DANDELION: 02
.
.
.
Nata tidak bisa berhenti
tersenyum setiap kali mengingat kejadian hari itu. Hari dimana ia dipertemukan
dengan dua orang perempuan yang kini menjadi orang terpenting dalam hidupnya.
Dua perempuan baik yang mau menerimanya yang bukan siapa-siapa.
Ia bersyukur ternyata Tuhan masih
mau mengabulkan doanya. Sebuah doa yang Nata panjatkan agar dia bisa lagi
menemukan kebahagiannya. Dan Nata menemukan kebahagiaan itu dari Aza dna Bunda.
“Woy.. senyum-senyum aja.
Kesambet ya lo.”
Nata menyentil dahi perempuan
yang baru saja bergabung dengannya di sofa. Perempuan yang sejak tadi ia
pikirkan.
“Suara lo jangan kenceng-kenceng.
Ini udah malem, jangan ganggu Bunda yang udah tidur.”
Aza tersenyum dengan memamerkan
gigi rapihnya.
“Sorry..” Sesalnya sembari
menggaruk bagian leher belakang.
“Lagian lo juga. Kenapa
senyum-senyum sih?”
“Gua keinget masa lalu.”
Aza mengernyit bingung. “Masa
lalu?” Beonya.
“Hmm..” Nata mengangguk.
“Waktu Bunda pertama kali ngajak
gua ke rumah, terus lo nanya kenapa gua sendirian, terus lo yang tiba-tiba
pergi, sampe akhirnya kita kayak sekarang ini.”
Tidak ada sahutan dari Aza. Ia
hanya menyimak apa yang Nata katakan.
“Gua bersyukur Tuhan pertemuin
gua sama Bunda dan lo. Gua gak pernah berpikir kalau gua bisa ngerasain lagi yang
namanya bahagia. Tapi setelah bareng kalian, gua bisa bahagia lagi, gua bisa
ngerasain yang namanya keluarga lagi. Walaupun Bunda harus jualan lebih giat
dan kita ikut bantu, tetapi gua bahagia.”
“Lo tau gak Za, waktu itu gua
sempet putus asa. Gua berhenti di deket warung Bunda karena bau makanan yang
harum banget. Karena lapernya gak bisa gua tahan lagi, akhirnya gua menjauh dan
malah ketiduran di teras rumah lo. Pas lagi tiduran gua kepikiran untuk bunuh
diri, tapi Tuhan nolong gua lewat Bunda dan juga lo.”
Nata menarik napasnya lalu
mengembuskan berkala.
“Gua bersyukur banget sama Tuhan.
Dan gua gak akan pernah bosen bilang makasih ke lo sama Bunda. Karena kalian
yang udah ngasih kehidupan baru ke gua.”
Aza meraih tangan Nata lalu
mengusap punggung tangan kekar itu.
“Gua juga bersyukur karena Tuhan
ngirim lo buat gua sama Bunda. Gua yang selalu sendirian karena Bunda harus
jualan akhirnya gak sendirian lagi. Gua yang punya keinginan buat bantu Bunda
akhirnya bisa terwujud karena ada lo yang mau bantuin gua. Lo selalu jagain gua
selama sekolah, lo juga yang udah nguatin gua untuk gak malu jualan pas di
sekolah, dan lo juga yang buat gua lebih giat lagi belajar supaya kita bisa
sama-sama dapet beasiswa sampe lulus kuliah.”
“Hidup kita emang sulit Nat,
sulit banget malah. Tapi sejak ada lo entah kenapa Bunda jadi lebih sering
senyum, gua juga enggak sering nangis, pokoknya lo itu juga segalanya buat gua
sama Bunda.”
Aza menggenggam semakin erat
tangan Nata yang ada dipangkuannya.
“Kehadiran lo kayak kado yang
Tuhan kasih buat gua sama Bunda. Kita yang sama-sama sakit karena orang yang
gak seharusnya nyakitin kita akhirnya malah saling menguatkan untuk meraih
bahagia yang baru. Dan kita bisa ngewujudinnya Nat, kita bisa bahagia setelah
banyak hal menyakitkan yang kita lalui.”
Aza melepaskan genggaman tangan
mereka untuk melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nata. Menenggelamkan
mukanya di dada bidang pria itu sedangkan tangannya memeluk erat.
“Gua sayang banget sama lo Nat..”
“Gua juga sayang sama lo dan
Bunda, sayang banget..” Balas Nata.
Ia juga ikut memeluk erat Aza.
Menumpukan dagunya di puncak kepala gadis itu dengan sesekali mengusap
punggungnya.
Mereka membiarkan waktu terus
bergerak sedangkan diri mereka masih terikat dalam sebuah pelukan erat. Saling
menyalurkan hangat tubuh sembari mendengarkan debar jantung Nata bagi Aza,
sedangkan denting jam bagi Nata. Membiarkan waktu berputar dan menjadikan malam
sebagai saksi dari dua luka yang bertemu yang perlahan mulai saling menutup.
“Gua janji, kita akan sama-sama
menemukan kebahagiaan yang lebih dari ini dengan tanpa luka masa lalu.” Ujar
Nata lalu ia memberikan kecupan ringan di atas kepala Aza.
- DF -
.png)


Comments
Post a Comment