DANDELION: Aza • 04


 

"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."



.

.

.


Siang hari yang melelahkan untuk Aza. Dia baru saja selesai meeting dengan atasannya terkait acara besar yang akan dilaksanakan oleh kantor mereka. Padahal sudah lewat waktu istirahat, tetapi rapat itu baru selesai. Melelahkan sekali sampai-sampai Aza menghela sembari merebahkan kepala di atas meja.

 

“Capek banget kayaknya.”

 

Bella yang menjadi teman pertama sekaligus terbaik Aza berucap sembari memutar kursinya.

 

“Bos lo tuh, suka banget nyusahin bawahan.”

 

“Kenapa lagi?”

 

Dengan kesal, Aza menengakkan tubuhnya.

 

“Lo tau, dia mau ganti vendor konsumsi buat acara nanti. Dikira ganti vendor gampang kali ya. Harus nyari kateringnya, terus testing,  pasti ada rapat lagi, udah nih, dan di akhir gua sama yang lain ketumpuan bagian keuangannya.”

 

Aza memandang Bella dengan penuh rasa kesal.

 

“Ini tuh kayak dapet kulit durian runtuh, kebagian sakitnya doang. Boro-boro bisa nikmatin acaranya, yang ada mikir keras gimana buat laporannya.”

 

Wajah sungut-sungut Aza membuat Bella tidak bisa untuk tidak tertawa. Wajah bulat dengan pipi dan telinga yang memerah membuat Aza terlihat lucu. Tidak salah jika Bella menganggap Aza seperti anak kecil. Lihat saja kelakuan teman semejanya itu.

 

“Enggak ada yang lucu ya, Bell..”

 

“Ada! Tuh muka lo.” Ujar Bella dengan tawa yang semakin kencang.

 

Kesal dengan temannya itu, Aza mencubit lengannya lalu berlari pergi ketika Bella akan membalasnya.

 

“Kabur lagi..”

 

Aza berbalik sebentar untuk menjulurkan lidahnya. Lalu ia kembali berlari meninggalkan kubikelnya menuju pantry. Di tengah jalan, seorang security memanggilnya. Aza yang baru saja akan berbelok urung dan memutar kembali badannya.

 

“Mbak Aza, ada yang nyari.”

 

Dahi Aza berkerut dengan kepala yang sedikit miring.

 

“Siapa Pak?”

 

“Kata Resepsionis namanya Kenzo.”

 

Mendengar itu, Aza hanya mampu menghela. Ia lalu mengangguk singkat dan security tadi pergi kembali ke mejanya yang tidak jauh dari lift.

 

Mau apa lagi sih?, gerutu Aza walau kedua kaki jenjangnya tetap merajut langkah menuju lift.

 

Tidak butuh waktu lama bagi Aza untuk menemukan keberadaan Kenzo di lobby kantornya. Kenzo yang katanya sedang menunggunya tengah duduk di kursi tunggu di dekat resepsionis.

 

“Kenapa?”

 

Kenzo menoleh dan langsung menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana.

 

“Bisa kita bicara Kak?”

 

Aza mengangguk. “Di taman aja ya, di sini terlalu rame.”

 

Keduanya lalu berjalan keluar menuju taman yang berada di sisi samping bangunan. Aza memilih tempat yang teduh karena siang itu matahari sedang bersinar terik. Sementara Kenzo hanya diam mengikuti di belakang dengan pikiran yang kacau.

 

“Ada apa?”

Kenzo menoleh. Ia menatap wajah Aza yang, sayangnya, baru ia sadari memiliki kemiripan dengan sang Ayah. Pantas saja saat bertemu Aza untuk yang pertama kali, Kenzo merasa tidak asing.

 

“Kak..”

 

Aza diam. Ia membiarkan Kenzo menyampaikan apa yang ingin laki-laki itu sampaikan. Dibandingkan dengan Gavin, Aza lebih suka dengan Kenzo. Selain karena mereka bertemu lebih dulu—jauh sebelum masalah ini terbongkar—, Kenzo menjadi satu-satunya orang yang tidak memaksanya. Bahkan di hari kenyataan itu terbongkar, Kenzo pergi mengejarnya hanya untuk menemaninya—tidak lebih.

 

“Maaf ya, Kak. Maaf untuk semuanya.”

 

Kenzo menarik napas panjangnya dan mengembuskan berkala.

 

“Aku udah tau semua, Mamah udah cerita semuanya. Dan atas nama Mamah, aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku tau kesalahan Mamah fatal banget. Tapi aku sebagai anaknya cuma bisa minta maaf ke Kakak dan Tante Mella. Secara enggak langsung, semua kesulitan yang Kakak alami juga karena aku. Karena aku dan Bang Gavin, Mamah jadi nyakitin Kakak.” Kenzo menghentikan ucapannya hanya untuk menyusun kata yang akan kembali ia ucapkan.

 

“Aku tau kok permintaan maaf aku ini enggak akan ngubah apa pun, enggak akan bisa menyembuhin semua luka yang Kakak rasain. Tapi aku enggak bisa enggak minta maaf ke Kakak, karena aku sadar sebuah maaf itu penting. Aku juga enggak akan minta Kakak sama Tante Mella untuk maafin aku, Bang Gavin, Mamah dan Papah, karena aku tau itu susah banget. Aku terima kalau Kakak sama Tante Mella enggak bisa ngasih maaf itu. Aku cuma mau Kakak denger maaf aku. Aku cuma mau Kakak tau kalau aku nyesel banget dengan semua yang udah terjadi. Dan yang terpenting…”

 

Jeda singkat itu tercipta karena Kenzo yang meraih tangan Aza lalu digenggamnya erat.

 

“Aku mau ngasih tau kalau aku seneng banget ketemu Kak Lea dan tau kalau Kakak itu Kakak aku.”

 

Aza sempat terhenyak mendengar kalimat terakhir Kenzo. Ada getaran yang membuat pertahanannya melemah hingga nyaris menjatuhkan sebutir cairan bening di pipinya.

 

Beberapa saat terlewati dengan Aza dan Kenzo yang saling mengunci pandangan. Tangan Kenzo juga masih setia menggenggam erat tangan mungil Aza di dalam tangan besarnya.

 

“Kamu baik Ken, baik banget. Aku juga seneng bisa ketemu kamu.” Aza memasang senyumnya. Sebuah senyum kecil yang ikut menular kepada Kenzo.

 

“Aku enggak nyesel dengan pertemuan kita. Aku cuma enggak nyangka kalau anak sebaik kamu lahir di atas penderitaan orang lain yang Ibu kamu buat.”



T . B . C


- DF -

Comments

Popular Posts