DANDELION: Aza • 05


 

"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."


.

.

.


Sedari tiba di acara kantornya, Aza sudah dibuat kesal oleh berita yang ia dengar dari seorang rekannya. Belum juga menikmati acara mewah itu, ia sudah harus memikirkan rapat evaluasi yang akan dilakukan Senin depan. Ia tidak habis pikir dengan atasannya, kenapa senang sekali membuat anak buahnya ketar-ketir seperti ini.

 

“AZA!”

 

Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari si pemilik suara nyaring itu. Dan matanya menemukan sosok perempuan dengan dress merah muda yang berdiri di dekat meja berisi minuman, sedang melambai ke arahnya. Akhirnya Aza mendekat, masih dengan rasa kesal yang bercokol di dada.

 

“Kenapa tuh muka? Sepet banget.”

 

Aza memukul tangan Bella yang menyentuh pipinya.

 

“Diem lo. Jangan bikin gua tambah kesel.”

 

Ih.. kenapa sih? Ini tuh pesta kantor, harusnya seneng-seneng. Ini muka lo kayak cucian abis dicuci, kusut gitu.”

 

“Pesta.. pesta… kalau tau nyusahin divisi gua mending gak usah ngadain pesta kayak gini. Potong tumpeng aja di lobby kantor.”

 

Bella tertawa mendengarnya. Ia tahu acara seperti ini akan menyusahkan bagian keuangan, tapi sebagai staf biasa ia juga senang karena bisa menikmati acara mewah dengan hidangan yang akan sulit ia temui jika tidak difasilitasi seperti ini.

 

“Berhenti gak?! Enggak ada yang lucu tau!”

 

Hahaha.. lucu. Muka lo.”

 

Aza langsung melayangkan cubitan pada pinggang temannya itu sampai membuat gadis berambut sebahu dengan lesung pipi itu mengaduh dan memberhentikan tawanya.

 

“Sakit..”

 

“Biar tau rasa!”

 

Perdebatan kecil itu masih berlanjut sampai pimpinan perusahaan memasuki ballroom besar itu. Baik Aza maupun Bella langsung menghentikan keributan mereka dan menoleh ke arah dimana keluarga pemilik perusahaan datang.

 

Namun ada yang mengusik benak Aza, ketika melihat di belakang keluarga kaya raya itu ada sebuah keluarga lain yang tidak pernah ia sangka keberadaannya di sana. Keberadaan mereka tidak pernah lepas dari pandangan Aza. Kemana kaki mereka melangkah, apa yang mereka lakukan, Aza terus perhatikan dari tempatnya duduk.

 

Hingga acara dimulai, Aza masih fokus mengamati keberadaan mereka. Bahkan saat pemilik perusahaan maju dengan secangkir sampanye, matanya masih tetap fokus pada meja yang hanya diisi oleh keluarga tersebut.

 

“Malam ini diadakan sebagai bentuk terima kasih perusahaan dengan seluruh karyawan yang sudah bekerja keras sampai saat ini. Sekaligus untuk memperingati hari ulang tahun perusahaan yang ke 25 tahun.”

 

Tepukan tangan memenuhi seisi ballroom.

 

“Malam ini juga saya akan mengenalkan secara resmi firma hukum yang sudah bekerja sama dengan perusahaan selama 10 tahun terakhir ini. Saya akan panggilkan rekan sekaligus sahabat saya, Bapak Mika Alexander.”

 

Lagi-lagi tepuk tangan para tamu memenuhi ruangan besar itu.

 

Mika berdiri dari duduknya setelah memberikan kecupan singkat di atas kepala Vania. Perlakuan yang tidak luput dari pengawasan Aza, yang membuat ia langsung mendecak sebal.

 

“Sok romantis..” Cibirnya.

 

“Eh lo ngomong apa?”

 

Aza menoleh lalu menggeleng cepat.

 

“Gak bukan apa-apa.”

 

“Maka dari itu, untuk keberlangsungan kerja sama ini serta kesejahteraan seluruh karyawan mari kita angkat gelas bersama.”

 

Seluruh tamu mengikuti arahan tersebut dan kemudian sama-sama berteriak cheers dan mendentingkan bibir gelas ke rekan terdekatnya sebelum meminum cairan transparan itu.

 

Aza yang muak langsung berdiri dari kursinya. Hal itu sontak membuat Bella yang berada di sebelahnya menoleh dan menatapnya dengan dahi berkerut.

 

“Mau kemana lo?”

 

“Ke toilet.” Jawabnya singkat lalu berlalu pergi dari sana.

 

Aza keluar dari ballroom dengan emosi yang membuncah. Kenapa Mika bisa mengenal pemilik perusahaan tempat ia bekerja? Kenapa dunia begitu sempit sampai-sampai ia masih harus terhubung dengan sosok Ayah yang begitu bajingan untuknya.

 

“Gila sesempit itu apa dunia ini? Kenapa si Adrian bisa sahabatan sama Mika?”

 

Aza mencuci tangan dengan mulut yang tidak berhenti mengoceh. Ia menumpahkan seluruh kemarahannya dengan omelan yang entah ditujukan kepada siapa. Beruntung keadaan toilet sedang sepi, kalau tidak bisa tamat riwayatnya karena berucap kasar sambil menyebut nama bosnya.

 

“Pantes aja sih, orang sama-sama brengsek.” Makinya, entah sudah yang keberapa kalinya.

 

Setelah selesai, Aza bergegas keluar. Ia menjadi malas untuk masuk kembali ke ballroom. Mood-nya menjadi kacau saat mengetahui keberadaan Mika dan keluarganya, apa lagi setelah melihat perlakuan manis Mika kepada Vania. Hal itu langsung membuat kepalanya mendidih.

 

Akhirnya Aza memutuskan untuk pergi ke area terbuka di sisi kiri ballroom. Setidaknya ia harus mendinginkan kepala dan tubuhnya dengan angin malam untuk bisa tetap tenang berada di dalam ruangan yang sama dengan keluarga yang masuk ke dalam top list pertama orang yang ia benci. Namun langkah kaki itu berhenti saat dari pantulan kaca yang akan ia buka, matanya menangkap keberadaan Adrian dan Varo serta seorang pria yang berdiri memunggunginya, sedang berbincang di sana.

 

Aza mengetahui dari pakaian yang dipakai kalau pria itu tidak lain dan bukan adalah Mika. Maka dengan rasa tidak pedulinya, ia memutuskan untuk tetap berada di sana setidaknya ia masih bisa merasakan embusan angin malam dari celah pintu yang sedikit terbuka. Sejujurnya ia tidak terlalu ingin tahu apa yang sedang mereka bertiga bicarakan. Ia seakan menulikan telinganya atas pembicaraan yang sedang berlangsung. Namun begitu telinganya mendengar namanya disebut, mau tidak mau Aza langsung menajamkan pendengarannya. Dengan rasa penasaran yang besar, Aza yang memutuskan untuk tidak mau mencuri dengar akhirnya menjilat ludahnya sendiri.

 

“Semua berjalan sesuai keinginan Om..”

 

Setelah itu, Aza tidak sanggup lagi berada di sana. Ia langsung membawa langkahnya pergi. Bukan masuk kembali ke ballroom, melainkan pergi meninggalkan acara yang baru saja dibuka.

 

“Aza.”

 

Bariton berat itu menghentikan langkah cepat Aza. Ia berbalik saat merasa mengenali suara itu.

 

“Gua anter pulang.”

 

“Vano?”

 

“Gua denger apa yang tadi lo denger. Sekarang mending lo pulang sama gua, dari pada nanti Nata nyariin lo.”

 

 

T . B . C


- DF -

Comments

Popular Posts