DANDELION: Aza • 06


 

"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."


.

.

.


Sudah satu minggu ini Aza sampai di kantor lebih pagi dari biasanya. Saat tiba, ia akan langsung mengerjakan pekerjaannya sampai jam makan siang. Ia hanya fokus dan mengurangi intensitas percakapan dengan rekannya. Hal itu membuat Bella bingung bukan main.

 

“Lo kenapa sih?”

 

“Enggak apa-apa. Emang gua kenapa?” Aza balik bertanya dengan mata yang masih fokus pada layar datar di depannya.

 

“Aneh aja, lo jadi jarang ngobrol sama yang lain. Kerjaannya cuma kerja terus.”

 

“Namanya juga kantor ya buat kerjalah.”

 

Bella mendecak sebal. Karena mendengar jawaban Aza dan juga karena sang lawan bicara yang sama sekali tidak menoleh kepadanya.

 

“Itu gua tau, tapi masalahnya lo jadi jarang ngobrol sama kita-kita.”

 

“Ya ampun, gua tuh lagi banyak kerjaan, jadi wajar kalau gua jadi jarang hahahihi sama kalian. Udah deh jangan ganggu, gua lagi sibuk bikin laporan buat boss lo.”

 

Aza langsung mendorong bahu Bella agar menjauh darinya.

 

“Azalea.” Panggilan dari depan membuat Aza, Bella, dan juga karyawan lainnya menoleh.

 

Aza pun langsung berdiri ketika menyadari manajer HRD-lah yang memanggilnya.

 

“Bisa ikut saya.”

 

“Iya Pak..”

 

Lalu Aza mengikuti sang manajer dari belakang. Sebelumnya, ia sempat menepis tangan Bella yang memegangi tangannya dan bertanya ada apa.

 

Aza berjalan satu langkah di belakang pria yang usianya tidak terpaut jauh darinya. Ia bisa melihat pria itu membawa map yang isinya tidak ia ketahui. Sementara Aza sendiri juga tidak tahu akan diajak ke mana dirinya karena sedari tadi sang manajer hanya diam.

 

Saat denting terdengar, Aza kembali mengikuti langkah sang manajer untuk keluar dari lift. Aza mulai sadar ke mana ia dibawa. Ini adalah lantai di mana para petinggi perusahaan berada.

 

“Pak Alvaro ingin bertemu denganmu.” Ujar sang manajer saat mereka berhenti di depan ruangan bertuliskan wakil direktur.

 

Lalu ia mengetuk pintu ruangan tersebut dan membukanya ketika pemilik ruangan sudah memberikan izin masuk.

 

“Ayo..”

 

Aza mengangguk, lalu ia mengikuti langkah pria itu.

 

“Ini berkasnya, Pak.” Sang manajer memberikan map yang dibawanya.

 

“Terima kasih, kamu boleh balik ke ruanganmu.”

 

Pria itu mengangguk lalu pamit pergi, meninggalkan Aza berdua dengan Varo.

 

“Silakan duduk.”

 

Aza mengangguk lalu menempati kursi yang tersedia di seberang meja kerja Varo.

 

“Saya dengar kamu mengajukan surat pengunduran diri. Boleh saya tau alasannya apa?”

 

Ternyata benar tebakannya. Pemanggilan ini bersangkutan dengan surat pengunduran diri yang ia ajukan setelah rapat evaluasi Senin kemarin. Aza hanya tidak menyangka bahwa pengunduran dirinya harus sampai ke telinga wakil direktur.

 

“Iya, Pak, saya mengajukan surat itu karena saya pikir saya sudah cukup bekerja di perusahaan Bapak.”

 

“Kenapa? Apa kamu ingin kenaikan jabatan atau gaji?”

 

“Tidak, saya tidak menginginkan itu. Saya hanya sudah merasa cukup saja.” Jawab Aza dengan gelengan singkat.

 

Varo, yang sedari tadi membaca resume Aza, akhirnya meletakkan kertas itu untuk bisa menatap langsung sosok gadis di depannya.

 

“Hanya itu?”

 

Aza mengangguk.

 

“Benarkah?”

 

“Memang alasan apa yang ingin Pak Alvaro dengar dari saya?”

 

Alvaro mengangkat bahunya.

 

“Entah, tapi saya merasa ada alasan lain yang mendasari pengunduran diri yang mendadak ini.”

 

Aza akhirnya terkekeh. Sedari tadi ia telah berusaha untuk menutupi rasa jengkelnya, tapi Varo malah terus memancingnya.

 

“Jika Bapak sangat ingin tahu, maka mau tidak mau saya harus katakan, bukan?”

 

Senyum kecilnya terbit bersama dengan tubuh yang ditegakkan.

 

“Sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada Bapak karena mau menerima saya yang saat itu hanyalah seorang fresh graduate tanpa pengalaman apa pun. Saya sangat bersyukur atas hal itu. Namun, saya juga harus menyampaikan rasa kecewa saya. Saya pikir saya diterima di kantor ini murni karena kemampuan saya. Tapi ternyata tidak seperti itu.”

 

“Apa maksud kamu? Jelas-jelas kamu diterima karena kami percaya kamu mampu bekerja untuk perusahaan dan terbukti dengan kinerja kamu selama ini.”

 

“Pak Alvaro, tidak perlu berpura-pura lagi. Saya sudah mengetahui semuanya. Saya bisa bekerja di sini karena Tuan Mika Alexander, bukan?”

 

Mendengar itu langsung membuat Alvaro bungkam. Ia tidak tahu dari mana Aza bisa mengetahui hal yang hanya dirinya, sang Ayah serta Om Mika ketahui.

 

“Pak Alvaro, tidak perlu mempertanyakan dari mana saya mengetahui informasi itu. Saya hanya ingin Bapak menyetujui surat pengunduran diri saya. Karena saya sudah tidak ingin memiliki utang budi dengan Tuan Mika.”

 

“Hutang budi?”

 

“Ah, mungkin Pak Alvaro tidak akan mengerti, tapi yang jelas, keputusan perusahaan untuk menerima saya waktu itu membuat saya memiliki utang budi kepada Tuan Mika. Jadi saya harap Bapak mau menyetujui surat pengunduran diri saya agar saya tidak lagi berutang pada pria itu.”

 

“Baik, jika itu kemauanmu, maka saya akan menyetujuinya. Tapi bolehkah saya bertanya satu hal lagi?”

 

Aza mengangguk dan mempersilakan.

 

“Kenapa kamu menyebut bantuan Om Mika sebagai utang budi? Bukannya wajar jika seorang ayah mau membantu anaknya?”

 

Sepeti mendapatkan cubitan kecil saat Varo menyebutkan Mika sebagai ayahnya. Karena dalam kenyataan, tidak ada sosok Ayah di hidup Aza. Sosok itu telah lama mati bersama dengan sakit yang diciptakan oleh pria tersebut.

 

“Saya sepertinya perlu membenarkan ucapan Bapak mengenai sosok Ayah. Maaf sebelumnya, tapi Tuan Mika bukanlah ayah saya. Saya tidak punya ayah berengsek seperti dia.”

 

Varo tidak terkejut mendengar makian keluar dari mulut Aza, karena dirinya sedikit tahu tentang apa yang terjadi antara Mika dengan mantan istri dan juga anaknya.

 

“Saya tidak bisa menghakimi siapa pun, tapi saya hanya ingin memberikan sedikit masukan saja. Kenapa kamu tidak mencoba berdamai dengan semuanya, dengan memaafkan kesalahan ayahmu?” ujar Varo yang dihadiahi kekehan sinis dari seorang Azalea.

 

“Kalau menurut Pak Varo itu adalah baik, kenapa tidak Pak Varo dan Pak Direktur melakukan lebih dulu? Pak Varo tidak lupakan dengan anak laki-laki yang lahir dari seorang wanita yang direnggut kesuciannya dan berakhir anak laki-laki itu diusir saat hujan lebat?”

 


T . B . C


- DF -

Comments

Popular Posts