DANDELION: Aza • 01

 



"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."


.

.

.


Aza capek. Aza lelah. Aza ingi istirahat. Namun kehadiran dua laki-laki di depannya membuat ia tidak bisa pulang padahal ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Apa mereka tidak memiliki hati?

 

Ah, kenapa ditanyakan? Kalau mereka punya hati, hidup Aza tidak akan seperti sekarang.

 

“Ada lagi?”

 

“Maafin Papah, Papah nyesel.”

 

Aza menghela kasar. Sejujurnya ia sudah muak mendengar kata maaf keluar dari mulut pria yang selalu menyebut dirinya papah. Papah siapa yang ia maksud? Aza sendiri tidak memiliki seorang papah sejak kecil.

 

“Apa anda tidak lelah? Sudahi saja Pak, jangan buang-buang waktu.”

 

Pria itu menggeleng.

 

“Enggak, Papah mohon Lea. Papah tau salah, karena itu Papah mau memperbaiki semuanya. Tolong beri Papah kesempatan..”

 

“Kenapa keras kepala banget sih? Hidup anda sudah bahagia kan, yasudah jalani saja. Kenapa harus menganggu hidup Bunda dan saya lagi. Memangnya kami apa, habis dibuang dipungut lagi?!” Aza berucap marah. Kesabaran yang telah ia pupuk habis setiap kali mendengar permintaan pria setengah baya itu.

 

“Lea..” Pria itu baru akan menyentuh tangannya tetapi ditepis lebih dulu oleh Aza yang begitu marah.

 

Sementara laki-laki muda yang sedari tadi terus diam, buru-buru berdiri menghadap Aza. Matanya menyorot tajam seakan ingin menghajarnya andai saja Aza bukanlah seorang perempuan.

 

“Jaga sikap lo.” Ia mendesis tertahan.

 

Aza menyunggingkan senyum mengejeknya. Ia malah mengangkat wajahnya, menunjukkan keangkuhan seperti yang dilakukan laki-laki yang ia ketahui usianya terpat satu tahun darinya.

 

“Suruh nyokap lo jaga sikap juga dong.”

 

“Jangan bawa-bawa nyokap gua. Ini urusannya antara lo sama bokap, nyokap enggak ada hubungan apa-apa!”

 

Aza tertawa. Tawanya membuat sosok di depannya mengerut bingung. Ia pikir Aza yang merupakan kakaknya itu gila karena tiba-tiba saja tertawa.

 

“Lucu lo,” Ada jeda singkat untuk menghentikan tawanya. “Enggak mungkin nyokap lo enggak ada hubungannya. Soalnya yang buat hidup gua kayak gini ya nyokap lo, dan juga kebodohan bokap lo.” Lanjutnya dengan menunjuk pada sosok pria yang mulai meneteskan air matanya.

 

“Kalau enggak tau apa-apa diem aja. Jangan keras, nanti lo sendiri yang malu.”

 

Aza meraih tasnya yang berada di kursi sebelahnya.

 

“Hidup sempurna lo ini ada karena kehancuran hidup orang lain. Jadi jangan bangga Gavin Alexander!”

 

Aza lalu menoleh pada pria setengah baya itu.

 

“Dan untuk anda Tuan Mika, jangan pernah ganggu saya maupun Bunda saya lagi. Kami sudah bahagia tanpa adanya anda!”

 

Setelah mengatakan itu, Aza bergegas pergi meninggalkan taman kantor yang sepi karena banyak pegawai yang sudah pulang.

 

Sementara itu, Gavin mengepalkan tangannya begitu kuat hingga memarah. Ingin rasanya ia memukul Aza jika ia tidak ingat siapa Aza. Mika menyentuh pundak anak lelakinya.

 

“Ingat dia kakak kamu.”

 

Selalu saja kalimat itu yang Papahnya ucapkan setiap kali amarah Gavin meletup-letup karena tersulut oleh ucapan Aza.

 

“Tapi dia udah kurang ajar Pah.”

 

Mika menghela sembari mengusap pipinya yang terdapat jejak air mata.

 

“Papah tau Vin, tapi itu juga karena Papah dan Mamahmu.”

 

“Emangnya apa yang udah kalian lakuin?”

 

Mika hanya memasang senyum kecil. Untuk saat ini ia tidak berniat mengatakan apa pun pada Gavin. Tidak ada alasan khusus, hanya tidak ingin menambah beban pikirannya yang sedang ingin fokus untuk mendapatkan maaf dari anak perempuannya.

 

Gavin hanya mampu menghela kasar saat lagi-lagi tidak ada jawaban yang diberikan sang Papah atas pertanyaannya. Jujur, ia penasaran. Namun ia tidak tahu harus bagaimana. Apakah bertanya pada sang Mamah?

 

Benar!

 

Jika yang sang Papah ucapkan benar, itu berarti Mamahnya tau tentang jawaban pertanyaannya. Jika Mamahnya juga tidak ingin memberitahu ia bisa mencarinya sendiri walau belum tahu harus mencari dimana. Setidaknya ia harus mencoba terlebih dulu.




T . B . C



Selamat tahun baru semuaaaaa
Semoga di tahun ini kebahagiaan dan hal-hal baik selalu dilimpahkan ke kita yaa

By the way, aku enggak mau lama-lama jadi mau langsung ke intinya aja.

Aku balik lagi hehehe, kali ini dengan judul baru. DANDELION. Bunga yang indah tapi punya makna yang mendalam. Bunga yang jadi gambaran bagaimana Aza dan Nata menjalani kehidupan mereka. Mari kita membersamai perjalanan hidup Aza dan Nata ya bestie..

Tapi sebelum itu, alangkah lebih baiknya kita perkenalan dengan karakter ya ada. Sebelum itu, aku sekalian mau pamit yaa, sampai ketemu di part selanjutnya.

Terima kasih, and see you
babayy..




- DF -

Comments

Popular Posts