DANDELION: Nata • 02



"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."

 

.

.

.



Setelah persidangan yang sangat mengecewakan, Nata tak pernah lagi kembali ke rumah. Ia takut dengan pria-pria berbadan besar yang kerap mendatangi rumahnya semenjak kepergian orang tuanya. Padahal Nata tidak tahu siapa mereka, tetapi pria-pria itu terus menunggui rumahnya walau dari seberang jalan.

 

Ia berjalan tak tahu arah. Tidak punya tujuan. Tidak punya uang. Ia membiarkan kedua kaki kecilnya melangkah entah kemana. Tubuhnya sudah sangat lelah, ditambah dengan perutnya yang semakin terasa sakit karena belum ada makanan apa pun yang masuk.

 

Nata berhenti di dekat sebuah warung kecil. Sebuah batu sedang ia jadikan sebagai alas duduk. Ia terlalu lelah untuk kembali merajut langkahnya. Sampai akhirnya batu yang keras saja bisa memberikan kenikmatan untuk tubuh lelahnya.

 

Dari posisinya, Nata dapat menghidu aroma sedap yang datang dari warung itu. Seketika itu juga perutnya bergemuruh. Rasa lapar semakin tidak bisa ditutupi. Nata ingin makan, tetapi tidak ada uang untuk membelinya.

 

Miris sekali. Di saat beberapa orang keluar dari warung itu dengan perut kenyang atau plastik berisi makanan, Nata hanya mampu memperhatikannya. Tidak bisa membeli walau perutnya terus berteriak lapar.

 

“Ya Tuhan, laper banget..” Lirih Nata dengan memegangi perutnya.

 

Tidak tahan dengan aroma sedap yang terus tercium, Nata memutuskan untuk sedikit menjauh dari tempat itu. Ia membawa langkah lelahnya lebih ke dalam gang kecil di sebelah warung tersebut. Ia berhenti di depan sebuah rumah dengan teras kecil yang bersih. Ia merebahkan tubuh ringkihnya di sana hingga tanpa sadar matanya terpejam akibat lelah dan lapar.

 

Entah sudah berapa lama Nata memejamkan mata, tetapi saat ia membuka kedua matanya lagi, langit malam malah yang menyapa. Tidak ada lagi terik matahari seperti tadi. Ia menghela. Baru saja ia akan pergi dari sana, suara lembut seorang wanita membuat Nata berhenti melangkah. Ia berbalik hingga mata sayunya melihat sosok wanita yang datang dengan mendorong gerobak.

 

“Kamu…”

 

Nata membungkuk beberapa kali.

 

“Maaf, saya tidak sengaja tertidur di depan rumah Ibu. Sekarang saya akan pergi. Sekali lagi maaf..”

 

“Nak tunggu..” Wanita itu meraih tangan Nata.

 

“Saya tidak marah. Saya hanya terkejut saat melihat kamu. Kamu yang tadi siang duduk di sebelah tenda saya kan?”

 

Nata membulatkan matanya begitu menyadari jika wanita yang berdiri di depannya ini adalah pemilik warung makan dengan aroma lezat itu.

 

“Tadi saya mencari kamu tapi kamu keburu pergi. Kamu sudah makan?”

 

Nata menatap takut-takut sebelum kepalanya menggeleng pelan.

 

Wanita itu menyunggingkan senyumnya lalu menuntun Nata untuk kembali ke terasnya yang menjadi tempat Nata beristirahat.

 

“Ibu masih ada makanan dari dagangan, ayo kita makan.”

 

Nata menggeleng.

 

“Tidak usah Bu, saya tidak lapar.”

 

“Ibu tau kamu belum makan, dari tadi perut kamu berbunyi.”

 

Penuturan itu membuat Nata menunduk malu. Tidak menyangka jika suara perut laparnya begitu kencang.

 

“Tapi saya tidak punya uang.”

 

“Kamu tidak usah membayarnya Nak, ayo masuk. Di dalam juga ada anak Ibu.”

 

Mempertimbangkan kondisinya, Nata akhirnya mengikuti wanita itu masuk. Ia berjalan di belakang dan berhenti di depan pintu. Ia mengamati keadaan dalam rumah itu. Rumah yang kecil, tidak memiliki banyak barang hanya sebuah kursi panjang yang sudah robek, meja makan dari kayu yang usang, begitu pun dengan karpet di tengah ruangan.

 

“Ayo masuk, jangan diri di sana. Ibu panggil anak Ibu dulu.”

 

Lalu wanita itu masuk ke dalam ruangan yang Nata yakini sebagai kamar. Tidak lama, wanita itu keluar bersama dengan gadis kecil yang Nata pikir usianya tidak jauh berbeda dengannya.

 

“Kenalin, ini Le-”

 

“Aza Bun..” Anak itu memotong cepat.

 

“Ini Aza anak Ibu, kalau kamu siapa namanya?”

 

“Nata Bu..”

 

“Aza temenin Nata dulu ya, Ibu mau rapihin sisa jualan tadi sama manasin makanan.”

 

Setelah wanita itu pergi, gadis kecil itu datang menghampiri Nata. Ia berdiri di depan Nata lalu mengulurkan tangannya.

 

“Nama aku Aza, aku anaknya Bunda.”

 

“Nata.”

 

“Orang tua kamu mana? Kenapa sendirian?”

 

Pertanyaan yang membuat Nata menggeleng lemah. Ingatannya membawa ia kembali pada kedua sosok yang telah pergi untuk selama-lamanya itu.

 

“Ibu sama Bapak udah meninggal, aku jadi sendirian.”

 

Aza terdiam cukup lama sebelum ia berlari ke dalam. Nata yang melihat kepergian gadis kecil itu hanya bisa mengerut bingung. Ia merasa tidak ada yang salah dari ucapannya lalu kenapa gadis itu pergi tiba-tiba?

 

Di tengah kebingungannya, sosok wanita yang merupakan Ibu dari Aza kembali dengan ekspresi yang tidak Nata ketahui. Wanita itu menghampiri Nata dan duduk di sebelahnya.

 

“Maaf Nak, boleh Ibu tanya sesuatu?”

 

Nata hanya mengangguk.

 

“Apa benar kalau orang tua kamu sudah tidak ada?”

 

Nata kembali mengangguk.

 

“Lalu sekarang kamu tinggal dimana?”

 

Nata hanya mampu menggelengkan kepala. Ia tidak tahu mau tinggal dimana karena dia tidak punya rumah, tidak punya saudara, dan tidak punya uang. Dia benar-benar sebatang kara.

 

“Aza bilang dia mau kamu untuk tinggal di sini, apa kamu mau?”

 

Seketika kepala Nata terangkat. Matanya kembali membulat. Ada rasa tidak percaya mendengar kalimat itu.

 

“Nata, kamu mau kan? Aku tau kok kalau rumah ini gak gede, gak ada tv-nya, kasurnya keras, tapi di rumah ini kamu aman karena ada Bunda. Aku juga bisa jagain kamu, kita bisa main bareng.”

 

“Mau ya Nak? Ibu enggak tega kalau kamu hidup di luar sana.”

 

Nata tidak bisa menyembunyikan rasa harunya. Ada sepercik kebahagian tapi sirna begitu saja saat sumpah serapah di masa lalu kembali terngiang di pikirannya.

 

“Maaf Ibu, tapi Nata enggak mau buat Ibu sama Aza celaka. Nata ini anak pembawa sial, buktinya Ibu sama Bapak pergi karena ngurus Nata.”

 

Penuturan Nata membuat wanita itu  terkejut. Hatinya seperti diiris dan ditaburi garam, sakit sekali. Ia tidak tahu kehidupan macam apa yang sudah dilalui Nata, tapi tidak sepantasnya anak sekecil itu bisa mengatakan hal sepert itu.

 

“Nak, tidak ada anak pembawa sial. Semua anak dilahirkan suci, kepergian orang tua kamu itu udah takdir. Jad jangan bicara kayak gitu lagi ya..” Ucapnya dengan mengelus puncak kepala Nata yang sudah tergugu dalam isakan tertahannya.

 

“Mulai sekarang kamu tinggal di sini ya, sama Ibu dan Aza. Walaupun rumah ini kecil, tapi lebih baik dari pada kamu di luar sana.”

 

Nata akhirnya mengangguk dengan tangis yang pecah. Ia sudah tidak bisa lagi manahan isakannya. Ada bahagia tetapi takut yang tidak pernah hilang dari lubuk hatinya.

 

“Jadi sekarang kamu panggil Bunda, Bunda ya jangan Ibu lagi..” Seru Aza lalu ikut memeluk Nata yang sudah lebih dulu dipeluk oleh wanita itu.



T . B . C


- DF -

Comments

Popular Posts