DANDELION: 09



"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."


.

.

.


Setelah memberi tahu juru masak, Mella kembali ke tempat penyimpanan untuk menghitung persediaan bahan yang masih tersisa, sekaligus mengecek kembali catatan yang diberikan pegawai gudang. Dimulai dari bahan basah hingga bahan-bahan kering, Mella memastikan kebutuhan yang ada cukup untuk kegiatan resto tiga hari ke depan.

 

Namun, pekerjaannya terhenti saat pegawai lain datang dan menginformasikan jika ada tamu yang ingin bertemu dengannya. Mella sempat bertanya mengenai tamu tersebut, tetapi pegawai itu tidak tahu hingga akhirnya ia menghentikan sejenak pekerjaannya untuk menemui tamu yang menunggunya di salah satu meja.

 

Mella keluar dan berjalan menghampiri tamu tersebut. Ia sempat berhenti di dekat kasir untuk mencari keberadaan tamu yang ingin bertemu dengannya. Dari posisinya, ia bisa melihat seorang pria dengan balutan jas duduk membelakanginya. Dari posturnya, Mella merasa tidak asing, tetapi dia tidak ingin mengambil kesimpulan lebih awal. Karena itu, Mella akhirnya menghampiri tamu tersebut.

 

“Maaf, ada yang bisa saya ban-”

 

Kalimat yang akan diucapkan terhenti begitu ia bisa melihat dengan jelas wajah tamu itu. Melihat wajahnya membuat darah Mella mengalir kencang. Jantungnya ikut berdetak cepat, seakan ingin melompat keluar.

 

“Kenapa kamu ada di sini? Mau apa kamu?” tanya Mella sengit. Emosinya selalu terbakar setiap kali sosok di depannya terlihat oleh matanya.

 

“Mella, bisa kita bicara?”

 

Mella mendengus. Ia mengalihkan pandangannya dari sosok itu karena tidak sudi menatap terlalu lama wajah yang telah menghancurkan hidupnya.

 

“Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Sebaiknya kamu pergi. Aku sibuk.”

 

Ia hendak pergi, tetapi sosok itu menahan pergelangan tangannya.

 

“Lepas!” desisnya sambil menarik tangannya dari genggaman tangan besar itu.

 

“Maaf..”

 

Sosok itu melepaskan tangannya.

 

“Tapi tolong beri aku waktu karena ada yang ingin aku bicarakan. Ini mengenai Lea.”

 

Mella bertahan di posisinya selama beberapa detik ketika mendengar nama sang anak. Ia ingin pergi, tetapi hatinya berkata untuk tetap di sana demi mengetahui apa yang akan sosok itu katakan. Dengan hati yang berat, Mella menarik kursi yang berhadapan dengan sang tamu lalu mendudukinya. Hal itu juga dilakukan oleh tamu tersebut yang kembali menempati kursinya.

 

Ada hening selama beberapa menit ketika keduanya tidak kunjung membuka mulut walau telah duduk berhadapan di meja yang sama. Mella menunggu lawan bicaranya mengatakan apa yang ingin ia katakan, sedangkan sang lawan bicara tengah dilanda kebingungan.

 

“Em.. apa kabar, Mel?”

 

Mella menatap sosok itu tajam.

 

“Tidak usah basa-basi, Mika. Bagaimana keadaanku bukanlah urusanmu. Jadi langsung saja katakan apa yang ingin kamu bicarakan!”

 

Tanpa sadar, napas Mika terhela begitu saja. Ia sudah memperkirakan hal ini, tetapi ia tidak menyangka akan sesulit ini berbicara dengan Mella.

 

“Baiklah.”

 

Ada jeda singkat yang Mika berikan sebelum ia kembali membuka suaranya.

 

“Aku ingin tahu kenapa Lea mengundurkan diri dari tempat kerjanya.”

 

Pertanyaan itu membuat Mella tertawa. Hal yang begitu lucu untuk ia dengar.

 

“Aza keluar dari sana itu karena kamu, Mika. Kamu terlalu ikut campur dalam kehidupannya. Kenapa kamu harus kembali lagi setelah membuang kami? Apa kamu masih ingin membuat kami menderita? Apa tidak cukup dengan luka yang telah kamu dan wanita itu berikan? Kenapa?!”

 

Mika menggeleng.

 

“Tidak seperti itu, Mel. Aku tidak berniat buruk padamu dan juga Lea.”

 

“Tapi kehadiranmu itu sudah melukai kami lagi. Kenapa kamu harus datang lagi? Kenapa kamu harus menggali luka kami? Kenapa, Mika? Kenapa?”

 

Tangis yang sudah berusaha Mella tahan akhirnya runtuh ketika ingatan masa lalu yang menyakitkan itu kembali teringat bagaikan putaran film di bioskop. Ia bisa melihat bagaimana dirinya di malam itu menggendong Aza tanpa tujuan setelah suaminya lebih memilih wanita lain dibandingkan dengan istri dan anaknya.

 

Tidak hanya sampai di situ. Saat Aza kecil masih berharap bertemu dengan sang Papah, laki-laki bajingan di depannya malah tidak pernah menunjukkan batang hidungnya. Hal itu semakin menyayat hati Mella sebagai seorang ibu yang setiap hari melihat seberapa sedihnya Aza. Apalagi ketika ia dirundung karena tidak memiliki seorang ayah. Luka di hatinya seperti ditaburi garam yang menimbulkan perih tiada tara.

 

“Ke mana aja kamu selama ini? Ke mana kamu saat Aza butuh kamu? Kenapa kamu enggak pernah muncul untuk nenangin Aza setiap kali dia nangis karena dibully di sekolah? Kenapa baru sekarang di saat Aza sudah tidak membutuhkan kamu? Di saat Aza sudah bisa berdiri dengan kedua kakinya tanpa ada kamu di hidupnya!”

 

Mika juga tidak bisa membendung tangisnya. Rasa bersalah itu semakin mengungkung hatinya. Ia sudah begitu jahat pada sang anak.

 

“Tangisanmu tidak akan pernah bisa menarik simpati Aza, karena anak perempuan yang seharusnya menjadikan ayah sebagai cinta pertamanya itu memilih untuk melupakan ayahnya karena terlalu lama merasakan kesakitan yang diberikan oleh ayahnya sendiri. Sakit, Mika. Aku sakit ngeliat anak aku hancur karena kamu.”

 

Mella mengatakannya dengan sesak di dada. Ia sampai memukul dadanya dengan kepalan tangan, berharap bisa menghilangkan sesak itu.

 

“Kamu enggak tau gimana Aza berusaha tegar, padahal aku tau dia juga enggak kalah hancur dari aku. Kamu enggak akan bisa ngebayangin saat Aza berusaha nahan nangisnya supaya aku enggak lihat dan dia nangis pas aku udah tidur. Aku tau semua itu karena aku pura-pura tidur. Aku mau memberikan Aza waktu untuk mengeluarkan seluruh kesedihannya. Dan kamu penyebabnya, Mika. Kamu!” ucapnya sambil menunjuk wajah Mika.

 

“Maaf, Mella. Maafin aku. Aku mau nebus semua kesalahanku. Tolong izinkan aku, Mella..” Mika tidak bisa tidak memohon. Jika perlu, ia rela bersimpuh di hadapan Mella agar wanita itu mau memberikan izin untuknya.

 

“Apa yang mau kamu lakukan untuk menebus kesalahan kamu itu? Enggak ada. Enggak ada cara untuk memperbaiki hati yang sudah rusak, Mika!”

 

“Aku akan melakukan apa pun untuk Lea..”

 

Mella menghapus air mata dari pipinya. Ia tidak ingin memperlihatkan air matanya lagi. Ia pikir sudah cukup menangisi mantan suaminya itu.

 

“Kamu pikir semudah itu untuk memperbaiki kepercayaan yang sudah rusak? Kamu pikir membantu Aza diterima bekerja bisa menyembuhkan luka di hatinya? Kamu pikir hadiah-hadiah yang kamu berikan bisa meluluhkan Aza? Kamu pikir kehadiran kamu bisa membuat Aza menerima kamu? Enggak, Mika. Enggak semudah itu!”

 

“Luka yang kamu berikan untuk Aza terlalu dalam, susah untuk menyembuhkannya. Bahkan aku enggak sanggup buat nyembuhin dia. Dan kamu tiba-tiba datang seperti pahlawan dan berharap bisa memperbaiki semua kesalahanmu itu? Gila kamu!”

 

“Mella.. please..”

 

“Lebih baik kamu pergi, karena kamu cuma buang-buang waktuku saja.”

 

“Tolong kasih aku kesempatan…”

 

“Pergi, Mika!”

 

“Mel..”

 

“Aku bilang pergi ya pergi!”

 

Mella meninggikan suaranya dan bersamaan dengan itu dadanya diserang rasa nyeri yang membuat ia mulai kesulitan bernapas. Hal itu langsung disadari oleh Mika yang melihat Mella memegangi dada kirinya dengan wajah menahan sakit.

 

“Mel, kamu kenapa?”

 

Mella tidak menjawab. Ia yang sudah berdiri langsung terduduk kembali saat dadanya semakin terasa sesak. Kondisi Mella yang menurun akhirnya membuat Gio, yang saat itu diberitahu oleh pegawai resto, langsung membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan dari dokter.


 

T . B . C


- DF -

Comments

Popular Posts