ingin Sena mendengarnya, mendengar isi hatinya.

“ Sena…” Minhyuk mendekat, memangkas jarak yang memisahkannya dengan gadis di hadapannya.

Tangannya bergerak di udara hingga akhirnya berlabuh di wajah Sena. Ia menangkup wajah itu dan mengelusnya perlahan.

“ Menyingkirlah!” desis Sena. Gadis itu mencoba untuk memberi perlawanan, tapi yang bisa ia lakukan hanyalah melayangkan tangannya ke udara.

“ Sena..”

“ Ku bilang menyingkir! Pergi! Jangan pernah temui aku lagi!”

Sena kembali histeris. Ia kembali meronta dan mencoba untuk melepaskan diri. Namun Minhyuk tak hanya diam, tangannya masih mencengkram lengan Sena.

“ Kenapa kau tidak pergi? Kenapa kau selalu mengganggu hidupku? Kenapa kau selalu mengusik ketenanganku?” racau Sena dengan sisa-sisa tenaganya.

Ia berteriak dan terus berteriak hingga air mata yang dari tadi ia pertahankan merembes, kemudian mengalir deras membasahi wajahnya.


“ Sena maafkan aku…tolong dengarkan aku dulu.” Ujar Minhyuk pelan.

“ Untuk apa? Untuk membuatku kesal? Memangnya apa lagi yang harus ku dengar Lee Minhyuk? APA?” teriak Sena. Gadis itu tak bisa mengendalikan luapan emosinya. Ia benar-benar tidak bisa menahan gejolak amarahnya. Ia mencengkram kerah kaos Minhyuk dan mengguncangnya berulang kali.

“ Sena kau tidak perlu berteriak seperti itu. Tenggorokanmu akan terluka kalau kau terus berteriak seperti itu.”

“ Apa pedulimu, hah? Tidak usah memedulikan aku! Pedulikan saja kekasih barumu itu! Sekarang lepaskan aku!”

Sena kembali meronta, ia berusaha melepas cengkraman Minhyuk.

Tak ada cara lain yang Minhyuk miliki. Ia pun memutuskan untuk menarik gadis itu, membawa gadis itu ke dalam rengkuhannya kemudian memeluknya dengan erat. Hal itu sangat mengejutkan Sena. Ia tidak pernah membayangkan jika Minhyuk akan memeluknya. Ia tidak pernah membayangkan tangan besar itu akan menjaganya, melindunginya dan memberinya ketenangan.

“ Lepaskan aku!” desis Sena.

“ Dia bukan kekasihku. Jika yang kau maksud adalah Jiyoung, ku katakan padamu.. dia bukan kekasihku.” Ujar Minhyuk. Ia meregangkan pelukannya, membiarkan matanya bertemu dengan sepasang mata Sena.

“ Dia bukan kekasihku Sena..percayalah.” tutur Minhyuk lagi. Ia berucap dengan yakin, seyakin kedua matanya yang menatap Sena.

Ia ingin gadis itu meyakini ucapannya, ia ingin Sena mempercayainya, mempercayai isi hatinya.

“ Aku hanya mencintaimu Kang Sena.” Ucapnya dan untuk kesekian kalinya ia berusaha untuk memperlihatkan ketulusannya.

Di lain sisi Sena merasa tubuhnya melemas. Ia merasa seluruh tulang dan persendiannya tak lagi berguna. Ia bisa terjatuh jika saja Minhyuk tidak memegangi kedua sisi tubuhnya. Ia tidak bisa membantah bahwa ucapan Minhyuk barusan mendatangkan sejuta sensasi yang membuatnya melemas. Walau ia berusaha untuk tidak merasakannya, tapi itu terlalu berpangaruh bagi tubuhnya.

“ Sena…aku mencintaimu.” Minhyuk masih menatap Sena dengan serius.

“ Sena aku…”

Minhyuk hampir mati dalam keterkejutannya. Ia hampir saja tak bernapas dalam ketidakpercayaannya. Sena memeluknya.

“ Jangan katakan lagi bodoh!” Racau Sena. Gadis itu mengalungkan kedua tangannya di leher Minhyuk. Ia berusaha untuk menekan sejuta sensasi mendebarkan dengan menenggelamkan wajahnya di bahu Minhyuk.


“ Jangan katakan lagi bodoh! Kau pikir aku tuli? Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku idiot?”

Sena meregangkan pelukannya, ia menatap Minhyuk dengan mata sembab dan wajah yang penuh dengan bekas airmata yang mulai mengering.

“ Kau pikir aku buta?” desisnya.

Ia menggigit bibir bawahnya dan tangannya tak berhenti memukul pelan dada Minhyuk.


“ Kau pikir aku tidak melihat kalau setiap hari kau bersama Jiyoung? Kau pikir aku tidak merasa kesal setiap kali melihat kalian berdua? Kau pikir aku tidak jengkel melihatmu tersenyum padanya? Huh…kau pikir….kau pikir aku tidak menyukaimu, hah?”

“ Aku menyukaimu bodoh! Aku mencintaimu!” pertahanan Sena kembali runtuh, ia langsung bersandar di depan dada pria itu. ia terisak.

Helaan lega terdengar bersamaan dengan sepasang lengan besar melingkupi tubuh Sena. Minhyuk memeluk gadis itu, gadisnya. Ia membiarkan tangannya mengelus punggung Sena.

“ Aku mencintaimu Kang Sena.”

“ Aku juga mencintaimu bodoh!” balas Sena yang masih terisak.

Minhyuk tersenyum senang. Akhirnya…setelah melalui waktu yang cukup lama. Setelah melalui perpisahan yang tidak ia inginkan, akhirnya ia bisa memeluk gadis itu. Akhirnya cinta yang ia miliki terbalas.

“ Mulai dari sekarang kau tidak boleh tersenyum atau tertawa pada Jiyoung atau gadis manapun! Kau hanya boleh memperlihatkannya padaku, mengerti?” Sena memundurkan tubuhnya, menatapnya dengan galak sambil menunjuknya dengan jari telunjuknya.

Minhyuk hanya mengangguk kemudian mengulas senyum indah hingga kedua matanya menyipit. Senyum indah itu terlalu manis, terlalu hebat hingga Sena tidak sanggup melihatnya lagi. Ia yakin ada semburat merah yang mewarnai pipinya dan ia tidak ingin Minhyuk melihatnya.

Ia pun kembali memeluk pria itu. Membiarkan kepalanya bersandar di dada bidang itu. Membiarkan senyum kecilnya bersembunyi di balik tubuh kokoh itu.

“ Bodoh!” umpat Sena tanpa bisa menahan senyumnya.


END

HOAAHHHH….finally!!! Ini ff kelar juga!!!!
Gak nyangka bisa berakhir juga… oke berhubung yg dapet giliran ngetik bagian akhirnya aku, jadi yg kebagian nulis cuap-cuapnya aku deh….

Dan berhubung yg nulis bagian akhirnya aku, jadi aku mau say sorry kepada dua author sesepuh, Kim Dhira sama Salsa. Maaf ya…ini akhirnya jadi begitu…sumpah itu doang yang ada dipikiran gue….ya udahlah masih mending gua bisa mikir…(gak mau disalahin)

Oke…first of all….HAPPY NEW YEAR ALL!!!! Gila…udah tahun baru aja! Padahal kayanya baru kemaren tahun baruan, *yah..maksudnya tahun baru hijriah*. Semoga di tahun baru ini kita semua makin sukses, baik itu authornya, readersnya, atau GIGSent-nya. Pokonya semua harus lebih sukses dan kece dari tahun sebelumnya yah….

Talk about this fic…yah kayak yang mungkin ada di benak kalian. FF ini tuh ff kolaborasi klo bahasa nyanyinya featuring. Klo gak salah ini cukup lama digarapnya dan aku sempet nyangka g bakal dilanjut karena sempet macet karena aku..hehehe.. tapi setelah berikhtiar sekeras mungkin, akhirnya ini ff bisa rampung juga.. walau aku harus nerima banyak omelan, siksaan dan penganiayaan. 

Well…yah ini mungkin ff terunik. Bukan dari segi ceritanya tapi dari cara kita nentuin pemain sampe karakter pemainnya. Sumpah ini konyol…masa kita nentuin cast aja pake acara kocokan arisan!! So…ini THE MOST UNIQUE FF EVER!! Terlepas dari segala fakta yg ada tentang ff ini, aku, kim dhira sama salsa berharap ff ini dapet respon yg baik dari kalian. Entah itu dari segi perhatian atau komentar…yah…moga-moga ada yg ngasih kritik dan saran yah…

Karena hri ini spesial…makanya aku beserta Kim Dhira sama Salsa berharap bisa dapet sesuatu yang lebih baik lagi. Entah itu di bidang FF atau urusan sekolah kita. Doain kita yah semoga sukses di UN terus PTN dan dukung serta ikutin GIGSent terus…

Aku mewakili yang lainnya mungkin mau negasin hal ini lagi. Karena kita udh kelas tiga, pastinya kegiatan kita udh penuh sama ujian, belajar, dan target UN ama PTN..so pasti kita bakal jarang bgt update. Aku gak mau bilang kita bakal hiatus tanpa pubslihan satupun, cuma mungkin yang biasanya satu author mungkin bisa dua kali publish dalam sebulan, nanti bakal satu atau mungkin gak sama sekali. Tapi tenang aja kok…selalu ada jalan menuju roma! Selalu ada jalan untuk publish…

Oke deh…buat readers tercinta…sekali lagi makasih. Bener-bener makasih karena masih ngikutin kita sampe tahun ini… Thanks..


Best Wishes

Kim Dhira, Salsa, GSB

Comments

Post a Comment

Popular Posts