DANDELION: 04
"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."
Sore itu Aza dan Nata mampir ke
toko es krim setelah mengantar Bunda mereka untuk melakukan check-up
rutin di rumah sakit. Seharusnya pagi tadi mereka pergi, tetapi karena Aza
mendapatkan panggilan mendadak dari atasannya, barulah sore itu mereka bisa
pergi.
Ini adalah rutinitas yang
biasanya kedua anak muda itu lakukan ketika harus menunggu sang Bunda. Kedai
yang tidak jauh dari rumah sakit ditambah rasa es krim yang enak membuat tempat
itu menjadi tempat kesukaan mereka.
Aza memilih duduk di dekat
jendela untuk bisa menikmati pemandangan lalu lintas yang untuknya tidak
terlalu ramai. Sementara Nata pergi ke meja pemesanan lebih dulu, lalu ikut
duduk di sebelahnya.
“Gimana kerjaan?”
Aza mengendik malas.
“Biasalah, si bos lagi rungsing.
Kan divisi gua yang ribet ngurusin permasalahan uangnya.”
Nata terkekeh. Tidak lama,
seorang pelayan datang dengan nampan berisi semangkuk es krim ukuran sedang dan
sebuah cup kecil es krim, satu air mineral, serta ocha dingin. Mata Aza
berbinar ketika es krim kesukaannya ada di hadapannya. Tanpa membuang banyak
waktu, ia langsung mengambil sendok dan menyuapkan es krim ke dalam mulutnya.
“Tenang Za, enggak akan ada yang
mau nyuri es krim lo.” Ucap Nata dengan ternyem lebar.
Aza tidak peduli dengan ledekan
itu. Yang ada di pikirannya hanya es krim dingin dan manis yang siap memanjakan
lidahnya. Walau es krim menjadi bintang di mata Aza, tapi dia tidak lupa dengan
keberadaan Nata. Ia tidak membiarkan Nata merasa bosan karena menunggu Bunda.
Jadi, di sela kegiatan menikmati es krim, Aza juga selalu bertukar cerita
dengan Nata. Bukan hal penting, hanya hal biasa bahkan tidak penting yang kerap
mereka bagikan.
“Nat..”
“Hm…” Deham Nata yang
sedang menyuapkan seseondok es krim ke dalam mulut.
“Proses penyelidikannya udah
sampe mana?”
Nata terdiam sebelum mengembuskan
napas beratnya.
“Vano masih nyari tau pemilik
mobil itu. Yang jelas tuh mobil udah dijual beberapa kali dari pemilik
aslinya.”
Aza mengangguk-anggukan kepala.
“Terus lo gimana?”
Alis Aza terangkat dengan tatapan
bingung.
“Maksud lo?”
“Kejadian di resto waktu itu. Itu
gimana?”
Aza kembali mengendikkan bahunya
cuek.
“Enggak tau deh. Gua sih cuma
bilang yang seapa adanya aja. Kalau emang wanita itu yang udah buat hidup gua
sama Bunda hancur. Kalau abis itu, gua enggak tau. Dan enggak mau tau juga.” Ia
kembali menyuapkan es krim ke dalam mulut.
“Enggak penting, Nat. Mending
mikirin hal lain yang lebih bermanfaat, contohnya kerjaan gua.”
Aza tiba-tiba saja membanting
sendoknya ke atas meja. Hal itu membuat Nata berjengit kaget dengan aksi
tiba-tiba gadis di sampingnya.
“Lo tau enggak sih si bos besar
nyebelinnya gak karuan. Bentar lagi anniversary perusahaan sekaligus mau
ada pengumuman penting, tapi si bos enggak kira-kira merintahinnya. Masa H –
enggak sampe sebulan. Ya kali ngurusin keuangannya gampang.”
Aza berucap kesal. Rasa kesal
yang sejak minggu lalu dirasakannya pada akhirnya pecah setelah Nata
mengungkitnya. Memang sial sekali seorang Nata, yang salah orang lain tapi yang
kena omelan malah dirinya. Untung saja tidak terlalu banyak orang di kedai itu,
bisa tambah jengkel seorang Nata kalau sampai menjadi pusat perhatian juga
akibat ulah Aza.
“Udah Za, enggak usah
marah-marah. Bos lo juga gak ada di sini. Marah-marahnya nanti aja pas ketemu
sama bos yang kata lo laknat itu.” Ujar Nata sambil mengusap pundak kecil Aza.
“Tapi tetep aja Nat, dia tuh-”
Aza tidak melanjutkan ucapannya
ketika kedua matanya menemukan presensi sosok yang baru saja ia bicarakan di
seberang jalan sana.
“Kenapa lo?”
“Liat tuh!” Aza menunjuk ke arah
seberang yang diikuti oleh kepala Nata yang menoleh sejajar dengan arah
telunjuk Aza.
“Itu bokap lo sam-”
“Itu bos gua!” Seruan Aza membuat
Nata refleks menatap gadis itu. Matanya memicing tajam yang membuat Aza
mengernyit bingung.
“Siapa? Bos lo?”
Aza mengangguk.
“Kenapa? Btw, dia bukan
bokap gua ya. Dia orang asing!” Seru Aza membenarkan ucapan Nata yang sangat
tidak dirinya sukai.
“Za, itu serius bos laknat yang
lo ceritain?”
Aza mengangguk sambil kembali
menyuapkan es krim.
“Sial.” Umpat Nata dengan tangan
yang mengepal.
Kebingungan semakin melanda Aza.
“Kenapa sih?”
“Dia Varo..”
“Kok lo bisa tau namanya?”
Aza semakin dibuat bingung,
tetapi kebingungan itu langsung hilang begitu mendengar ucapan Nata.
“Alvaro Andersn, anak dari Adrian
Andersn.”
Mata cantik itu seketika membola.
Otaknya langsung kembali mengingat cerita masa lalu yang dulu Nata bagikan
kepadanya.
“Gila? Dia orang yang udah buat
lo cabut dari rumah?”
Anggukan kepala Nata langsung
membungkam mulut Aza. Kepalanya langsung tertoleh untuk menatap ke seberang. Memperhatikan
lagi sosok Varo dan juga Mika yang masih berbincang sebelum hilang ke dalam
bangunan di seberang jalan.
“Kenapa mereka bisa kenal?”
Pertanyaan Aza membuat Nata dan
Aza saling bertukar pandang. Saling menyampaikan kebingungan yang perlahan
berubah menjadi perasaan curiga yang mengusik keduanya, terutama Aza. Dia
berharap apa yang barusan terbesit dipikirannya adalah salah. Karena ia tidak
ingin lagi terlibat dengan sosok pria yang sudah dengan teganya meninggalkan
dirinya dan sang Bunda.
- DF -
.png)


Comments
Post a Comment