DANDELION: 06
"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."
.
.
.
Adrian dan Mika memutuskan
untuk meninggalkan area ballroom demi ketenangan yang keduanya inginkan. Mereka
memutuskan untuk berbicara di area kiri gedung. Mereka berdiri di dekat tembok
pembatas.
“Selamat buat anniversary
perusahaan lo. Akhirnya mimpi lo untuk punya perusahaan sendiri terwujud.”
Adrian tertawa sambil
mengibaskan tangan ke depan.
“Makasih, tapi kalau enggak
ada bantuan lo pasti perusahaan gua juga gak mungkin bisa kayak gini.” Adrian
memberikan jeda untuk kembali menghadap hamparan taman yang hanya diterangi
lampu-lampu taman.
“Lo udah bantu gua dari awal
ngebangun perusahaan ini, lo yang ngenalin ke beberapa orang yang sekarang jadi
rekanan gua, dan lo juga yang selalu bantu permasalahan hukum gua. Ya
ujung-ujunnyag kesuksesan ini juga karena bantuan lo.”
Pembicaraan mereka terhenti
begitu angin berembus cukup kencang. Tidak ingin, tapi mampu memberikan efek
dingin bagi kepala mereka yang rumit.
“Kita udah temenan lama, jadi
udah sewajarnya kalau gua nolong lo sama keluarga lo.” Ujar Mika setelah diam
yang menenangkan itu.
Adrian mengangguk.
“Dri, gua mau nanya.”
Adrian melirik Mika yang
berdiri di sampingnya.
“Lo mau tanya tentang anak lo?”
Kini gantian kepala Mika yang
mengangguk. “Iya.”
“Kalau soal kondisinya,
kayaknya baik-baik aja. Gua belum dapet laporan kalau Lea izin karena sakit.
Selama dia kerja di sini, dia enggak pernah izin. Dia cuma pake jatah cutinya
aja, itu pun kayaknya buat liburan. Anak lo kuat juga ya, Mik.”
Tanpa sadar Mika
menyunggingkan senyumnya.
“Iya, Mella berhasil ngerawat
Lea dengan baik. Bahkan dari dulu Mella udah berhasil ngerawat dan ngebesarin
Lea.”
“Thanks Dri, lo mau bantu gua
soal Lea.”
Adrian yang sebelumnya
menikmati pemandangan taman dengan cahaya redup akhirnya mengalihkan atensinya
dan menatap sang sahabat.
“Tenang aja. Anak lo itu anak
yang pinter. Gua gak nyesel udah rekomendasiin dia ke HRD. Walaupun awalnya dia
diterima karena permintaan khusus, tapi pas liat kinerja dan kualitas
pekerjaannya, enggak perlu diraguin lagi. Dia pantes dapet kesempatan itu.”
Rasanya campur aduk mendengar
penuturan itu. Ada rasa senang dan haru karena keberhasilan sang anak, tapi ada
rasa sedih juga mengingat apa yang sudah terjadi di antara mereka.
“Thanks..”
Tepukan diberikan pada pundak
Mika.
“Itu gak seberapa sama bantuan
lo. Lo yang udah bantu Amanda dari kejadian waktu itu.”
“Gua cuma ngelakuin tugas
sebagai pengacara Dri. Itu kewajiban gua untuk bela istri lo.”
Adrian mengangguk. Lalu hening
kembali menyapa. Kedua pria setengah baya itu tampaknya lebih menyukai
kesunyian malam dibandingkan dengan keramaian dan kemewahan acara di dalam.
Padahal acara itu diadakan untuk merayakan hari jadi perusahaan dan juga kerja
sama antara mereka.
“Papih, Om, kalian di sini.”
Bariton lain terdengar yang
membuat Adrian dan Mika melihat ke sumber suara.
“Varo, ngapain kamu di sini?”
Alvaro menghampiri kedua pria
itu.
“Aku nyari Papih, soalnya
Mamih nanyain.”
“Bilang sama Mamih, Papih lagi
ngobrol sama Om Mika.”
Varo mengangguk.
“Oh iya, Varo makasih ya udah bantu
anak Om.”
“Enggak kok Om, saya gak
ngelakuin apa-apa. Memang Aza eh maksudnya Lea layak bekerja di perusahaan.
Saya cuma bantu ngasih berkasnya aja.”
“Tetep aja kamu udah bantu Om,
makasih ya.” Ujar Mika sembari menepuk lengan Varo.
“Itu karena kemampuan Lea
sendiri, dan..” Varo memberikan jeda singkat.
“Semua berjalan sesuai keinginan
Om.” Sambungnya lagi.
Mika hanya bisa mengangguk.
Sebenarnya ia tidak ingin melakukan hal ini, tapi jika ia langsung memberikan
bantuan pada sang putri, sudah pasti akan langsung ditolak. Jadi dirinya
memutuskan untuk meminta bantuan sang sahabat begitu ia mengetahui bahwa Lea
melamar di perusahaan sahabatnya itu.
“Oh iya, gimana sama proses
pencarian itu?”
Terdengan helaan napas berat
yang terhela dari mulut Adrian. Bahkan pria itu langsung tertunduk lesu.
“Belum ada hal baru. Semua
masih sama. Orang-orang suruhan gua masih belum nemuin Gio.”
Kini giliran Mika yang
memberikan tepukan penyemangat untuk sang sahabat.
“Yang sabar Dri, gua cuma bisa
berdoa semoga Gio bisa cepet ketemu dalam keadaan baik.”
“Thanks Mik. Gua merasa
bersalah banget sama Jessica. Kalau dia masih ada, pasti dia marah banget sama
gua karena udah buat dia dan Gio terluka.”
“Jessica pasti ngerti kok. Lo
juga gak tau kan kalau malam itu Gio pergi, kalau lo tau pasti lo akan cegah
dia. Jadi udah jangan nyalahin diri lo sendiri. Lo harus fokus untuk bisa
nemuin anak lo.”
- DF -
.png)


Comments
Post a Comment