DANDELION: 07


 

"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."


.

.

.


Sejak mendengar pertanyaan Aza, Varo merasa terus terusik. Ketenangan seperti direnggut darinya. Ia sulit untuk menjalani aktivitasnya seperti sedia kala karena ingatan masa lalu yang sudah ia coba kubur dalam-dalam seketika itu juga bangkit dan memenuhi pikirannya.

 

“Sial, kenapa gua gak bisa lupa?”

 

Varo mengacak rambutnya. Padahal ia sedang berada di kantor, tapi stres membuatnya tidak peduli lagi terhadap penampilan sekalipun. Bahkan ia sudah melepaskan dasi yang seharusnya terpasang di leher.

 

Saat pintu ruangannya diketuk dari luar, Varo hanya membenarkan posisi duduknya lalu langsung mempersilakan sang pengetuk untuk masuk.

 

“Maaf, Bapak diminta Pak Direktur untuk menemui beliau di ruangannya.”

 

Varo mengangguk dan mempersilakan sekretarisnya pergi.

 

Ia menghela. Ia tahu apa yang akan ayahnya bicarakan. Ini pasti soal Aza yang mengundurkan diri dan ia yang menyetujui surat pengunduran dirinya.

 

Karena tidak ingin membuat sang Ayah menunggu terlalu lama, Varo pun bergegas menuju ruangan sang Ayah yang memang berada di lantai yang sama dengannya. Namun, sebelum itu ia sempat merapikan penampilannya walau masih meninggalkan dasinya di sandaran kursi.

 

Kakinya mengayun santai menuju ruang direktur yang berada di sisi berlawanan dengannya. Ia berusaha untuk terlihat tenang demi menutupi rasa tidak nyaman yang mendominasi hatinya. Walau sulit, sebisa mungkin kekalutannya tidak boleh diketahui oleh sang Ayah. Biarkan dia menyelesaikannya sendiri karena ia sadar bahwa penyebab semua ini adalah dirinya sendiri.

 

Sesampainya di depan ruangan sang Ayah, Varo kembali menarik napasnya. Lebih dalam dari sebelumnya, lalu diembuskan perlahan. Ia mencoba menata rautnya sebelum kepalan tangannya menyentuh daun pintu hingga menghasilkan suara.

 

“Masuk.”

 

Varo membuka pintu dan masuk ke dalam setelah menutup pintunya kembali. Ia mendekati sang Ayah lalu duduk setelah pria yang tengah fokus pada pekerjaan itu mempersilahkannya.

 

“Kamu tahu kenapa Papih panggil?”

 

Kepalanya mengangguk ragu.

 

Adrian melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya. Matanya lalu menatap sang anak yang ternyata juga menatapnya dalam diam.

 

“Kenapa kamu menyetujui pengunduran diri Lea? Kamu tahu kan bantuan apa aja yang udah keluarga kita dapet dari Om Mika?”

 

“Iya, Pih. Tapi ini semua kemauannya. Aku udah coba tahan, bahkan aku ajak Lea bicara langsung, tapi dia tetep mau ngundurin diri.”

 

“Alesannya?”

 

Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Di satu sisi, ia merasa bukan ranahnya untuk menyampaikan kebencian Aza terhadap sang ayah, tapi di satu sisi lain ia tidak mungkin mengabaikan pertanyaan Adrian.

 

“Varo.” Panggil Adrian saat melihat anaknya yang malah diam dengan pandangan yang seakan menerawang jauh.

 

Sementara Varo, yang semula tertunduk, perlahan mengangkat kepalanya hingga kini matanya melihat bagaimana raut sang Ayah yang terlihat bingung dan kesal karena keputusan yang sudah diambilnya.

 

“Papih tahu kan hubungan Om Mika sama Lea?”

 

“Iya, lalu?”

 

“Lea ngundurin diri karena enggak mau punya utang budi sama Om Mika. Dia tahu dia diterima kerja karena ada hubungannya sama Om Mika.”

 

“Kamu enggak bilang kalau dia diterima karena dia layak. Dia punya kinerja dan hasil kerja yang bagus.”

 

“Udah Pih..” Ujarnya dengan gerakan kepala yang mengangguk.

 

“Tapi dia tetep mau ngundurin diri.”

 

“Tapi kenapa?” Tanya Adrian frustasi.

 

Pasalnya ia tidak tahu harus mengatakan apa pada sang sahabat yang sudah berharap padanya. Ia merasa gagal menolong Mika, padahal sudah banyak pertolongan yang dirinya dan keluarganya dapat dari sang sahabat.

 

Lagi-lagi Varo dilanda kebimbangan. Ia tidak yakin untuk mengatakan apa yang dilihat dan dipikirkan kepada sang Ayah, tapi ia sendiri juga tidak tahu harus menjawab apa jika tidak dengan hal itu.

 

“Varo enggak tahu pasti, tapi sepenglihatan Varo, Lea itu benci banget sama Om Mika sampai dia enggak mau nerima apa pun dari ayahnya, termasuk kemudahan ini.”

 

Keadaan ruangan tiba-tiba menghening. Ketegangan yang sebelumnya memenuhi atmosfer ruangan berangsur berganti menjadi sendu yang entah kenapa membuat Varo takut. Terlebih saat melihat sendu di mata sang ayah. Tidak tahu kenapa pikirannya langsung terbawa pada sosok yang telah pergi, dan itu karenanya.

 

“Papih yakin Om Mika pasti sedih banget denger ini. Papih bisa ngerasain itu. Dan sekarang Papih jadi bingung mau bilang apa ke dia. Permintaan Om Mika itu cuma ini, tapi Papih gak bisa bantu.”

 

“Varo tahu pasti ini sulit, tapi Papih harus ngomong yang sebenernya ke Om Mika. Daripada Om Mika tahu dari orang lain.”

 

Lalu hening saat Adrian tidak merespons jawaban Varo. Tiba-tiba saja pikirannya menjadi kalut, seakan dirinya kembali diingatkan pada sosok lain yang selama ini berusaha dicarinya, tapi belum juga ditemukan.

 

“Gio…” Bisiknya, tapi samar-samar dapat didengar Varo.

 

“Papih ngomong apa?”

 

Adrian, yang semula menatap ke luar jendela, menoleh hingga maniknya bertemu dengan obsidian sang anak.

 

“Kalau Lea bisa sebenci itu sama Om Mika, gimana sama Gio? Papih ngerasa kalau apa yang Om Mika alamin juga akan Papih rasain, entah kapan.”



T . B . C


- DF -

Comments

Popular Posts