DANDELION: Nata • 06


 

"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."


.

.

.


Nata menghampiri Vano yang baru saja turun dari mobilnya. Dia bingung kenapa Vano bisa mengantar Aza. Bukankah Aza sedang menghadiri acara kantornya? Terus kenapa gadis itu sudah pulang padahal baru pergi tidak hampir dua jam yang lalu.

 

“Nat..”

 

Nata mengangguk lalu mempersilahkan Vano untuk masuk.

 

“Enggak di sini aja. Gua cuma nganter Aza aja.”

 

Nata menatap Vano lalu menoleh ke belakang ke arah pintu utama dimana Aza langsung masuk tadi.

 

“Kok Aza bisa sama lo?”

 

“Perusahaan bokap salah satu rekanan kantornya Aza, jadi gua dateng wakilin dia.”

 

Nata mengangguk, tapi bingung di kepalanya masih belum terselesaikan.

 

“Terus?”

 

“Tadi Mika Alexader dan keluarganya juga ada di sana.”

 

“Sial!” Umpat Nata

 

Dalam pikirannya terbesit pertanyaan mengapa dua laki-laki yang menjadi dalang kesakitan mereka bisa berada di tempat yang sama.

 

“Mika sama Adrian ternyata sahabat, dan acara tadi juga untuk mengumumkan firma hukum Mika sebagai firma yang mendampingi perusahannya Adrian.”

 

Nata langsung meralat pikiranya, bukan hanya berada di tempat yang sama, tetapi bagaimana bisa mereka bisa menjadi sepasang sahabat?

 

“Terus kenapa sama Aza? Aneh kalau Aza semarah itu cuma karena hal itu.”

 

Vano menarik napasnya. Sejujurnya ia tahu reaksi seperti apa yang akan ditunjukan oleh Nata begitu mendengar penjelasannya. Tapi ia juga tidak punya pilihan lain selain mengatakan apa yang telah terjadi tadi.

 

“Nat, sebenernya ini bukan hak gua. Seharusnya Aza yang cerita ini langsung ke lo, sama halnya dengan apa yang kita bicarain di café. Tapi gua juga gak mungkin buat lo clueless kayak gini.”

 

Tarikan napas panjang Vano membuat rasa cemas semakin menyesakan dada Nata. Ia takut apa yang akan didengarnya ternyata sebuah luka untuk Aza. Ia tidak mau Aza terluka, lagi.

 

“Tadi Aza denger pembicaraan antara Mika, Adrian, sama anaknya yang laki-laki.”

 

“Maksud  lo Alvaro?”

 

Anggukan kepala Vano menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut.

 

“Mereka ngobrolin banyak hal, tapi yang buat Aza langsung pergi dari sana itu, kalau ternyata diterimanya Aza di kantornya masih ada campur tangan Mika.”

 

“Serius?”

 

“Iya.”

 

“Gila!”

 

Tanpa sadar Nata memukul tembok pagar.

 

“Eh gila lo? Ngapain lo pukul tuh tembok?”

 

Nata menatap Vano lalu menghela kasar.

 

“Gua lagi kesel ya, jangan lo tambah-tambahin.”

 

Hening tidak dapat dielakan. Baik Vano dan Nata sama-sama tidak ada yang berucap. Vano yang sengaja karena ingin memberikan waktu bagi Nata, sedangkan Nata ia tengah mengatur emosinya yang tengah diacak-acak.

 

“Gua gak tau semarah apa Aza, karena gua yang denger aja rasanya kayak mau nonjok muka mereka.”

 

“Jujur ya Nat, tadi tuh pas gua mergokin Aza mukanya udah merah banget.”

 

Lagi-lagi Nata menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia berharap kemarahannya bisa mereda bersama dengan embusan napas panasnya.

 

“Tapi thanks udah anterin Aza.”

 

“Iya, santai aja. Gua udah anggep Aza kayak saudara juga, sama kayak lo.”

 

Entah kenapa setelah itu, tidak ada lagi yang berbicara. Selama beberapa menit terlewat hanya ada suara jangkrik dan angin yang berhembus di sekitar mereka. Mereka menikmati keterdiaman itu sampai Vano kembali membuka suara setelah dirasa cukup dengan aksi diam itu.

 

“Jadi gimana selanjutnya?”

 

“Gua udah bilang ke Bunda..” Tutur Nata tanpa melihat Vano yang juga sedang memandang lurus ke depan.

 

“Bunda setuju untuk gua buka kasus itu lagi.”

 

“Terus?”

 

“Dan gua akan buka kasus itu.”

 

“Aza gimana?”

 

“Gua akan bilang secepatnya.” Nata menoleh.

 

“Gua harap lo masih mau bantu gua lagi, Van.”

 

Vano menepuk pelan pundak sang sahabat. Lalu menyunggingkan senyumnya.

 

“Gua selalu bersedia buat bantuin sahabat gua sendiri. Tenang aja bro..”

 


T . B . C


- DF -

Comments

Popular Posts