DANDELION: Nata • 07



"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."


.

.

.


Hitamnya langit telah menemani sejak sore tiba. Gemuruh pun sesekali terdengar dengan iringan suara angin kencang. Gio, yang saat itu baru pulang dari sekolah, langsung mengunci diri di dalam kamar. Selain karena memiliki ketakutan terhadap suara petir, ia juga sudah berjanji untuk tidak terlihat selama ia ada di rumah itu.

 

Ia tidak mau kehadirannya hanya menambah kebencian terhadap dirinya. Ia sadar bahwa dirinya hanya orang asing yang kebetulan bergabung di dalam keluarga harmonis yang sayangnya kini menjadikan dirinya bagian keluarga mereka, karena sosok pria dewasa yang mengaku sebagai ayahnya datang menjemputnya.

 

Dari dalam kamarnya, ia bisa melihat seberapa gelap langit di atas. Kilatan petir juga sesekali ditangkap indera pengelihatannya yang refleks langsung tertutup bersama dengan tangan yang ikut menutup telinga. Namun, deru kendaraan di bawah masih bisa didengarnya. Gio melihat mobil Ayah dan juga Ibu tirinya mulai bergerak meninggalkan rumah.

 

Melihatnya tidak menimbulkan perasaan apa pun. Nyatanya ia sudah terbiasa hidup seorang diri sejak sang ibu meninggal karena sakit. Lalu apa bedanya dengan kondisinya yang sekarang? Toh dia juga masih sendiri saja, hanya kini ia tinggal di rumah besar dengan segala macam fasilitasnya.

 

Tidak lama, setitik air jatuh. Gio terus memperhatikannya hingga titik demi titik itu menjadi semakin banyak sampai-sampai menghalangi jarak pandangnya. Ia jadi tidak bisa melihat jauh ke depan karena derasnya hujan yang turun.

 

Di tengah kegiatannya, rasa haus mulai dirasakan. Gio memeriksa tas sekolahnya. Sayang, botol minum yang ia pikir masih menyimpan air ternyata sudah habis tak tersisa. Mau tidak mau ia harus keluar untuk mengisi lagi botolnya sekaligus mengambil makan malam walau jam masih belum menunjukkan waktu makan.

 

 Gio melakukannya dengan cepat. Ia benar-benar tidak ingin terlalu lama berada di luar kamar, apalagi saat ayahnya tidak ada. Ketika semua yang ia butuhkan sudah siap, Gio berniat untuk segera kembali ke kamar. Namun, belum juga ia pergi meninggalkan dapur, kakinya sudah lebih dulu berhenti dan mematung begitu melihat kehadiran seseorang di depannya. Kepalanya secara cepat menunduk, tidak berani menatap sosok di depannya.

 

“Kamu ngapain?”

 

“A-Aku…”

 

“Apa?”

 

Gio kesulitan menelan salivanya. Belum lagi irama jantungnya yang bergemuruh begitu kuat. Hal itu membuatnya semakin diselimuti perasaan was-was.

 

“Aku mau ambil minum, Kak. Ini aku langsung mau pergi. Permisi.”

 

Kakinya akan pergi, tapi tangannya ditahan, yang membuat Gio mau tidak mau kembali ke posisi awalnya.

 

“Mau ke mana?”

 

“Ka-kamar kak.”

 

Sosok di depannya terkekeh. Lalu tanpa aba-aba menarik Gio hingga ke depan pintu.

 

“Kak Varo lepas..”

 

Gio berusaha melepaskan tangannya yang mulai sakit karena dipegang begitu kencang, ditambah tarikan yang semakin memberikan rasa linu di tulangnya.

 

Tidak lama, tangan dilepas bersama hentakan yang membuat tubuhnya terhuyung hingga jatuh terduduk.

 

“Kamu.” Varo menunjuk Gio yang sedang menahan sakit di tangan dan juga di bokongnya.

 

“Pergi dari sini! Kamu enggak berhak tinggal di rumah ini. Kamu itu cuma orang asing. Gara-gara Mamah kamu, Mamih jadi sering nangis. Kamu enggak boleh di sini. Kamu bukan anak Mamih dan bukan juga adik aku.” Makinya sambil mendorong bahu Gio yang hanya bisa tersedu.

 

Tubuhnya sakit karena dorongan dan juga tarikan itu. Tapi hatinya jauh lebih sakit mendengar makian itu.

 

“Kak jangan tutup pintunya.”

 

Gio berusaha menahan Varo. Tapi postur Varo yang lebih besar mampu mengalahkan kekuatan Gio. Hingga perlahan pintu bercat putih itu mulai tertutup. Namun, sebelum benar-benar tertutup, Gio masih bisa melihat sosok gadis kecil yang melihatnya. Gadis kecil yang saat pertama kali ia datang menyambutnya dengan hangat, lalu berubah dingin setelah beberapa hari.

 

Ketika pintu sudah tertutup dan terkunci, Gio hanya mampu menangis. Ia tidak mengerti kenapa ia mendapatkan perlakuan seperti ini. Ia tidak pernah meminta untuk dilahirkan dan ia juga tidak pernah meminta untuk dibawa ke rumah itu. Tapi kenapa ia yang seakan dianggap paling bersalah?

 

Gio tidak tahu lagi harus ke mana. Ia tidak mengenal siapa pun. Seharusnya ayahnya tidak perlu menjemputnya di panti asuhan kala itu jika akhirnya ia harus sendiri lagi. Biarkan saja ia di sana, setidaknya masih ada Ibu panti dan juga teman pantinya di sana. Tidak seperti sekarang ini. Hidup beberapa bulan di rumah besar tetapi seperti dikucilkan. Dan sekarang ia diusir di tengah lebatnya hujan yang turun, tanpa uang, tanpa tahu tujuan.



T . B . C


- DF -

Comments

Popular Posts