DANDELION: Aza • 09



"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."


.

.

.


Di rumah itu, tidak seperti biasanya, karena sore menjelang malam, seluruh anggota keluarga sudah berada di rumah. Kenzo yang belakangan ini selalu pulang malam, anehnya, di hari itu sudah tiba sejak matahari masih bersinar. Katanya latihan sedang libur dan sudah tidak ada agenda lain di sekolah. Sedangkan Gavin memang di hari itu hanya menemui satu klien dan setelahnya ia langsung pulang.

 

Walaupun begitu, keadaan di rumah sudah tidak lagi sama. Dulu ruang tengah selalu ramai ketika seluruh anggota keluarga sudah berada di rumah, tetapi sekarang sudah tidak lagi. Kenzo tidak pernah lagi menghabiskan waktunya untuk berkumpul dengan keluarga. Ia lebih memilih berada di kamarnya, bermain gitar atau game online di komputernya. Ia keluar jika memang perlu saja, seperti saat makan, contohnya.

 

Namun, di sore itu dia meninggalkan kamarnya setelah samar-samar mendengar keributan dari lantai bawah. Awalnya Kenzo tidak ingin tahu, tetapi telinganya mendengar suara orang lain yang membuat rasa penasaran itu menggerakkan Kenzo.

 

Kenzo menuruni tangga dengan menajamkan indera pendengarannya. Ia belum benar-benar berada di lantai bawah, tetapi ia sudah bisa mendengar dengan jelas keributan itu.

 

“Kenapa anda datang menemui Bunda? Bukannya sudah saya katakan untuk jangan pernah datang lagi!”

 

“Maafin Papah, Lea..”

 

“Maaf, maaf, maaf terus. Berhenti minta maaf, saya muak mendengarnya!”

 

Kenzo semakin mempercepat langkahnya begitu sadar siapa pemilik suara itu. Sesampainya di lantai satu, kakinya pun langsung bergerak menuju sumber suara yang berasal dari ruang keluarga. Ketika sampai, Kenzo melihat keberadaan Aza di sana. Tentu saja ia terkejut, apalagi dengan kemarahan yang begitu jelas tercetak di wajah saudaranya itu.

 

“Kak Lea?”

 

Aza, Gavin, dan kedua orang tuanya menoleh. Namun Aza langsung kembali mengalihkan pandangannya.

 

“Ini ada apa?” tanya Kenzo yang masih tidak mengerti.

 

“Pah, kenapa sama Kak Lea?”

 

“Mah..”

 

“Bang..”

 

Namun Kenzo tetap tidak mendapatkan jawaban. Semua orang yang ia tanyai tidak kunjung membuka suara. Karena itu, dia memberanikan diri untuk menghampiri Lea dan bertanya langsung pada perempuan itu.

 

“Ada apa, kak?”

 

Dengan hati-hati, Kenzo menyentuh pundak Aza. Dia memang tidak mengetahui alasan keberadaan Aza di rumahnya, tetapi yang pasti ia ketahui adalah Aza tengah diselimuti amarah yang besar. Terlihat dari wajahnya yang merah, napas yang memburu, serta tangan yang mengepal kuat di sisi tubuhnya.

 

Aza, yang pada dasarnya tidak pernah membenci Kenzo, menjadi sedikit luluh dengan usapan yang ia terima di pundaknya. Ia tidak bisa menutupi rasa sayangnya untuk Kenzo sejak pertama kali mereka bertemu. Tapi dirinya juga benci fakta bahwa Kenzo lahir dari wanita yang menghancurkan bundanya.

 

Aza menarik napasnya lalu melepaskan tangan Kenzo dari pundaknya. Lalu kembali menatap Mika, masih dengan kemarahan yang belum surut.

 

“Kenapa anda menemui bunda? Apa belum cukup derita yang anda dan istri anda berikan untuk bunda? Kenapa harus bunda, ha? Anda mau buat bunda sakit dan ninggalin saya? Apa sih maunya anda? Kenapa anda selalu ganggu saya dan bunda? Apa anda enggak bisa membiarkan kami bahagia dengan hidup kami?”

 

“Maksud papah bukan gitu, sayang.”

 

“Stop!” Lea mengangkat tangannya, membuat Mika berhenti berbicara.

 

“Jangan panggil saya dengan sebutan itu, karena saya tidak sudi mendengarnya!”

 

“Baik, maafin papah. Papah enggak ada niat buruk sama bunda kamu. Papah ketemu sama bunda kamu karena mau nanya soal kamu.”

 

Aza terkekeh sinis.

 

“Enggak ada niat buruk? Lucu lo!” ucapnya, marah.

 

“Jaga bicara lo, yang sopan kalau ngomong sama papah!” Gavin berkata dengan marah setelah mendengar Aza menyebut Mika dengan kata yang tidak sopan.

 

Mendengar bentakan Gavin tidak membuat Aza menjadi takut atau meredakan kemarahannya. Ia malah semakin ingin meledakkan seluruh kemarahannya kepada keluarga kecil itu.

 

“Lo yang diem, anj***!”

 

Untuk pertama kalinya mereka mendengar kata kasar keluar dari mulut Aza. Hal yang membuat keempat orang di sana tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Apalagi Gavin yang tidak menyangka akan mendapatkan makian seperti itu dari Aza.

 

“Asal lo tau, gara-gara bokap lo, bunda gua masuk rumah sakit. Lo tau gimana kondisinya? Dia drop dan harus dirawat! Dan itu karena bokap lo nemuin dia tadi siang,” teriak Aza sambil menunjuk Gavin.

 

“Jangan sok suci lo. Kalau bukan karena lo, nyokap lo gak akan hancurin keluarga gua. Harusnya lo sadar kalau semua ini gara-gara lo juga. Jadi gak usah sok ngajarin gua!”

 

Aza kembali menumpahkan kemarahannya kepada Gavin yang membuat laki-laki itu langsung terdiam. Belum reda rasa terkejut akibat kata kasar yang ia terima, Aza malah membuatnya semakin kehilangan kata-kata dengan kalimat yang menampar dirinya.

 

Sedangkan Aza, setelah menumpahkan seluruh ketidaksukaannya kepada Gavin, ia kembali menatap Mika yang masih dilanda rasa terkejut itu.

 

“Dan anda, Pak Mika. Saya tidak tahu apa yang anda bicarakan dengan bunda sampai bikin bunda masuk rumah sakit, dan saya juga tidak mau tau itu. Saya hanya mau anda tidak lagi menemui bunda. Jangan pernah ganggu Bunda. Kalau kalian enggak sengaja ketemu, jangan pernah menegur bunda dan anggap bunda orang asing. Kalau sampai hal seperti ini terjadi lagi, saya tidak akan segan-segan untuk membalas anda dan keluarga kecil anda ini!”

 

“Kak..”

 

“Diem, Ken. Aku belum selesai.”

 

“Dan untuk lo, Gavin, jangan pernah campuri urusan gua sama bokap lo. Jangan sok ngasih tau gua karena di sini yang seharusnya dikasih tahu kenyataan itu lo. Jangan pernah ngajarin gua sopan santun kalau nyatanya nyokap lo sendiri gak punya sopan santun!”

 

Gavin yang mendengar itu baru akan membuka suara, tapi Aza lebih dulu meletakkan telunjuk di depan mulutnya.

 

“Gak usah ngomong lagi karena yang akan keluar dari mulut lo adalah omong kosong karena lo enggak bisa nerima kebenarannya! Lo selalu ngelak sama fakta yang ada dan jadiin gua yang paling salah karena sikap gua. Ngaca dong! Lo sama gua enggak jauh beda, lo munafik dan gua gak sopan seperti yang lo bilang,” jelas Aza dengan perasaan marah yang menggebu.

 

“Dan untuk anda...” Aza beralih pada Mika yang masih terdiam di posisinya.

 

“Jangan pernah ikut campur lagi dengan kehidupan saya. Jangan berperilaku seperti seorang ayah yang baik dengan menolong anaknya mencari pekerjaan, karena itu tidak akan pernah terjadi. Cukup yang kemarin. Karena selama ini saya berhasil melewati seluruh masalah dalam hidup saya tanpa adanya sosok anda. Jadi berhenti berusaha karena semuanya sia-sia, Pak Mika Alexander.”



T . B . C


- DF -

Comments

Popular Posts