DANDELION: Nata • 03
Sore hari yang biasanya masih
terlihat aktivitas jual beli makanan, kini sudah terhenti. Mella menutup
warungnya lebih awal karena ia sudah berjanji kepada Aza dan Nata untuk membuat
kue cokelat. Katanya kedua anak itu ingin menjualnya di kantin sekolah. Selain
untuk mempromosikan usaha sang Bunda, mereka juga ingin memberitahu jika Bunda
mereka adalah orang yang pandai memasak.
“Bunda, aku taro sendok sama
garpunya di sini ya.” Ujar Nata yang meletakkan baskom yang dibawanya ke atas
meja di dekat tumpukan wadah sayur.
“Iya, tolong sekalian keringin
ya. Bunda masih ngeringin piring sama mangkuk.”
“Iya Bun..”
Di warung itu hanya tertinggal
Mella dan Nata, sedangkan Aza telah pulang lebih dulu karena ia diminta untuk
mempersiapkan bahan-bahan kue yang akan mereka buat.
Di tengah kegiatan merapikan
seluruh keperluan jualannya, suara langkah kaki berhasil membuat Mella
terganggu. Ia mengangkat pandangannya dari tumpukan piring yang tersisa
beberapa saja untuk dikeringkan guna melihat siapa sosok yang datang ke
warungnya. Ia bingung kenapa masih ada orang yang masuk padahal warung sudah
ditutup dan hanya tersisa satu pintu yang dibuka.
“Maaf, kami sudah tutup-”
Kalimat Mella terhenti ketika
menyadari siapa sosok yang kini berdiri di depan etalasenya. Sosok yang
berhasil menorehkan luka terbesar dan terdalam di hatinya. Sosok yang membuat
anaknya harus merasakan kehilangan yang tidak seharusnya dirasakan.
Mella mengepalkan tangannya
yang memegang kain.
“Kami sudah tutup. Anda bisa
datang besok jika ingin membeli makanan.”
“Mell-”
“Saya sedang sibuk. Anda bisa
pergi dari sini.” Potongnya cepat secepat kepalanya yang langsung menoleh untuk
kembali fokus mengerjakan pekerjaannya.
Sementara sosok itu tak mau
menyerah. Ia masih berdiri di sana walau merasakan sakit karena penolakan yang
ia terima.
“Mella, maaf. Aku sungguh
minta maaf.” Ucapnya.
“Aku tahu kesalahanku fatal
banget, tapi tolong biarin aku ketemu sama Lea. Aku mau minta maaf sama anak
kita.”
Mella yang sejak tadi sudah
berusaha keras untuk meredam emosinya, akhirnya meledak juga saat mendengar
nama Aza disebut oleh sosok itu. Terlebih dengan ia yang mengatakan Aza sebagai
anak mereka, padahal dia adalah sosok yang membuat Aza merasakan semua hal
buruk ini.
Kain yang sedari tadi ia
pegang erat dilemparkan ke meja. Hal itu membuat Nata yang berada di pojok
ruangan terkejut karena suara hentakannya yang cukup keras.
“Apa? Anak kita?” Mella
tertawa sinis.
“Dia anak ku. Cuma anak ku.
Sejak kamu mutusin buat selingkuh, sejak itu kamu kehilangan hak atas Lea!”
“Mell-”
Baru saja tangan besar itu
akan meraih tangannya, Mella telah lebih dulu menepisnya.
“Jangan sentuh aku! Aku enggak
sudi disentuh sama pengkhianat seperti kamu!”
Nata yang sejak tadi melihat
dan mendengarkan sang Bunda, akhirnya mendekati wanita yang terlihat begitu
emosi itu. Tubuh itu sampai bergetar dengan tangan yang mengepal begitu erat di
kedua sisi tubuhnya.
Ia berdiri di samping Mella
lalu meraih tangan wanita itu untuk ia genggam.
Sementara sosok itu terlihat
bingung dengan keberadaan Nata. Ia tidak mengenali siapa Nata.
“Maaf Bapak, tapi aku mohon
Bapak untuk enggak buat Bunda marah seperti ini. Aku enggak mau Bunda sakit karena
marah.”
Nata berucap dengan suara
anak-anaknya.
“Kamu?”
“Aku Nata, anak Bunda Mella sekaligus
saudara Aza, eh maksudnya Lea.” Nata memperkenalkan dirinya.
Tanpa melepaskan genggaman
tangannya, Nata melangkah maju. Ia berdiri di depan Mella seperti melindungi
sang Bunda dari sosok di depannya. Walaupun ia masih kecil, tubuhnya juga tidak
setinggi Mella, tetapi entah kenapa Nata merasa harus melakukan itu. Ia tidak
mau wanita yang sudah mau menerimanya dengan baik, terluka karena sosok yang
tidak ia kenali.
“Maaf Bapak siapa ya?” Tanya
Nata hati-hati.
“Nata kamu enggak usah ngomong
sama dia, dia-”
Nata berbalik lalu tersenyum
lembut kepada sang Bunda.
“Sebentar Bunda, Nata cuma mau
mastiin aja.”
Tubuhnya kembali menghadap
sosok yang terus memperhatikan keduanya.
“Maaf Pak..”
Suara Nata membuyarkan pikiran
berkecamuk sosok itu. Pria itu menatap Mella yang langsung membuang mukanya
sebelum kembali menatap Nata yang tengah menunggu jawabannya dengan sabar.
“Saya Mika, Papahnya Lea.”
Nata terdiam untuk beberapa
saat. Ia memperhatikan sosok Mika yang berdiri di depannya. Ia mengenakan
setelan jas, sepatu, dan jam tangan yang ia tebak tidak murah, lalu rambut yang
tertata rapi. Sebuah penampilan yang ia pikir mirip dengan ayahnya.
“Oh, Bapak Papahnya Az-Lea.”
Mika mengangguk dengan
tersenyum simpul.
“Pak Mika, sebelumnya aku mau
minta maaf, tapi aku mau bilang ke Bapak untuk enggak nemuin Aza dan Bunda
lagi. Soalnya aku enggak mau liat Bunda marah kayak gini lagi, dan aku juga mau
ngejalanin janji aku untuk ngelindungin Aza dari orang-orang yang nyakitin dia.”
Nata berucap yakin.
“Aku sama Aza sering cerita
banyak tentang kehidupan kita. Jadi kita sama-sama tau apa aja yang udah kita
alamin. Jadi semoga Bapak mengerti ya maksud aku ini..”
- DF -
.png)


Comments
Post a Comment