DANDELION: Aza • 07


 

"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."


.

.

.


Mella melihat anak gadisnya dengan bingung. Pasalnya, sejak pagi tadi anak gadis semata wayangnya itu tidak terlihat seperti biasanya. Aza yang bangun lebih siang, tidak terburu-buru untuk berangkat bekerja, malah tidak pergi sama sekali, lalu siang ini anak gadisnya malah sibuk memainkan ponsel di depan tv. Mau tidak mau, tanda tanya besar kini bercokol di dalam kepalanya.

 

“Sayang..”

 

Aza melepaskan atensinya dari layar datar di genggaman tangannya. Ia menoleh dan mendapati sang Bunda yang tengah membawa gelas berisi air berjalan ke arahnya. Ia pun menggeser sedikit duduknya untuk memberikan tempat bagi sang Bunda duduk.

 

“Kamu kenapa enggak ke kantor? Kamu sakit?”

 

“Enggak kok, Bun.” Ucapnya dengan melepaskan tangan sang Bunda yang menempel di keningnya.

 

“Terus kenapa?”

 

“Aku resign, Bun.”

 

Jawaban itu sontak membuat Mella terkejut. Kenapa sang anak bisa resign? Apa yang telah terjadi di tempat kerja anaknya ini?

 

“Kenapa? Kamu ada masalah? Ada yang jahatin kamu?”

 

Gelengan kepala Aza sedikit memberikan kelegaan bagi sang Bunda. Setidaknya tidak ada yang menyakiti sang putri walaupun dirinya masih belum mengerti kenapa Aza memutuskan untuk resign tanpa berbicara kepadanya.

 

“Terus kenapa?”

 

Aza yang tadi tubuhnya menghadap ke depan, saat pertanyaan itu ditanyakan, langsung mengubah posisinya hingga kini dirinya duduk menghadap sang Bunda. Ia meraih tangan wanita yang sudah berusaha keras untuk membesarkannya.

 

“Bun…”

 

“Cerita aja, Bunda enggak akan marah.”

 

Ia menarik napas yang panjang lalu diembuskan pelan.

 

“Bun, sebenernya aku resign karena Mika.”

 

“Maksud kamu?”

 

Lagi-lagi Aza mengembuskan napasnya.

 

“Aku keterima karena Mika, Bun. Mika ngomong ke pemilik perusahaan yang ternyata sahabatnya.”

 

Mella tidak langsung menanggapi karena terlalu bingung. Kenapa di saat hidupnya membaik, orang-orang di masa lalu malah mengganggunya lagi? Apakah mereka tidak puas dengan kehancuran yang diberikan? Apa masih perlu menghancurkan hidupnya dan sang anak? Perlu sehancur apa lagi sampai mereka puas?

 

“Bun..”

 

Usapan lembut yang Aza berikan menyadarkan Mella. Lantas ia membalas dengan menggenggam tangan sang putri.

 

“Kamu enggak apa-apa?”

 

“Aku enggak apa-apa.” Jawabnya dengan tersenyum penuh keyakinan.

 

“Aku juga udah ngelamar di perusahaan keluarganya Vano. Walaupun belum pasti karena Vano enggak bisa ngasih jaminan apa pun, aku juga enggak mau sih. Aku maunya diterima karena kemampuan sendiri, bukan karena bantuan orang dalem. Tapi maaf ya, Bun, mungkin gaji aku enggak akan sebesar sebelumnya.”

 

Mella menggeleng sambil mengusap surai Aza yang tergerai.

 

“Bunda gak pernah masalahin itu, sayang. Selama kamu nyaman, Bunda akan dukung.”

 

Aza semakin melebarkan senyumnya. Lalu ia merengsek masuk ke dalam pelukan sang Bunda. Melingkarkan tangannya dengan erat di pinggang wanita yang sangat dicintainya itu.

 

“Aku sayang banget sama Bunda.”

 

“Bunda juga sayang banget sama kamu, sama Nata. Kalian kebahagiaan Bunda.”



T . B . C


- DF -

Comments

Popular Posts