DANDELION: Nata • 01



"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."


.

.

.



Siang itu Nata sibuk mengurus laporan keuangan resto yang dikelola oleh Bundanya. Ditemani segelas jus, ia membaca setiap lembar yang diberikan manajer kepadanya. Ia harus memastikan tidak ada kerugian dan bisa memberikan bonus untuk pegawainya.

 

“Sibuk banget bro.”

 

Suara itu membuat Nata mengangkat kepala dari laporan yang ada di atas meja. Senyum kotaknya terukir kala melihat siapa sosok yang tengah menutup pintu ruangannya, walau dari suaranya saja Nata sudah bisa mengenali siapa sosok tersebut.

 

Nata meninggalkan kursinya menuju sofa.

 

“Tumben lo ke sini, biasanya juga ke rumah.”

 

“Kebetulan lewat.”

 

Nata mengangguk.

 

“Lo mau minum atau makan Van? Gua pesenin ke bawah.”

 

Vano menggeleng singkat.

 

“Tadi gua udah pesen sebelum naik, santai bro..”

 

Kepala Nata kembali dianggukan.

 

“Lo lagi sibuk enggak?”

 

“Biasa aja, cuma lagi liatin laporan keuangan.” Jawabnya dengan gelengan kecil. “Kenapa?”

 

“Ada yang mau gua kasih tau.”

 

Posisi duduk Nata berubah tegak ketika melihat raut serius yang Vano tunjukan. Belum lagi suara yang menegas, semakin menunjukan kalau sahabatnya ini ingin mengatakan hal serius kepadanya.

 

“Soal kecelakaan itu.”

 

Vano mengeluarkan sebuah flashdisk beserta amplop dari saku jaketnya. Ia memberikan kedua benda itu kepada Nata yang memasang wajah penasaran.

 

“Rekaman CCTV yang hilang dan juga laporan dari saksi yang kebetulan ada di tempat. Dia enggak kerekam di CCTV karena ada di dalem tokonya yang baru aja tutup.”

 

Nata mengambil kedua benda itu. Lalu bergegas kembali ke mejanya untuk membuka file yang tersimpen pada benda kecil di dalam genggamannya.

 

Sebuah video hitam putih yang menjadi satu-satunya file tersimpan diputarnya.  Pada video itu terlihat dua orang setengah baya yang baru akan menutup dagangannya tengah bersiap untuk pulang. Namun belum juga sang pria selesai menutup dagangan buahnya dengan terpal biru, sebuah mini sedan yang melaju cepat menabrak tubuh itu hingga terjepit di antara kedua mobil. Tidak hanya itu, ketika wanita yang sebelumnya tengah mengambil sesuatu dari dalam mobil pick up-nya menghampiri sang suami dengan teriakan, mobil itu malah melaju kembali dan menabrak wanita setengah baya itu hingga terpental cukup jauh dari posisinya.

 

“Pemilik toko bunga bilang kalau mobil itu malah nambah kecepatannya waktu Ibu lo berusaha untuk menghentikan. Sampai akhirnya Ibu lo juga di tabrak.”

 

Kepalan tangannya semakin mengencang setelah mendengar penjelasan sang sahabat. Amarah dan dendamnya semakin bertambah setelah mengetahui kebenaran yang selama ini sengaja dihilangkan.

 

“Si Bapak juga masih inget plat mobil sedan itu.”

 

Nata langsung menatap sang sahabat.

 

“Lo nanya kan?”

 

Vano menganggukkan kepala. “Dia bilang 176ARSN, dia sampe nyatet karena dia pikir itu penting.”

 

“Tapi pas tau hasil persidangannya, si Bapak bingung dan akhirnya mutusin untuk disimpen aja.” Imbuhnya.

 

“Van…” Nata memanggilnya dengan suara yang bergetar.

 

Bukan.

 

Bukan karena menahan tangis, tetapi karena rasa marahnya yang begitu besar.

 

“Tolong cari tau dan pastiin siapa pemilik mobil itu. Kalau udah dijual, cari tau pemilik sebelumnya sampe 12 tahun ke belakang.”

 

“Iya Nat..”



T . B . C


- DF -

Comments

Popular Posts