DANDELION: 05


 

"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."


.

.

.


Rumah keluarga Alexander yang biasanya ramai karena keisengan Kenzo terhadap Gavin berubah sepi semenjak terbongkarnya kenyataan pahit yang menjadi dasar kebahagiaan keluarga kecil itu. Kenzo menjadi sosok yang pendiam. Dia bahkan sudah jarang bergabung dengan keluarganya. Anak laki-laki itu lebih sering menghabiskan waktu di kamar dan keluar hanya ketika jam makan, itu pun beberapa kali ia lewatkan dengan alasan mengerjakan tugas.

 

Namun, untuk malam ini ia bergabung di tengah keluarganya yang terasa canggung. Tidak ada yang membuka suara, hanya ada suara dentingan alat makan yang beradu. Kenzo tidak mau ambil pusing. Ia hanya fokus pada piring makannya tanpa mau menatap ketiga pasang mata yang sesekali melirik ke arahnya.

 

“Kenzo..” Mika memanggil anak bungsunya itu, tapi yang dipanggil malah diam.

 

Keterdiaman Kenzo sempat membuat Mika gundah. Tapi pria itu memberanikan diri untuk kembali bertanya pada sang anak.

 

“Gimana sekolah kamu?”

 

“Baik.”

 

Mika mengangguk. Ada secuil harapan ketika pertanyaannya mendapat respons dari Kenzo.

 

“Terus persiapan lomba basketnya gimana?”

 

“Baik juga.”

 

Ia terus bertanya perihal kegiatan Kenzo di sekolah. Namun, dari semua pertanyaannya, Kenzo terus memberikan jawaban singkat yang membuat Mika kecewa. Ia tidak pernah berpikir bahwa anak bungsu yang selalu manja kepadanya kini berubah menjadi sosok yang dingin. Tidak pernah lagi mengadu layaknya anak kecil. Tidak pernah lagi merengek untuk meminta sesuatu. Bahkan suaranya sudah jarang sekali ia dengar di rumah itu.

 

Mika kehilangan. Tapi ia tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk memperbaiki semuanya. Kesalahannya begitu fatal sehingga Kenzo saja sulit sekali memaafkannya.

 

“Kenzo bisa enggak sih kalau Papah ngomong tuh lo tatap!” Hardik Gavin mulai jengah dengan kelakuan sang adik. Baginya, Kenzo terlalu kekanakan dan tidak bisa menghargai sang ayah.

 

Sementara Kenzo, yang sejak tadi berusaha untuk tidak meluapkan kemarahannya, malah tersulut akibat sang Kakak. Garpu dan sendok yang ia pegang kencang dibantingnya hingga denting keras terdengar karena tabrakan antara meja marmer dan benda metal itu.

 

Kenzo mengangkat kepalanya. Matanya berserobok dengan manik gelap Gavin yang balas menatapnya tak kalah tajam.

 

“Gak usah ikut campur.”

 

“Kenzo..”

 

Vania mencoba menengahi, tapi tidak membuahkan hasil karena kedua anaknya masih beradu tatap dengan sengit.

 

“Lo bisa sopan gak sih? Papah tuh Papah lo!”

 

Kenzo mendengus.

 

“Terus apa masalah lo bang?”

 

“Ya lo enggak sopan sama Papah. Papah ngajak lo ngobrol, tapi lo acuh enggak acuh kayak gitu. Lo punya otak enggak sih?”

 

Senyum miring terukur di bibir Kenzo. Ia menatap remeh sang Kakak yang membuat Gavin malah mengerutkan dahinya, bingung.

 

“Kenapa lo liatin gua kayak gitu?”

 

Kenzo menggeleng kecil.

 

“Enggak, lucu aja, Bang. Lo marah karena gua acuh sama Papah. Lo juga mempertanyakan di mana otak gua karena enggak sopan sama Papah. Tapi kenapa lo enggak nanyain hal yang sama ke Papah sama Mamah?” Tanyanya dengan sebelah alisnya yang terangkat.

 

“Maksud lo apa sih? Kenapa jadi bawa-bawa Mamah sama Papah? Ini tuh tentang lo!”

 

Mendengar itu membuat Kenzo tertawa. Tawa mengejek yang membuat Gavin, Vania, serta Mika semakin bingung.

 

“Kenapa enggak boleh bawa Mamah sama Papah? Lo lupa Bang kalau Papah juga acuh sama keadaan Tante Mella dan Kak Lea? Enggak lupa, kan? Nah, kenapa enggak lo tanyain juga ke mana otaknya Papah sama Mamah waktu itu sampai tega nyakitin dua orang perempuan baik yang sayangnya harus terjebak sama orang-orang jahat kayak kita?”

 

Pertanyaan Kenzo membuat ketiganya terhenyak. Mereka tidak menyangka jika Kenzo berani melebeli mereka termasuk dirinya sendiri sebagai orang jahat. Sebenarnya seberapa besar kekecewaan Kenzo terhadap keadaan yang ada?

 

“Jujur gua malu. Gua enggak nyangka ternyata gua juga jadi orang jahat untuk Kak Lea. Padahal Kak Lea orang yang baik banget. Gua udah gak punya muka lagi buat ketemu sama Kak Lea. Dan lo tahu kenapa?”

 

Tidak ada jawaban. Kenzo pun kembali melanjutkan ucapannya.

 

“Karena bahkan Kak Lea masih memperlakukan gua dengan baik. Dia enggak ngebentak atau mukul gua, walaupun dia jadi dingin. Tapi itu malah yang buat gua malu. Seharusnya Kak Lea maki-maki gua juga atau perlu tampar dan pukul gua karena gimana pun Mamah sama Papah gua, Mamah dan Papah kita…” Kenzo menatap dua orang setengah baya yang tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan penyesalahannya. Bahkan Vania sudah tidak bisa membendung tangisnya karena sesak yang begitu menyiksa dadanya.

 

“Yang jadi dalang dari semua penderitaan Kak Lea! Sekarang lo ngerti, kan, Bang? Lo pikir gua bisa gitu, seneng-seneng kayak sebelumnya, setelah tahu kalau kebahagiaan gua berasal dari rasa sedih dan kecewa orang lain? Mikir, Bang!”

 

Setelah mengatakan itu, Kenzo beranjak meninggalkan meja makan. Ia tidak memedulikan tangisan sang Mamah, penyesalan sang Papah, dan keterdiaman Gavin. Ia tahu dia hanya seorang anak SMA yang masih belum tahu banyak tentang kehidupan, tapi setidaknya ia tahu kalau kehidupannya selama ini salah. Dan ada yang harus ia tebus untuk mengganti semua kebahagiaan yang telah dirinya renggut tanpa ia ketahui.



T . B . C


- DF -

Comments

Popular Posts