DANDELION: 01
.
.
.
Setelah tertunda seminggu,
akhirnya Aza, Nata, dan sang Bunda bisa merealisasikan keinginan Aza untuk
pergi piknik. Tidak jauh, hanya kebun bunga pinggir kota yang sejuk dan indah.
Sudah lama sekali Aza ingin pergi ke sana bersama dengan keluarganya, tetapi
baru dapat diwujudkan hari ini.
Nata sedang sibuk menyusun
perbekalan mereka ke dalam mobil saat Aza datang bergandengan dengan sang
Bunda.
“Udah semuanya Nat?”
“Hmm..” Ia menutup bagasi
mobilnya setelah memastikan jika barang-barang yang ia susun tidak akan
berpindah tempat.
“Makanannya juga udah di anter
Pak Andre, jadi kita tinggal berangkat aja.”
Aza mengangguk lalu mengajak sang
Bunda untuk masuk ke mobil. Ia membukakan pintu penumpang yang berada di depan
dan mempersilahkan wanita itu untuk masuk. Setelah memastikan sang Bunda sudah
memakai seatbelt dan duduk dengan nyaman, barulah Aza masuk di kursi
belakang diikuti Nata di kursi pengemudi.
“Let’s go!” Seru Aza dengan
mengangkat satu tangannya ke depan seperti seorang super hero.
Selama diperjalanan, Aza tidak
henti menceritkan apa saja yang terjadi di kantornya. Nata juga sesekali
menceritakan tentang pekerjaannya dan juga progres resto mereka.
“Kamu kenapa enggak ngizinin
Bunda masak sih Nat?”
“Bunda udah masakin kita setiap
hari, untuk hari ini aku enggak mau Bunda masak. Bunda istirahat dulu masaknya,
nanti lanjtut lagi kalau kita enggak jalan-jalan.” Jawabnya dengan sebuah
senyum manis.
“Ihh kamu ada-ada aja.”
“Bener kata Nata, Bun. Masakan
Bunda itu masakan terenak, tapi Bunda juga perlu istirahat dari acara masak
memasak. Emang Bunda enggak bosen masak terus buat kita?”
Bunda menepuk lengan Aza yang
menempel di kursinya.
“Enggaklah, Bunda enggak akan
pernah bosen dan capek masak buat kalian. Kalian itu segalanya buat Bunda.”
Wanita itu mengusap tangan Aza
yang bergelayut di kursinya dan lengan Nata yang berada di sampingnya
bergantian.
“Karena cuma ini yang bisa Bunda
lakuin. Sekarang kalian udah punya semuanya. Kalian udah nunjukin kalau kalian
bisa sukses walau dulu harus mengalami kesulitan. Kalian bisa nunjukin kalau
hidup yang sulit akan membaik kalau kita mau berusaha.”
Wanita itu mengusap pipinya yang
tiba-tiba basah karena setetes air mata yang jatuh dari pelupuk mata.
“Bunda bangga sama kalian. Bunda
juga sayang banget sama kalian.”
Aza yang mendengar itu langsung
memeluk sang Bunda dari belakang, sementara Nata menggenggam tangan sang Bunda
yang sedari tadi mengusap lengannya.
“Aku sayang banget sama Bunda.
Makasih ya Bun karena mau bertahan sama aku dan Nata.”
Nata memelankan laju mobilnya
begitu lampu lalu lintas berubah merah. Lalu ia menoleh ke sang Bunda saat kuda
bajanya telah benar-benar berhenti.
“Aku juga sayang sama Bunda.
Bunda bener-bener sosok Ibu yang aku butuhin. Bunda nerima aku dan
memperlakukan aku sama seperti Aza, padahal aku bukan anak Bunda. Bunda yang
ngebantu aku sampe akhirnya aku bisa nerima diri aku lagi. Bunda itu kayak
malaikat, malaikat tanpa sayap yang Tuhan kirim ke aku pas aku hampir aja
nyerah.”
Ia mengusap air mata yang semakin
banyak jatuh dari pelupuk mata wanita di sebelahnya.
“Aku janji untuk ngebahagian
Bunda, karena itu Bunda harus tetep temenin kita. Bunda jangan tinggalin aku
sama Aza karena Bunda segalanya buat kita berdua.”
Nata memeluk singkat sang Bunda
lalu kembali fokus pada kemudinya begitu lampu berubah hijau. Melanjutkan
perjalanan untuk mewujudkan keinginan Aza sekaligus menghabiskan waktu libur
bersama.
Hari itu pun menjadi salah satu
hari membahagian untuk ketiganya. Mereka bisa menikmati waktu bersama.
Berbincang bersama. Tertawa bersama. Terharu bersama. Saling bertukar cerita.
Hingga merangkai angan yang belum bisa mereka wujudkan.
Terlihat biasa saja, tetapi tidak
bagi ketiganya. Setelah perjalanan panjang yang dipenuhi dengan kesedihan, kini
mereka mulai mengisi hidup mereka dengan senyum dan tawa. Walau sakit itu tidak
bisa hilang, tetapi mereka berusaha untuk menutupinya. Saling menguatkan untuk
bisa tetap bersama menghadapi apa pun di esok hari.
“Nanti aku bakal bawa Bunda ke
eropa, kita liat Eiffel, Menara Pisa, Kebun Tulip, pokoknya kita keliling ke
banyak tempat.” Seru Aza ketika mereka telah selesai menikmati makan siang yang
dipesan dari resto milik mereka sendiri.
“Lo enggak ngajak gua?”
Aza menatap jengkel.
“Gua sih ngajak, tapi enggak tau
lo-nya mau atau enggak.”
“Gua pasti mau, kan lo yang
bayar.” Ucap Nata dengan tawa besar yang membuat Aza mencubit perutnya.
“Ihh sakit Za..”
“Salah lo sendiri nyebelin..”
Balasnya lalu kembali menghadap sang Bunda yang tengah memasang senyum lebar.
“Jadi Bunda jaga kesehatan.
Jangan capek-capek supaya kita bisa liburan ke Eropa.”
Sang Bunda menganggukkan kepala
sambil mengusap pipi Aza. Lalu tangannya yang masih bebas meraih tangan Nata
untuk digenggamnya.
“Bunda sayang banget sama kalian. Kalian juga alasan Bunda bisa bertahan.”
- DF -
.png)


Comments
Post a Comment