DANDELION: Nata • 09
"A broken family, a forced apology, and two children shaped by the same wound."
.
.
.
Nata dan Vano masih serius
membicarakan rencana mereka untuk menghadapi sidang ulang kasus kecelakaan yang
menimpa orang tua asuh Nata ketika ketukan di pintu serta kemunculan seorang
pegawai di ruangan itu. Pegawai itu datang dengan wajah panik yang membuat Nata
dan Vano berdiri dalam keadaan bingung.
“Ada apa?”
“Ma-Maaf, Mas, saya langsung
masuk, tapi ini gawat,” ucap sang pegawai dengan napas yang memburu.
“Tenang, kamu tarik napas dulu
baru berbicara.”
Pegawai itu menggeleng cepat.
“Enggak bisa, Mas, ini gawat.”
“Iya, gawat, kenapa?” tanya Nata
karena melihat wajah penuh kekhawatiran di raut sang pegawai.
“Bu Mella, Mas.”
Mendengar nama sang Bunda membuat
Nata langsung berdiri dari duduknya. Air mukanya berubah, khawatir takut
terjadi sesuatu pada wanita itu.
“Bunda, kenapa?”
“Bu Mella sesak, Mas.”
Nata langsung berlari setelah
mendengar kondisi sang Bunda. Sementara Vano mengikuti di belakang bersama
pegawai tersebut.
“Kenapa Tante Mella bisa sesak?
Bukannya tadi baik-baik aja?”
“Saya juga kurang tahu, Mas, tapi
Bu Mella sesak pas lagi ngobrol sama tamu resto.”
“Tamu? Siapa?”
“Saya juga kurang tahu, Mas, tapi
tamunya yang itu.” Pegawai itu mengangkat tangannya dan mengarahkan jemarinya
ke sebuah meja.
“Yang pake jas hitam itu, Mas,”
imbuhnya.
“Kayaknya Nata bakal bawa Tante
Mella ke rumah sakit,” tutur Vano saat melihat Nata yang tengah mencoba
menggendong Bundanya.
“Kamu sama yang lainnya lanjut
kerja aja. Untuk tamu itu biar saya yang urus.”
Pegawai itu mengangguk dan Vano
meninggalkannya di sana untuk menghampiri Nata yang akan bergegas pergi.
“Lo duluan aja, biar gua tanganin
resto dulu baru nyusul,” ujarnya sambil menepuk pundak Nata, dan Nata hanya
mengangguk lalu berlalu pergi menuju mobilnya dibantu seorang pegawai
laki-laki.
Kepergian Nata membuat sosok tamu
yang dibicarakan pegawai tadi berniat untuk mengikuti. Namun, langkahnya
dihentikan oleh Vano.
“Maaf, lebih baik Anda tidak usah
menyusul mereka.”
Sosok itu mengerutkan keningnya
dengan wajah bingung. Ia tidak mengenal siapa Vano, tetapi kenapa Vano seakan
mengenalnya hingga berani menghalangi jalannya?
“Siapa kamu? Kenapa kamu
menghentikan saya?”
“Saya sahabat dari anak wanita
tadi.”
Ia semakin tidak mengerti. Vano
hanya seorang sahabat, tetapi kenapa dia melarangnya untuk mengikuti Mella dan
Nata?
“Lalu? Saya tidak ada urusan
dengan kamu. Saya harus menyusul Mella. Saya harus tahu bagaimana kondisinya.
Jadi kamu minggir, jangan halangi jalan saya,” titahnya sembari berusaha
melewati Vano. Namun, Vano tetap berdiri di depannya, menghalangi pergerakannya.
“Tante Mella dan anak-anaknya
sudah saya anggap sebagai keluarga saya, dan kondisi Tante Mella yang drop ini
pasti karena Anda. Jadi saya berhak untuk melarang Anda, Bapak Mika Alexander.”
“Ka-Kamu tahu nama saya?” tanya
Mika terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Vano mengenal dirinya.
“Tentu, Anda adalah pengacara
dari perusahaan keluarga Andersn. Siapa yang tidak tahu soal itu?”
Jawaban Vano membuat Mika sedikit
bernapas lega. Tidak tahu kenapa dia begitu cemas ketika mengetahui bahwa
laki-laki muda di depannya mengenal dirinya. Padahal ini kali pertama dia
bertemu dengan Vano, tetapi rasa takut dan bersalah tidak bisa dihilangkan dari
benaknya.
“Tapi saya hanya ingin mengetahui
keadaan Mella. Saya tidak berniat buruk kepadanya.”
“Saya mengerti.” Vano memberikan
jeda. Ia menatap Mika dalam, mencoba untuk membaca isi pikiran Mika dari
tatapan dan raut wajahnya.
“Anda khawatir kan dengan Tante
Mella?” tanya Vano, mencoba mencari pembenaran dari asumsi yang dirinya buat
setelah mengamati wajah Mika.
Mika tidak menjawabnya. Hal itu
membuat Vano mendecak kesal.
“Tidak perlu dijawab, saya
sepertinya sudah tahu jawabannya. Tapi maaf, Pak Mika, saya tetap tidak akan
membiarkan Bapak. Saya tidak ingin kondisi Tante Mella semakin drop dan keadaan
semakin runyam karena kehadiran Bapak. Jadi lebih baik Pak Mika pulang saja,
dan…”
Kalimat menggantung Vano membuat
Mika merasakan perutnya seperti melilit. Ada ketakutan yang cukup besar yang
mengisi hatinya saat menunggu lanjutan kalimat tersebut.
“Jangan pernah temui Tante Mella
lagi kalau Bapak enggak mau Aza semakin membenci Bapak. Karena bagi Aza, Tante
Mella itu segalanya buat diri dia.”
Vano menatap Mika tepat di
matanya selama beberapa saat sebelum pergi meninggalkannya di restoran. Ia
mengambil ponsel dari saku celananya, lalu mengetikkan sebuah pesan sebelum
pergi menyusul Nata ke rumah sakit.
You
Ini
penting, jadi kamu izin ke HRD sekarang.
Nanti
aku share alamatnya dan kamu pergi ke alamat itu.
- DF -
.png)


Comments
Post a Comment