DANDELION: Aza • 02
Aza mentap langit malam di taman
kecil di belakang rumahnya. Tidak ada bintang, hanya ada hitam dan gelap yang
menghiasi langit. Keadaan yang sama dengan suasana hati dan kondisi pikirannya
seminggu belakangan ini.
“Tumben di sini malem-malem.”
Aza langsung menoleh begitu
mendengar bariton berat itu. Ia lantas berdiri dan menghampiri pemilik suara
berat itu guna memeluknya erat.
“Lo kapan pulang?” Tanyanya
setelah melepaskan pelukan penuh kerinduan.
“Barusan, lo-nya aja yang asyik banget
ngelamun sampe gak denger gua pulang.”
Sosok itu ikut bergabung dengan
Aza di bangku kayu panjang yang memang sengaja diletakan sang Bunda di sana.
Katanya agar mereka bertiga bisa menikmati matahari bersama.
Aza menyengir sembari menggaruk
belakang kepalanya.
“Lo lagi mikir apa?”
“Bukan apa-apa.”
Sosok itu mendecak lalu menoyor
pelan kepala Aza hingga membuat perempuan itu berjengit sengit.
“Iihh lo mah kebiasaan.”
Sosok itu malah tertawa
mendapatkan tatapan tajam dari Aza.
“Lo juga kebiasaan, suka banget
bohong padahal gak jago.”
Aza yang semula kesel kini
kembali murung. Pikiran yang sempat teralihkan, kembali memenuhi otaknya hingga
membuat hela panjang keluar dari bilah bibirnya.
“Gua ketemu dia Nat.”
“Siapa?”
“Isshhh.. lo mah.” Aza
geregetan sendiri melihat wajah polos itu. “Mantan suaminya Bunda lah, siapa
lagi.” Sambungnya.
“Terus..”
“Ya diajak ngobrol, dia minta
maaf dan mau memperbaiki kesalahannya.”
“Hm.. terus..”
Aza kembali menghela, kali ini
terdengar lebih berat dan sesak dari sebelumnya.
“Ya gitu, gua gak bisa.”
“Terus..”
Aza memutar kepalanya. Dahinya
mengerut dan matanya yang tadi menerawang jauh berubah tajam.
“Nata, lo bisa enggak sih enggak
terus terus aja, gua pusing dengernya.”
Nata tergelak.
“Ya terus gua harus bilang apa?”
“Apa kek, jangan terus terus aja!
Sakit kuping gua lama-lama.”
“Hahaha oke oke, lanjutin
lagi Za ceritanya. Gua sekarang akan dengerin sampe lo selesai.”
Dengan tarikan napas panjang, Aza
menceritakan apa saja yang terjadi di taman kantornya sore itu. Ia juga menceritakan
apa yang seminggu belakangan ini memenuhi pikiran dan mengusik ketenangannya.
“Gua paham.” Timpal Nata setelah
Aza mengakhiri ceritanya.
“Perasaan lo valid Za. Kecewa,
sedih, dan marah lo itu nyata. Bahkan mungkin perasaan itu udah mau mati karena
terlalu sering lo rasain.”
Nata meraih tangan Aza lalu ia
genggam.
“Menurut gua lo gak salah, karena
itu reaksi dari apa yang lo alamin selama ini. Itu wajar kok selama lo gak
berbuat buruk yang merugikan orang lain.”
“Aza..”
Panggil Nata setelah hening
panjang.
“Jangan pendem apa pun sendiri,
ada gua Za. Kita sama-sama sakit, dan kita berusaha untuk menyembukan luka itu
sama-sama juga. Lo bisa andelin gua begitu pun sebaliknya. Lo inget janji itu
kan?”
Aza mengangguk.
“Good. Jadi jangan
sembunyiin apa pun lagi dari gua. Lo boleh nutupin apa pun dari Bunda tapi
jangan gua Za..”
Aza kembali mengangguk lalu
merentangkan tangannya untuk memeluk tubuh tegap Nata. Menenggelamkan wajahnya
pada dada bidang laki-laki itu. Menghirup bau sabun yang berpadu dengan parfum
yang digunakan Nata dalam-dalam hingga rasanya syaraf-syaraf kepala yang tegang
mulai mengendur.
“Makan yuk..”
Ajak Nata sambil melerai pelukan
mereka.
“Tadi Bunda nyuruh gua buat
panggil lo karena masakan Bunda udah mau mateng, eh malah liat lo ngelamun
jadinya lupa.”
Aza mengangguk. Lalu keduanya meninggalkan kursi panjang yang sangat berarti bagi keduanya, karena telah menjadi tempat dimana mereka menangis, tertawa, berharap, hingga berandai-andai bersama.
- DF -
.png)


Comments
Post a Comment