DANDELION: Aza • 01
Aza capek. Aza lelah. Aza ingi
istirahat. Namun kehadiran dua laki-laki di depannya membuat ia tidak bisa
pulang padahal ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Apa mereka tidak
memiliki hati?
Ah, kenapa ditanyakan?
Kalau mereka punya hati, hidup Aza tidak akan seperti sekarang.
“Ada lagi?”
“Maafin Papah, Papah nyesel.”
Aza menghela kasar. Sejujurnya ia
sudah muak mendengar kata maaf keluar dari mulut pria yang selalu menyebut
dirinya papah. Papah siapa yang ia maksud? Aza sendiri tidak memiliki seorang
papah sejak kecil.
“Apa anda tidak lelah? Sudahi
saja Pak, jangan buang-buang waktu.”
Pria itu menggeleng.
“Enggak, Papah mohon Lea. Papah
tau salah, karena itu Papah mau memperbaiki semuanya. Tolong beri Papah
kesempatan..”
“Kenapa keras kepala banget sih?
Hidup anda sudah bahagia kan, yasudah jalani saja. Kenapa harus menganggu hidup
Bunda dan saya lagi. Memangnya kami apa, habis dibuang dipungut lagi?!” Aza
berucap marah. Kesabaran yang telah ia pupuk habis setiap kali mendengar
permintaan pria setengah baya itu.
“Lea..” Pria itu baru akan
menyentuh tangannya tetapi ditepis lebih dulu oleh Aza yang begitu marah.
Sementara laki-laki muda yang
sedari tadi terus diam, buru-buru berdiri menghadap Aza. Matanya menyorot tajam
seakan ingin menghajarnya andai saja Aza bukanlah seorang perempuan.
“Jaga sikap lo.” Ia mendesis tertahan.
Aza menyunggingkan senyum
mengejeknya. Ia malah mengangkat wajahnya, menunjukkan keangkuhan seperti yang
dilakukan laki-laki yang ia ketahui usianya terpat satu tahun darinya.
“Suruh nyokap lo jaga sikap juga
dong.”
“Jangan bawa-bawa nyokap gua. Ini
urusannya antara lo sama bokap, nyokap enggak ada hubungan apa-apa!”
Aza tertawa. Tawanya membuat
sosok di depannya mengerut bingung. Ia pikir Aza yang merupakan kakaknya itu
gila karena tiba-tiba saja tertawa.
“Lucu lo,” Ada jeda singkat untuk
menghentikan tawanya. “Enggak mungkin nyokap lo enggak ada hubungannya. Soalnya
yang buat hidup gua kayak gini ya nyokap lo, dan juga kebodohan bokap lo.”
Lanjutnya dengan menunjuk pada sosok pria yang mulai meneteskan air matanya.
“Kalau enggak tau apa-apa diem aja.
Jangan keras, nanti lo sendiri yang malu.”
Aza meraih tasnya yang berada di
kursi sebelahnya.
“Hidup sempurna lo ini ada karena
kehancuran hidup orang lain. Jadi jangan bangga Gavin Alexander!”
Aza lalu menoleh pada pria
setengah baya itu.
“Dan untuk anda Tuan Mika, jangan
pernah ganggu saya maupun Bunda saya lagi. Kami sudah bahagia tanpa adanya
anda!”
Setelah mengatakan itu, Aza
bergegas pergi meninggalkan taman kantor yang sepi karena banyak pegawai yang sudah
pulang.
Sementara itu, Gavin mengepalkan
tangannya begitu kuat hingga memarah. Ingin rasanya ia memukul Aza jika ia
tidak ingat siapa Aza. Mika menyentuh pundak anak lelakinya.
“Ingat dia kakak kamu.”
Selalu saja kalimat itu yang Papahnya
ucapkan setiap kali amarah Gavin meletup-letup karena tersulut oleh ucapan Aza.
“Tapi dia udah kurang ajar Pah.”
Mika menghela sembari mengusap
pipinya yang terdapat jejak air mata.
“Papah tau Vin, tapi itu juga
karena Papah dan Mamahmu.”
“Emangnya apa yang udah kalian
lakuin?”
Mika hanya memasang senyum kecil.
Untuk saat ini ia tidak berniat mengatakan apa pun pada Gavin. Tidak ada alasan
khusus, hanya tidak ingin menambah beban pikirannya yang sedang ingin fokus
untuk mendapatkan maaf dari anak perempuannya.
Gavin hanya mampu menghela kasar
saat lagi-lagi tidak ada jawaban yang diberikan sang Papah atas pertanyaannya.
Jujur, ia penasaran. Namun ia tidak tahu harus bagaimana. Apakah bertanya pada
sang Mamah?
Benar!
Jika yang sang Papah ucapkan
benar, itu berarti Mamahnya tau tentang jawaban pertanyaannya. Jika Mamahnya
juga tidak ingin memberitahu ia bisa mencarinya sendiri walau belum tahu harus
mencari dimana. Setidaknya ia harus mencoba terlebih dulu.
.png)









Comments
Post a Comment