DANDELION: Aza • 03



"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."



.

.

.


Akhir pekan ini Aza pergi ke resto untuk membantu Nata. Dia tidak mengurusi keuangan seperti yang kerap Nata lakukan, karena Aza lebih tertarik dengan kegiatan di dapur. Ia lebih suka memeriksa semua bahan mentah yang disimpan di ruang penyimpanan dan ikut memperhatikan setiap juru masak saat memasak pesanan pelanggan. Tak jarang ia juga melakukan percobaan ketika dapur sedang tidak sibuk.

 

Walaupun lulusan ekonomi, di resto mereka, Aza memiliki peran penting dalam terciptanya menu spesial yang hanya ada pada waktu tertentu. Imajinasinya terlalu luas hingga ia tumpahkan pada kegiatan dapur. Seperti yang sedang ia lakukan sekarang, Aza tengah mencampur beberapa bahan kue saat jam makan siang sudah lewat. Ia ingin khayalannya tentang kue pisang menjadi nyata.

 

Saat ia tengah sibuk mengatur suhu pemanggang, Nata datang dan berdiri di belakangnya.

 

“Kenapa?” Tanyanya dengan tetap fokus pada oven sedang yang ada di pojok ruangan.

 

“Ada yang dateng.”

 

Aza membalikkan tubuhnya. Matanya menatap tepat pada manik Nata yang hanya mengangkat bahunya acuh.

 

“Siapa?”

 

Nata tidak menjawab dan malah pergi begitu saja.

 

Melihat itu membuat Aza menghela. Ia meminta seorang staf untuk memasukakn kuenya ke dalam oven sementara dirinya pergi untuk melihat orang itu. Seketika kakinya berhenti melangkah ketika mata elangnya menemukan kehadiran seseorang yang tidak pernah terpikirkan akan datang menemuinya.

 

Aza kembali menghela sebelum mendekati meja yang sudah dihuni empat orang itu.

 

“Ada yang bisa dibantu?”

 

Keempatnya menoleh ketika suara penuh ketidakminatan Aza mengalun di udara.

 

“Kak Lea..”

 

Aza tidak menggubrisnya. Ia juga tidak menatap mereka dan lebih memilih mengamati lalu lintas melalui jendela kaca di depannya.

 

“Lea bisa kita bicara?”

 

“Bicara saja.”

 

“Kamu enggak mau duduk?”

 

Aza melirik sinis wanita tersebut.

 

“Tidak.”

 

Sesaat detik-detik yang ganjil terlewat bersama debaran tidak jelas yang dua orang setengah baya di meja itu rasakan. Mereka dapat merasakan tekanan yang begitu menyesakkan dari wajah dingin yang Aza tunjukkan. Bahkan dua laki-laki muda yang juga berada di sana dapat merasakan juga bagaimana kebencian menguar dari tubuh Aza.

 

“Sebelumnya tante mau minta maaf untuk semua kesalahan tante. Tante tau maaf tante enggak akan mengubah apa pun, tapi tante tetep perlu meminta maaf untuk itu.” Sang wanita menarik napas panjang perlahan.

 

“Maaf Lea, maafin tante yang udah buat kamu pisah sama Papah mu. Tante sadar, tante terlalu egois. Tante cuma mikirin Gavin dan Kenzo tanpa mikirin kamu. Tante terlalu takut kalau Gavin dan Kenzo enggak merasakan kasih sayang seorang Ayah. Sekali lagi, Tante minta maaf..”

 

Aza menatap wanita di hadapannya ini dengan raut yang sulit diartikan. Auranya yang gelap membuat rasanya tekanan itu semakin membesar menekan dada sang wanita. Hingga sesak sulit sekali ia singkirkan.

 

“Akhirnya sadar juga.” Aza tersenyum miring.

 

“Tapi sayang maaf anda gak berarti apa-apa. Anda sama suami anda adalah paket lengkap sebuah kehancuran seorang anak yang gak tau apa-apa. Selamat ya untuk rasa takut yang enggak jadi kenyataan.”

 

“Lea..”

 

Wanita itu baru akan menyentuh tangannya, tetapi Aza telah lebih dulu bergerak mundur. Ia tidak sudi jika tangan kotor itu menyentuhnya. Apa kata Nata saat melihat itu? Bisa disuruh mandi kembang sekembalinya ia ke rumah.

 

“Nak.. maafin Papah.”

 

Sang Ayah ganti berdiri, tetapi baru saja ia akan mendekat Aza malah menghentikannya.

 

“Makasih loh udah mau dateng nemuin saya, tapi maaf Tuan dan Nyonya, saya enggak sudi memaafkan kalian sampai kapan pun! Rasa benci saya untuk kalian sangat besar sampe rasanya maaf aja enggak cukup. Bahkan karma yang harusnya kalian dapet juga enggak akan pernah bisa nyembuhin luka dan kesengsaraan yang kalian kasih ke saya dan Bunda.”

 

“Jaga mulut-”

 

“DIEM!” Aza balik membentak. Suaranya memang tidak kencang tetapi penuh akan kemarahan yang membuat Gavin seakan kehilangan suaranya.

 

“Lo gak tau apa-apa bangsat!” Makinya dengan menunjuk tepat di depan wajah Gavin.

 

“Hidup lo sama adek lo yang sempurna ini ada karena kehancuran hidup gua. Jadi jangan sok keras!”

 

Aza melepaskan kontak matanya dengan Gavin untuk kembali menatap dua setengah baya itu.

 

“Kalian enggak cerita ke anak kesayangan kalian ini, gimana kalian MEMBUNUH kehidupan saya padahal waktu itu usia saya masih tujuh tahun, masih sangat kecil untuk menghadapi kerasnya dunia?” Tanyanya dengan menekankan kata membunuh yang membuat sesak semakin tidak bisa terelakan.

 

“Pantes aja, anak kalian ini merasa gak terima saya bilang gitu.” Sambungnya ketika tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.

 

“Ceritain dong, gimana sosok Mamah yang hangat dan keibuan ini menghancurkan harapan seorang anak kecil karena rasa cintanya yang bullshit. Ceritain juga apa yang waktu itu Anda bilang ke Bunda saya sebelum kami pergi dari rumah.”

 

Kalimat Aza membuat wajah wanita di depannya berubah pucat. Tangannya bergetar. Memori itu seketika berputar di dalam kepalanya. Mengingatkan kembali bagaimana jahatnya ia pada gadis di depannya dan sang Ibu. Tapi lebih dari itu, ia takut dengan reaksi kedua anaknya. Ia tidak siap jika anaknya membencinya karena perilaku masa lalunya.

 

Sementara Aza begitu puas melihat ketakutan di wajah wanita itu. Akhirnya waktu yang ia tunggu perlahan tiba. Ia jadi tidak sabar melihat kehancuran wanita yang telah dengan kejamnya menghancurkan dirinya dan sang Bunda.

 

“Anda lupa? Perlu saya ingatkan?” Tanyanya dengan satu alis yang terangkat dan tangan yang dilipat di depan dada.

 

“Oke karena saya baik saya yang akan kasih tau ke anak kalian.”

 

Aza kembali menolah. Matanya menatap bergantian kepada Gavin dan Kenzo sebelum senyum simpul menghiasi wajah kecilnya.

 

“Lo berdua denger dan kalau perlu inget apa yang mau gua kasih tau. Ini nih nyokap lo yang bilang ke Bunda gua, pas banget waktu itu gua sembunyi di balik tembok jadi gua bisa denger.”

 

“Terima kasih karena sudah merawat Mas Mika, sekarang saya yang akan melakukannya dan memang saya yang seharusnya melakukan itu.” Dengan lantang Aza mengatakan satu kalimat yang di hari itu membuat sang Bunda menangis serta menjadi awal kehancuran kehidupannya.

 

“Oh iya,” Jarinya menjentik.

 

“Umur gua sama lo cuma beda dua bulan. Bokap lo sama Bunda gua pisah pas gua usia tujuh tahun. Em.. lo ngerti kan maksud gua GAVIN ALEXANDER.” Aza menekankan nama Gavin yang semakin terdiam setelah mendengar penuturannya. Samar-samar ia mendengus sebelum tubuhnya berbalik untuk pergi setelah memastikan kepanikan dan ketakutan di wajah  Nyonya Vania Alexander.



T . B . C


Happy Valentine's Day All :)


- DF -

Comments

Popular Posts