DANDELION: 03
"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."
Vania duduk dengan kegelisahan
yang terlihat begitu jelas. Ia tidak bisa berhenti berpikir tentang reaksi dari
kedua anaknya terhadap apa yang akan ia katakan. Walau memang tekad untuk
menceritakan semua yang telah disembunyikan lebih dari dua puluh tahun itu
sudah bulat, tetapi ketakutan itu tidak bisa sirna.
“Jelasin Mah..”
Kenzo menjadi yang pertama
berucap setelah mereka kembali dari resto milik Aza. Pasalnya, ia yang baru
bertemu lagi dengan Aza dibuat terkejut dengan kemarahan yang ditunjukkan
perempuan itu. Padahal Aza yang ia kenal adalah sosok baik dan ramah.
Vania mengangkat kepalanya untuk
menatap wajah Gavin dan Kenzo yang menempati sofa double seater yang
berhadapan dengannya. Lalu kepalanya kembali tertunduk bersamaan dengan helaan
napas panjang yang keluar dari bibirnya.
“Mamah…” Ia berucap dengan suara
yang bergetar. Lalu tangisnya pecah bersamaan dengan satu kalimat yang membuat
kedua anaknya terkejut.
“Mamah adalah orang ketiga antara
Bundanya Lea dengan Papah.”
Pengakuan itu membuat Gavin dan
Kenzo terhenyak. Mereka tidak ingin percaya, tetapi apa yang dikatakan
selanjutnya membuat harapan mereka pupus.
“Papah kalian dijodohkan dengan
Tante Mella -Bundanya Aza- karena hubungan Papah sama Mamah enggak disetujui.
Awalnya Mamah nerima dan mengikhlaskan itu, tapi ternyata rasa cinta Mamah
ngebuat Mamah rela untuk kembali menjalin hubungan dengan Papah sampai akhirnya
Gavin lahir.” Vania menarik napasnya untuk mengurangi sesak di dada. Tetapi
sesak itu masih bertahan dan malah semakin menyiksanya.
“Semua berjalan baik, Papah
mengatur waktunya untuk Mamah dan Tante Mella. Sampai suatu hari Tante Mella
tahu tentang hubungan ini. Dia marah dan Papah ikut marah hingga kata cerai pun
terucap dari Papah.”
“Saat itu Opa sama Oma kalian
dateng dan ngedenger keributan itu. Oma kena serangan jantung dan enggak
tertolong. Sejak saat itu Opa kalian semakin enggak suka sama Mamah, Opa
menolak kehadiran Mamah tapi untuknya tidak sama kalian.”
Vania sudah tidak bisa lagi
melanjutkan ceritanya. Sesak dan gemuruh di dada yang semakin kencang membuat
ia tidak bisa lagi menyusun kata untuk disampaikan kepada kedua anaknya.
Tubuhnya juga sudah bergetar hebat dengan kepala yang tertunduk dan air mata
yang mengalir bebas membasahi kedua pipinya.
“Terus yang dibilang sama Kak Lea
tadi?” Kenzo bertanya dengan ari mata yang juga sudah jatuh.
Vania menggeleng. Rasanya ia
ingin menghilangkan ingatan itu tapi tidak bisa. Hari dimana ia menjadi sosok
iblis yang menghancurkan kehidupan anak kecil tidak berdosa.
“Mamah enggak tau kalau Lea ada
di sana. Mamah juga enggak tau kenapa Mamah bisa ngomong gitu ke Tante Mella.”
Mendengar itu Kenzo refleks
berdiri. Ia menatap kedua orang tuanya bergantian dengan tatapan tajam yang
membunuh.
“Kenapa Mamah tega? Mamah enggak
mikirin perasaan Bundanya Kak Lea dan Kak Lea? Mamah, taro di mana otak Mamah?”
“Kenzo!” Hardik Gavin.
Ia menarik tangan Kenzo untuk
kembali duduk tetapi di tepis dengan kasar oleh adiknya itu.
“Terus Papah diem aja? Papah
sebagai orang tuanya Kak Lea enggak berusaha untuk ketemu sama anak Papah
sendiri? Apa sih yang Papah pikirin?”
Mika menunduk. Ia begitu malu
untuk balas menatap Kenzo yang begitu marah dengan kelakuannya. Wajar bukan,
memang dia sebrengsek itu?
“Mamah yang ngebuat Papah enggak
nyari Kakak kalian. Mamah yang ngelarang Papah karena Mamah takut kalian
kekurangan perhatian Papah.”
“Mah! Astaga!”
Kenzo sampai mengacak rambutnya.
Ia tidak menyangka mendengar kalimat itu dari sang Mamah. Ia tidak pernah
mengira bahwa sosok yang dipikirkan adalah seorang malaikan yang ternyata iblis
untuk menghidupi orang lain, dan orang lain itu tidak lain dan tidak bukan
kakaknya sendiri.
“Lo denger bang? Lo mau marah
sama omongan gua? Lo masih mau bela orang yang jelas-jelas salah?”
Kenzo menatap Gavin menantang,
sementara Gavin hanya bisa terduduk lemas. Ia tidak pernah menyangka bahwa
Mamahnya menjadi tokoh antagonis dalam cerita ini. Ia pikir ini semua murni
kesalahan sang Papah karena mengabaikan Kakak tirinya, tapi ternyata Mamahnya
yang berdosa.
“Asal kalian tau, Kak Lea itu
orang yang nolongin aku pas hilang di taman waktu itu. Kak Lea yang nemenin aku
sampe ada temen Mamah yang nemuin aku. Kalau kalian tanya kenapa aku bisa
inget, itu karena luka di pelipis kiri Kak Lea. Bekas luka yang menjadi saksi
kalau hidup Kak Lea waktu kecil berat banget.”
Kenzo masih belum bisa meredakan
kemarahannya. Amarahnya bahkan bertambah seiring ingatan tentang percakapan
singkatnya dengan Lea beberapa tahun lalu terputar lagi di otaknya.
“Kalian tau enggak darimana asal
luka itu?”
Pertanyaan itu membuat atensi
ketiga pasang mata di sana langsung mengarah kepada si bungsu.
“Itu luka bekas bully-an.
Kak Lea di bully karena enggak punya Papah dan miskin. Kepala Kak Lea
dibenturin ke dinding pas pulang sekolah, tapi dia enggak nangis. Sehabis di bully
Kak Lea malah lanjut kerja untuk ngebantuin Bundanya.”
Kenzo memberikan jeda singkat
untuk menatap sang Ibu, Ayah, dan juga Abangnya.
“Aku seneng pas tau kalau aku
punya Kakak lain walaupun beda Ibu. Rasa seneng aku bertambah pas tau kalau Kak
Lea orangnya. Orang yang aku cari dari dulu ternyata Kakak aku sendiri. Tapi
sekarang aku malu, Mah, Pah, Bang. Aku malu ternyata yang ngehancurin hidup
orang baik kayak Kak Lea itu adalah keluarga aku sendiri. Orang yang buat Kak Lea
harus kerja untuk ngebantu Bundanya dari kecil itu Mamah. Orang yang buat Kak
Lea selalu disiksa fisik dan mentalnya sama temen sebayanya sendiri itu Papah.”
Kenzo meraih jaketnya di lengan
sofa. Ia hendak pergi, tetapi baru beberapa langkah kaki nay berhenti dan
tubuhnya berbalik.
“Aku maklum dengan sikap Kak Lea.
Kalau aku yang jadi Kak Lea, aku enggak yakin bisa ngomong baik-baik sama
kalian. Mungkin aku udah mukul Papah sampe seluruh kemarahan aku tersampaikan.”
Setelah mengatakan kalimat yang
menyaktikan itu, Kenzo bergegas pergi meninggalkan keluarganya. Tidak peduli
dengan penyesalan yang kini membelenggu relung hati Ibu dan Ayahnya.
- DF -
.png)


Comments
Post a Comment