DANDELION: 08


 

"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."


.

.

.


Varo meninggalkan kantor lebih awal dari biasanya. Sudah beberapa hari belakangan ini ia melakukan hal itu. Dirinya menjadi sulit berkonsentrasi pasca pembicaraan dengan sang ayah. Entah kenapa ketakutan kini begitu mengusiknya, mengambil alih seluruh pikiran sampai rasanya sulit sekali untuk fokus pada pekerjaannya.

 

Kepergiannya dari kantor tidak serta-merta membuat dirinya langsung berkendara ke rumah. Ia akan selalu menghabiskan beberapa jam di jalan hanya untuk mencari cara bagaimana rasa takut itu bisa ia lenyapkan. Tapi ternyata tidak semudah itu untuk membuat hatinya kembali tenang, dan mungkin ketenangan itu tidak akan pernah ia rasakan lagi selama kenyataan yang selalu ia tutupi masih tetap ia rahasiakan.

 

“ARGHH!” Teriaknya dengan memukul stir.

 

Varo benar-benar dirundung kemarahan. Marah pada dirinya atas kebodohan yang sudah ia lakukan. Ia sadar bahwa sebenarnya sosok jahat dalam cerita hidupnya adalah dirinya sendiri, bukan Gio ataupun ibunya. Karena dalam kenyataannya mereka hanyalah korban dari kesalahan sang Ayah.

 

Ia menghempaskan punggungnya ke sandaran jok. Bernapas dengan memburu sambil memegang stir begitu kencang. Rasanya ingin sekali melampiaskan seluruh emosinya, tetapi tidak tahu dengan apa. Karena itulah, Varo hanya bisa berteriak dan memukul di dalam mobilnya saat pengendara lain terus berkendara melaluinya.

 

Setelah membiarkan emosi menguasai dirinya, Varo perlahan mencoba untuk meredakan seluruh kemarahan yang bersarang di hatinya. Ia juga berusaha untuk menenangkan kerja tubuhnya yang berlebihan, seperti jantung yang berdetak kencang, napas yang memburu, serta darahnya yang berdesir cepat.

 

Ia harus kembali menjadi sosok Alvaro sebelum ketakutan dan kemarahan mengisi relung hatinya. Tidak boleh ada yang tahu apa yang terjadi pada dirinya. Lebih tepatnya, ia belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya. Ia masih takut dengan konsekuensi terburuk yang akan diterimanya.

 

Setelah mengembuskan napas yang panjang, Varo menghidupkan mobilnya dan bersiap untuk melaju pergi. Namun saat tangannya akan menurunkan tuas rem, matanya malah melihat keberadaan Aza yang keluar dari sebuah resto di seberang jalan. Aza yang saat itu ia pikir tengah sendiri, ternyata ada sosok laki-laki yang menyusulnya. Mereka bersama berjalan menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.

 

Rasa penasaran semakin menggelayuti benak Varo. Awalnya tidak ada niatan untuk mengikuti mobil itu, tapi sekarang ia malah mengendarai mobil putihnya mengikuti mobil hitam yang diikuti Aza. Entah kenapa ia merasa perlu mengikuti mantan karyawannya itu terlebih saat melihat sosok laki-laki itu.

 

Varo berusaha mengatur jarak mobilnya dengan mobil hitam di depannya. Ia harus memastikan bahwa Aza dan juga laki-laki itu tidak menyadari jika ada yang mengikuti mereka. Ia tidak mau ketahuan di saat belum ada jawaban untuk rasa penasarannya.

 

Hingga mobil hitam itu memasuki kawasan perumahan yang sebagian besar selalu memiliki taman kecil di area depan. Varo masih setia mengikuti di belakang dengan memberikan jarak yang cukup jauh agar tidak mengundang kecurigaan. Sebisa mungkin ia berkendara dengan pelan dan hati-hati untuk memastikan dirinya tidak tertinggal.

 

Begitu mobil hitam itu berhenti, ia juga menghentikan laju kendaraannya pada jarak empat rumah. Varo melihat Aza yang turun lalu berlari kecil menuju pagar dan membukanya. Bisa ditebak jika rumah itu adalah rumah dari seorang Azalea karena gadis itu yang menunggu di dalam sementara mobil hitam itu bergerak masuk.

 

Varo keluar dari mobil dan berjalan pelan mendekati rumah yang ia tebak sebagai milik mantan karyawannya itu. Ia berhenti dan bersembunyi di balik pagar tembok rumah itu. Dari tempatnya, Varo bisa melihat jika laki-laki yang mengendarai mobil itu turun setelah mengambil tas belanjaan dari kursi belakang. Melihat sosok itu lebih dekat menimbulkan rasa penasaran yang semakin besar karena Varo merasa tidak asing dengan laki-laki bertubuh tegap itu.

 

“Udah, Nat?”

 

“Iya udah..”

 

Samar-samar percakapan itu terdengar oleh Varo. Saat ia mendengar Aza menyebut laki-laki itu Nat, entah kenapa sebuah nama langsung muncul di dalam pikirannya. Apa lagi ketika ia teringat ucapan Aza mengenai anak kecil yang diusir.

 

Natahniel?, batinnya sambil terus mengamati gerak-gerik Aza dan laki-laki itu hingga mereka masuk ke dalam rumah dan pintu tertutup.



T . B . C


- DF -

Comments