DANDELION: Aza • 08


 

"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."


.

.

.


Aza baru saja keluar dari gedung kantornya ketika sebuah mobil berhenti dan menghalangi jalannya. Ia mengernyit, tetapi rautnya langsung mendingin ketika penumpang mobil itu menurunkan kacanya.

 

“Lea..”

 

Tidak ada jawaban, Aza memilih diam.

 

“Boleh kita bicara?”

 

Rasa ingin menolak begitu besar, tetapi ada pemikiran lain yang membuat kepalanya mengangguk dan melankah masuk ke dalam mobil tersebut.

 

“Apa yang ingin Bapak bicarakan?” Tanya Aza setelah mobil berjalan cukup jauh dari kantornya, tetapi pria di sebelahnya tak kunjung membuka suara.

 

“Kita bicara setelah sampai, ya.”

 

Mendengar itu membuat Aza menghela napas. Ada perasaan sesal yang kini mencuat dari hatinya karena telah menyetujui permintaan pria itu. Andai dia menolaknya, mungkin ia sudah dalam perjalanan pulang dan sebentar lagi akan sampai.

 

Mobil yang ia tumpangi akhirnya berhenti. Dapat dilihat jika kini ia akan dibawa menuju restoran mewah. Aza baru ingin bertanya, tetapi pria itu telah keluar lebih dulu dan menunggunya.

 

“Kenapa kita kesini?”

 

“Kita bicara sambil makan.”

 

“Ta-”

 

Belum sempat terucap, pria itu telah meninggalkannya. Mau tidak mau, Aza pun mengikuti langkahnya. Berjalan di belakang pria itu tanpa banyak bicara. Sampai ia berhenti ketika pria itu memasuki ruang privat dengan makanan yang telah disajikan.

 

“Ayo, tidak usah sungkan.”

 

Lagi-lagi Aza hanya mampu menghela napas lalu mengikuti pria itu.

 

“Jadi, apa yang ingin anda bicarakan? Jika Pak Adrian sampai mengajak saya ke tempat seperti ini pasti begitu penting ya…”

 

Adrian tersenyum. Namun, dirinya tidak langsung menjawab. Ia malah mengambil makanan ke atas piringnya.

 

“Kita makan dulu.”

 

Kesabaran Aza sudah di ambang kehabisan. Ia sudah benar-benar kesal dengan mantan bosnya ini. Rasanya ia ingin meledak karena Adrian terus saja mengulur waktu, membuang waktu saja.

 

“Maaf, Pak, jika tujuan Bapak ke sini untuk makan, maka saya lebih baik pulang.”

 

Masih dengan senyumnya, Adrian meletakkan alat makannya dan beralih menatap Aza.

 

“Baik, kalau itu mau kamu.” Ujarnya, lalu mengambil gelas dan meminum isinya.

 

Adrian menumpukan kedua lengannya di atas meja dengan jemari yang ditautkan.

 

“Saya ingin tau alasan kamu mengundurkan diri?”

 

Tanpa Aza sadari, senyum miringnya terbit karena berhasil menebak apa yang akan Adrian bicarakan. Topik basi yang sebenarnya sangat malas untuk dibicarakan lagi. Namun, sepertinya Aza harus kembali menjelaskan semuanya dan menjadikan sore itu sebagai akhir dari masalah pengunduran dirinya.

 

“Saya hanya berpikir kalau saya sudah cukup mendapatkan pengalaman bekerja di perusahaan Bapak. Maaf, Pak, bukan karena perusahaan Bapak buruk, hanya saja saya merasa perlu mencari suasana baru.”

 

“Hanya itu?”

 

Aza menganggukkan kepalanya. “Iya.”

 

Kini gantian Adrian yang menarik napas dan mengembuskannya perlahan.

 

“Lea, kamu bisa berkata yang sebenarnya kepada saya.”

 

“Sepertinya Bapak sudah tau, lalu untuk apa Bapak membuang waktu untuk bertanya kepada saya?”

 

“Lea..”

 

“Simpel, Pak, saya hanya tidak ingin memiliki utang budi kepada siapa pun.”

 

“Tidak ada utang budi. Kamu bisa bekerja di perusahaan karena kemampuan kamu. Selama ini pekerjaan kamu juga memuaskan.”

 

Aza mendengus.

 

“Karena saya selalu berusaha semaksimal mungkin dalam bekerja. Tapi Bapak tidak akan mengatakan itu kalau saya bukan siapa-siapa, benar?”

 

“Apa maksud kamu?”

 

“Dengan Bapak memanggil saya Lea saja itu sudah cukup menjadi jawaban dari pernyataan saya, kan? Karena nama Lea itu sudah tidak ada, Pak, tapi Bapak mengenal saya sebagai Lea.”

 

Aza mengambil tasnya yang ia simpan di kursi sebelah. Ia rasa sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Maka dari itu, ia memutuskan untuk pergi. Namun, baru saja ia berdiri, Adrian kembali mengajukan pertanyaan yang begitu menyebalkan untuknya. Mau tidak mau ia kembali mendaratkan bokongnya di atas kursi.

 

“Kenapa kamu tidak mau menerima bantuan dari Papah mu?”

 

Mendengar itu membuat Aza terkikik sinis. Kepalanya menggeleng seperti tak habis pikir dengan pertanyaan itu.

 

“Orang tua yang saya punya cuma Bunda. Saya sudah hidup hanya berdua dengan Bunda sejak 20 tahun lalu. Jadi saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan Bapak itu, karena orang yang Bapak maksud tidak ada di hidup saya.”

 

“Tapi dia tetep Papah kamu. Dia cuma mau yang terbaik untuk kamu. Dia mau bantu kamu.”

 

Kini bukan hanya kikikan tetapi tawa yang pecah dari mulut Aza.

 

“Pak Adrian sudah terlalu jauh ikut campur dalam kehidupan pribadi saya.”

 

“Kalau kamu berpikir seperti itu, jangan anggap saya sebagai atasan kamu. Anggap saya sebagai sahabat Papah kamu.”

 

 Kepala Aza menggeleng. Lelah sudah tidak bisa ia tahan lagi, apalagi emosi yang mulai membakar dirinya. Rasanya ledakan kemarahannya bisa terjadi kapan saja karena Adrian yang terus memancingnya.

 

“Kenapa Bapak seperti ngotot sekali membantu sahabat Bapak itu? Memang apa yang sudah dia lakukan sampai Pak Adrian Andersn menemui saya secara langsung hanya untuk menanyakan alasan pengunduran diri saya?”

 

Adrian memasang senyum kecilnya.

 

“Banyak Le, Papah kamu sudah banyak bantu saya dan keluarga.”

 

“Benarkah?”

 

Adrian mengangguk.

 

“Baik sekali. Sayangnya, tidak dengan saya dan Bunda.”

 

Senyum Adrian luntur seketika itu juga. Ia menatap bingung Aza yang terlihat begitu marah.

 

“Dia bisa berbuat baik sama Bapak dan keluarga, tapi malah menyakiti keluarganya sendiri, lucu kan?”

 

“Tapi Papah kamu sudah menyesali perbuatannya dan dia mau memperbaiki kesalahannya.”

 

“Menurut Bapak nih, apa penyesalan seseorang bisa menyembuhkan luka yang begitu dalam?”

 

Adrian bungkam. Lidahnya kelu dan suaranya seperti menghilang.

 

“I-Itu..”

 

“Kenapa? Bapak tidak bisa menjawabnya, kan?”

 

Aza mendengus. Lalu ia kembali berdiri dengan menenteng tasnya.

 

“Daripada Bapak ikut campur urusan pribadi saya, lebih baik Bapak urus permasalahan Bapak sendiri. Mungkin sekarang Bapak masih belum sadar, tapi saya jamin Bapak akan merasakan apa yang sahabat Bapak rasakan kalau waktunya sudah datang.”

 

“Kalau begitu saya pamit. Permisi.” Lanjutnya, lalu benar-benar pergi meninggalkan Adrian yang termenung di tempatnya.



T . B . C


- DF -

Comments

Popular Posts