DANDELION: Nata • 08
"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."
.
.
.
Sudah hampir satu minggu Nata
tidak pulang karena harus menganalisis laporan yang diberikan bawahannya untuk
segera diserahkan kepada kepala kepolisian. Ia kurang tidur, tentu saja.
Ditambah dengan konsumsi makanan cepat saji selama dirinya berada di markas.
Tentu itu bukanlah hal yang baik. Namun, mau bagaimana lagi, keadaan yang
memaksanya.
Karena sudah begitu merindukan
rumahnya, Nata langsung merapikan meja kerjanya, termasuk laporan yang sudah
selesai untuk segera diserahkan kepada atasannya. Setelah semua barang-barang
pribadinya telah disimpan di dalam tas, Nata menyampirkan tali tasnya bersama
dengan laporan yang ia tenteng dan bergegas pergi. Ia menyerahkan laporan
terlebih dulu, baru setelahnya ia pergi dari markas.
Belum juga Nata menghidupkan mesin
mobilnya, getaran dari ponsel yang ada di saku menghentikan pergerakan
tangannya. Nata mengambil benda pipih itu dan langsung melihat layar yang menampilkan
sebuah pesan dari Vano.
Vano Max
Lo masih lembur? Ada yang mau gua omongin.
Nata sedikit tahu maksud pesan
itu. Karena itulah ia langsung meminta bertemu dengan sahabatnya itu.
You
Gua
baru mau pulang. Kita ketemu di resto aja. Gua juga mau ke sana.
Tanpa membuang lebih banyak waktu,
Nata langsung menancapkan gas untuk pergi dari area markas menuju resto milik
keluarganya.
Perjalanan yang ditempuh memang
membutuhkan waktu yang lebih lama, tapi Nata yang begitu tidak sabar begitu
dalam menginjak pedal gasnya. Beruntung tidak terjadi hal buruk pada dirinya,
sampai Nata bisa tiba di resto lebih cepat dari perhitungan normal aplikasi
pengarah jalan yang dipasang di mobil.
Ia keluar dari mobilnya dan
bergegas masuk. Di dalam ia melihat sang Bunda yang tengah membantu karyawan
lain. Nata langsung mengampiri bundanya dan memeluk wanita itu erat.
“Bun..”
Suara berat itu berhasil membuat
Mella tidak jadi memukulnya.
“Nata, kamu buat Bunda kaget
aja.”
Nata terkekeh dengan melonggarkan
pelukannya.
“Bunda kenapa enggak di rumah?”
“Bunda bosen sendirian di rumah.
Aza di kantor, kamu juga enggak pulang-pulang. Jadi yaudah Bunda ke resto aja
sekalian liat bahan-bahan.”
Nata mengangguk-anggukkan kepala
dan terlihat seperti anak kecil.
“Kamu sendiri kok malah di sini?”
“Tadinya aku mau pulang, Bun,
tapi mau ketemu Vano dulu. Jadi ke sini deh.”
“Terus kamu udah makan?”
“Belum, Bun...” jawab Nata dengan
menunjukkan deretan giginya.
“Mau Bunda bikinin makanan atau
pesen yang ada aja?”
“Pesen aja, Bun. Bunda masakin
aku pas di rumah aja.”
“Yaudah, Bunda pesenin ke juru
masaknya ya, kamu ke dalem aja sana.”
Lalu Nata mengangguk dan langsung
pergi menuju ruangannya. Sedangkan Mella pergi menuju dapur untuk meminta
tolong dimasakkan makanan oleh juru masak resto.
Nata langsung merebahkan diri di
atas sofa. Seluruh badannya terasa pegal, ditambah lapar yang menyiksa
perutnya. Beruntung ia memiliki seorang Bunda yang memberikan perhatian
kepadanya. Jika tidak ada, entah akan seperti apa hidupnya.
Rasa lelah yang Nata rasakan membuatnya
tidak sadar ketika Vano mengetuk dan masuk ke dalam karena tak kunjung
dipersilakan. Sahabatnya itu duduk di sofa tunggal di sana sambil memperhatikan
Nata yang tengah memejamkan mata dengan menutupi mata menggunakan lengannya.
“Nat..”
Panggilan pertama masih tidak
digubris. Lalu ia kembali menyebutkan nama sahabatnya, tetapi Nata masih belum
menyadari keberadaannya. Karena itu, Vano akhirnya mendekati sang sahabat dan
dalam hitungan ketiga ia mendaratkan telapak tangannya ke atas paha Nata.
Nata terperanjat dan langsung
menghadiahi Vano dengan umpatan kasar.
“Lo gila ya?!” makinya sambil
mengusap permukaan pahanya yang terasa panas.
Vano malah tertawa, yang semakin
membuat Nata kesal.
“Lo budeg sih. Gua udah panggilin
berkali-kali, tapi enggak bangun-bangun juga.”
“Ya, tapi enggak usah pake pukul
paha. Sakit gila!”
Vano mengabaikannya, ia lebih
memilih untuk menertawakan wajah kesal dan lelah Nata dibandingkan beradu mulut
dengan sahabatnya itu.
“Gak usah marah-marah, nih gua
kasih lo hadiah aja,” ujar Vano dengan melemparkan sebuah amplop cokelat ke
atas meja.
Nata mengambil amplop itu dengan
wajahnya yang kesal serta tangan yang mengusap pahanya. Ia membolak-balik
amplop lalu membukanya. Selembar kertas dikeluarkan dan dibuka lipatannya.
“Berarti laporan kita diterima?”
tanyanya setelah membaca habis isi surat tersebut.
“Kasusnya udah dibuka dan laporan
kita lagi diproses. Kita tinggal tunggu surat pemanggilan untuk keluarga
Andersn.”
Nata menganggukkan kepalanya
sebagai bentuk penekanan bahwa ia mengerti.
“Sebentar lagi lo akan berhadapan
sama mereka. Lo siap?”
Ia terdiam dengan pandangan yang
menatap lurus ke depan. Dalam diamnya, Nata berusaha mencari keyakinan pada
dirinya. Ia harus yakin karena jika tidak, usahanya selama ini hanya akan
berakhir sia-sia.
“Siap enggak siap gua harus
hadapin Van. Gua mau keadilan buat orang tua asuh gua, dan gua mau nunjukin ke
mereka kalau gua bisa berada di depan mereka dengan kepala yang terangkat.”
Ucapan Nata membuat Vano salut
dengan keyakinan dan kepercayaan sahabatnya itu. Ia tahu apa saja yang sudah
dilakukan dan dikorbankan Nata demi orang tua angkatnya. Dan Vano sebagai
sahabat akan berusaha sekuat mungkin untuk membantu Nata.
- DF -
.png)


Comments
Post a Comment