DANDELION: Aza • 04
"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."
Siang hari yang melelahkan untuk
Aza. Dia baru saja selesai meeting dengan atasannya terkait acara besar
yang akan dilaksanakan oleh kantor mereka. Padahal sudah lewat waktu istirahat,
tetapi rapat itu baru selesai. Melelahkan sekali sampai-sampai Aza menghela
sembari merebahkan kepala di atas meja.
“Capek banget kayaknya.”
Bella yang menjadi teman pertama
sekaligus terbaik Aza berucap sembari memutar kursinya.
“Bos lo tuh, suka banget nyusahin
bawahan.”
“Kenapa lagi?”
Dengan kesal, Aza menengakkan
tubuhnya.
“Lo tau, dia mau ganti vendor
konsumsi buat acara nanti. Dikira ganti vendor gampang kali ya. Harus nyari
kateringnya, terus testing, pasti
ada rapat lagi, udah nih, dan di akhir gua sama yang lain ketumpuan bagian
keuangannya.”
Aza memandang Bella dengan penuh
rasa kesal.
“Ini tuh kayak dapet kulit durian
runtuh, kebagian sakitnya doang. Boro-boro bisa nikmatin acaranya, yang ada
mikir keras gimana buat laporannya.”
Wajah sungut-sungut Aza membuat
Bella tidak bisa untuk tidak tertawa. Wajah bulat dengan pipi dan telinga yang
memerah membuat Aza terlihat lucu. Tidak salah jika Bella menganggap Aza
seperti anak kecil. Lihat saja kelakuan teman semejanya itu.
“Enggak ada yang lucu ya, Bell..”
“Ada! Tuh muka lo.” Ujar Bella
dengan tawa yang semakin kencang.
Kesal dengan temannya itu, Aza
mencubit lengannya lalu berlari pergi ketika Bella akan membalasnya.
“Kabur lagi..”
Aza berbalik sebentar untuk
menjulurkan lidahnya. Lalu ia kembali berlari meninggalkan kubikelnya menuju pantry.
Di tengah jalan, seorang security memanggilnya. Aza yang baru saja akan
berbelok urung dan memutar kembali badannya.
“Mbak Aza, ada yang nyari.”
Dahi Aza berkerut dengan kepala
yang sedikit miring.
“Siapa Pak?”
“Kata Resepsionis namanya Kenzo.”
Mendengar itu, Aza hanya mampu
menghela. Ia lalu mengangguk singkat dan security tadi pergi kembali ke
mejanya yang tidak jauh dari lift.
Mau apa lagi sih?, gerutu
Aza walau kedua kaki jenjangnya tetap merajut langkah menuju lift.
Tidak butuh waktu lama bagi Aza
untuk menemukan keberadaan Kenzo di lobby kantornya. Kenzo yang katanya
sedang menunggunya tengah duduk di kursi tunggu di dekat resepsionis.
“Kenapa?”
Kenzo menoleh dan langsung
menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
“Bisa kita bicara Kak?”
Aza mengangguk. “Di taman aja ya,
di sini terlalu rame.”
Keduanya lalu berjalan keluar
menuju taman yang berada di sisi samping bangunan. Aza memilih tempat yang
teduh karena siang itu matahari sedang bersinar terik. Sementara Kenzo hanya
diam mengikuti di belakang dengan pikiran yang kacau.
“Ada apa?”
Kenzo menoleh. Ia menatap wajah
Aza yang, sayangnya, baru ia sadari memiliki kemiripan dengan sang Ayah. Pantas
saja saat bertemu Aza untuk yang pertama kali, Kenzo merasa tidak asing.
“Kak..”
Aza diam. Ia membiarkan Kenzo menyampaikan
apa yang ingin laki-laki itu sampaikan. Dibandingkan dengan Gavin, Aza lebih
suka dengan Kenzo. Selain karena mereka bertemu lebih dulu—jauh sebelum masalah
ini terbongkar—, Kenzo menjadi satu-satunya orang yang tidak memaksanya. Bahkan
di hari kenyataan itu terbongkar, Kenzo pergi mengejarnya hanya untuk
menemaninya—tidak lebih.
“Maaf ya, Kak. Maaf untuk
semuanya.”
Kenzo menarik napas panjangnya
dan mengembuskan berkala.
“Aku udah tau semua, Mamah udah
cerita semuanya. Dan atas nama Mamah, aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku tau
kesalahan Mamah fatal banget. Tapi aku sebagai anaknya cuma bisa minta maaf ke
Kakak dan Tante Mella. Secara enggak langsung, semua kesulitan yang Kakak alami
juga karena aku. Karena aku dan Bang Gavin, Mamah jadi nyakitin Kakak.” Kenzo
menghentikan ucapannya hanya untuk menyusun kata yang akan kembali ia ucapkan.
“Aku tau kok permintaan maaf aku
ini enggak akan ngubah apa pun, enggak akan bisa menyembuhin semua luka yang
Kakak rasain. Tapi aku enggak bisa enggak minta maaf ke Kakak, karena aku sadar
sebuah maaf itu penting. Aku juga enggak akan minta Kakak sama Tante Mella
untuk maafin aku, Bang Gavin, Mamah dan Papah, karena aku tau itu susah banget.
Aku terima kalau Kakak sama Tante Mella enggak bisa ngasih maaf itu. Aku cuma
mau Kakak denger maaf aku. Aku cuma mau Kakak tau kalau aku nyesel banget
dengan semua yang udah terjadi. Dan yang terpenting…”
Jeda singkat itu tercipta karena Kenzo
yang meraih tangan Aza lalu digenggamnya erat.
“Aku mau ngasih tau kalau aku seneng
banget ketemu Kak Lea dan tau kalau Kakak itu Kakak aku.”
Aza sempat terhenyak mendengar
kalimat terakhir Kenzo. Ada getaran yang membuat pertahanannya melemah hingga
nyaris menjatuhkan sebutir cairan bening di pipinya.
Beberapa saat terlewati dengan Aza
dan Kenzo yang saling mengunci pandangan. Tangan Kenzo juga masih setia
menggenggam erat tangan mungil Aza di dalam tangan besarnya.
“Kamu baik Ken, baik banget. Aku
juga seneng bisa ketemu kamu.” Aza memasang senyumnya. Sebuah senyum kecil yang
ikut menular kepada Kenzo.
“Aku enggak nyesel dengan pertemuan
kita. Aku cuma enggak nyangka kalau anak sebaik kamu lahir di atas penderitaan
orang lain yang Ibu kamu buat.”
- DF -
.png)


Comments
Post a Comment