JOURNEY OF LOVE THE SERIES : Painfully Smile Part 5



PREVIOUS STORY :
MYSTERIOUS SIGHT
PAINFULLY SMILE
Cast : Park Gyuri
          Xi Luhan
          Kim Jongdae 


***** 






Gyuri POV


Ku tatap kembali layar ponselku untuk yang kesekian kalinya. Apa yang kulihat masih sama, tidak ada yang berubah dari waktu pertama aku melihatnya. Pesannya masih sama dan juga masih dari orang yang sama. Aku juga tak tahu kenapa, tapi pesan singkat darinya begitu menarik untukku. Rasanya berharga sekali.




Kadang kitalah yang harus mengerti keadaan, meski sulit. Karena pada intinya semua manusia ingin dimengerti, jadi ku harap kau bisa mengerti teman-temanmu. Mencoba mengalah bukan hal yang buruk.

From : Jongdae



Aku berpikir setelah membacanya kembali, walau sudah membacanya berulang kali aku tidak merasa bosan. Entah kenapa aku malah merasa kagum. Bolehkah aku bilang kalau aku terpesona dengan isi pesan ini? demi tuhan, aku baru pertama kali bertemu dengan orang sepertinya. Seperti Jongdae.



Awalnya aku merasa dia sama seperti pria lainnya, dan aku akui dia memang sama seperti pria lainnya. Tapi semakin mengenalnya perlahan aku merasa ada banyak hal yang membuatnya nampak sedikit berbeda dari pria seumurannya. Entah perasaanku saja atau bagaimana, tapi aku merasa jika Jongdae adalah titisan malaikat.



Fakta itu baru ku ketahui setelah seminggu belakangan ini karena sering berkirim pesan dengannya. meski bukan aku yang memulainya duluan. Pertama ia menanyakan kabarku dan seiring berjalannya waktu, kamipun mulai bertukar cerita. Aku tak ingat apa saja yang sudah ku ceritakan padanya, tapi aku sangat ingat tanggapan apa saja yang ia berikan ketika aku selesai bercerita. Seperti saat aku secara tak langsung membicarakan Sora, aku bilang jika aku kesal dengan seseorang karena orang itu mendapatkan apapun yang dia mau. Tapi tahukah apa yang ia katakan? Ia malah mengatakan bahwa tuhan itu adil, ia menciptakan manusia dengan kekurangan serta kelebihan, jadi aku tidak perlu kesal, karena bisa jadi apa yang ku miliki belum tentu dimiliki orang lain.



Tidakkah itu menakjubkan? Aku sampai malu setiap kali mengeluh padanya, karena sehabis itu ia akan mengutarakan pendapatnya yang sangat diluar pikiran. Aku jadi heran kenapa dia itu masuk fakultas seni musik, padahal dengan pola pikirnya yang seperti itu ku kira ia lebih tepat masuk fakultas psikologi atau mungkin politik.


DRRTDRRT


Lamunanku buyar ketika sesuatu di tanganku bergetar. Ahh..rupanya ponselku yang bergetar. Ternyata sebuah pesan baru dari Jongdae baru saja masuk. Dengan cekatan aku langsung membuka pesan itu bersama perasaan senang yang entah kenapa begitu meluap-luap. Aisshh…berlebihan sekali aku ini.


Jadi kapan kau mau berdamai dengan teman-temanmu? Ku harap secepatnya. Karena sangat disayangkan kalau persahabatan kalian hancur hanya karena kesalahpahaman kecil seperti itu. aku yakin kau bisa Gyuri. Hwaiting^^


From : Jongdae


Hatiku merasa tenang setelah membaca pesannya barusan. Yah…meski aku tak bisa menjamin jika aku bisa berdamai dengan mereka dalam waktu dekat ini, tapi setidaknya aku merasa ada sebuah keyakinan yang kumiliki sekarang. hah…tapi benar juga yang Jongdae katakan, persahabatan kami terlalu berarti untuk kesalahpahaman kecil itu. kesalahpahaman yang berawal dari Luhan sunbae.



Ya…aku memang sudah menceritakan semuanya pada Jongdae, dari awal bagaimana aku bisa kesal dengan Sora dan yang lainnya hingga aku bertengkar dengan mereka. ku akui aku memang bukan orang yang suka menjaga urusan pribadi rapat-rapat, jadi saat aku mulai bercerita aku malah menceritakan semuanya, termasuk perasaanku pada Luhan sunbae. Sebenarnya aku juga merasa tidak enak, takut kalau Jongdae menganggapku yang tidak-tidak. tapi aku juga tidak menyesal karena setelah menceritakan semuanya aku merasa lega.




******


Mataku masih ingin terpejam, tapi aku langsung menepis rasa kantuk itu kala suara eomma kembali meneriaki namaku. Aigoo…kenapa eomma suka sekali berteriak-teriak? Apa dia tidak takut pita suaranya itu lepas kalau terlalu sering berteriak.



Ku buka pintu kamar dengan malas, namun kupaksakan agar suara melengking eommaku berhenti. “ Ne eomma. Aku sudah bangun.” Ucapku tepat di depan eomma yang berada di depanku. “ Baguslah! Cepat mandi, kau itu anak gadis.” Aku mengangguk pelan. Tak lama ia pun berbalik dan pergi dari depan kamarku. Huft….akhirnya suara mengganggu itu pergi juga.



Langsung ku tutup kembali pintu itu dan berjalan ke arah ranjang. Huft…aku langsung terduduk di pinggiran ranjang tanpa ada niatan khusus. Aku baru bangun tidur, hingga rasanya aku masih cukup bingung untuk melakukan sesuatu.


Bantu aku membuat lirik.


Ucapan Jongdae waktu itu melintas dalam pikiranku. aku tidak tahu kenapa aku malah mengingat hal semacam itu. tapi anehnya aku langsung bangkit dan berjalan ke arah meja belajar. Mataku mengedar tepat ke sekitar meja belajar, mencari sesuatu yang ku perlukan. Akhirnya sebuah buku tulis kosong ku temukan, segera ku tarik sebuah kursi dan duduk di atasnya.


Tanganku sudah memegang sebuah pena, bersiap-siap untuk menumpahkan tintanya di atas lembaran kertas buku. Sebelum benar-benar yakin dengan apa yang akan ku tulis, pikiranku kembali menerawang, menimbang sesuatu yang menarik. Apa ya? Apa yang harus ku tulis?.



Tapi bukannya mendapatkan sebuah ide, aku malah semakin bingung karena pikiranku malah tak jelas, seakan semuanya menyatu jadi satu bagai benang kusut. Baiklah…daripada terlalu berpikir dan tidak mendapatkan apapun, lebih baik tulis saja apapun yang ku mau.



Berdegup…jantungku terus berdegup meski ku tahu senyum itu bukanlah untukku

Apa kau tahu bagaimana rasanya? Itu sakit sekaligus menyenangkan

Rumit memang, tapi itulah yang tersimpan dalam hatiku

Kadang aku berpikir mungkinkah kita bertemu jika bukan karena dirinya?



Tanganku berhenti bergerak yang lantas menghentikan goresan tinta hitam yang dari tadi ku torehkan di atas buku. Ku letakkan pena dalam genggamanku ke atas meja kemudian membaca ulang apa yang telah ku tulis. aku tertegun ketika selesai membacanya, aku tak mengerti dengan tulisanku sendiri. ini memang salahku karena menulis tanpa memikirkannya dulu. Tapi jika aku berpikirpun sama saja. tidak ada bedanya.



Ku sentuh rangkaian kata yang ku tulis di buku. Tidak. aku tidak sepenuhnya tak mengerti dengan tulisan ini. hanya saja aku tidak mengerti dengan orang yang kumaksud. Saat aku menulis, aku mencoba memikirkan apa yang terjadi padaku belakangan ini, termasuk Luhan sunbae. Tapi kenapa saat membacanya kembali aku merasa jika ini bukan hanya untuk Luhan sunbae, mungkinkah Jongdae?.



******




Author POV


Jamuan makan malam yang nampak berbeda dengan malam-malam sebelumnya, tak berpengaruh besar terhadap ekspresi yang ditunjukkan Jongdae. Walau biasanya ia menginginkan hal seperti ini, namun untuk sekarang rasanya makan bersama sang ibu atau sendirian sudah sama saja rasanya.  Ia tak mengerti dengan dirinya, bukankah harusnya ia merasa senang? Tapi kenapa ia malah seperti sekarang, makan dengan santai tanpa peduli dengan siapa yang ada di depannya, ibunya.


“ Kau kelihatan tidak senang.” Ucap Nyonya Bae Jiae memecah keheningan di tengah suasana makan malamnya. Wanita itu menatap baik-baik wajah putranya, seperti yang ia katakan sebelumnya. putranya kelihatan tidak bahagia.



Jongdae mengangkat kepalanya dan menatap sang ibu yang duduk di seberangnya. ia menghela nafas pelan, “ Perasaan eomma saja mungkin.” Jongdae kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dan terus menyibukkan dirinya dengan kegiatan itu. Jiae menganggukkan kepalanya, meski ia merasa perlu banyak bicara dengan putranya, wanita itu tidak melakukannya. Karena ia tahu, pasti anaknya sangat membenci dirinya yang sering mengabaikan putranya itu. lebih memilih pekerjaan daripada berada di sisi Jongdae. pergi ke banyak tempat dan jarang punya waktu untuk bertemu, sepertinya ia punya cukup banyak alasan untuk memahami perasaan putranya.



Acara makan malampun berjalan sesuai harapan, lancar tanpa adanya masalah. Namun karena terlalu lancar, acara itu menjadi begitu hening. Hanya suara dentingan alat makan saja yang terdengar. Hingga Jongdae menyelesaikan makannya, pria itu tak mengucapkan apapun. Ia langsung bangun dari duduknya.



“ Jongdae.”



Pria itu menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ke arah sang ibu yang masih menatapnya dari kursi meja makan. “ Ada apa eomma?” tanya Jongdae dengan serius. Jiae berdehem pelan kemudian memangku dagunya di atas tangan.



“ Kau sedang berkencan?” dahi Jongdae berkerut, namun setelah itu ekspresinya kembali berubah seperti semula. Datar dan tenang.
“ Eomma mengirim orang untuk mengikutiku?” tanya Jongdae balik yang membuat sang ibu terdiam sambil menelan ludah dengan perlahan.
“ Tenang saja, aku sudah tidak bertemu appa lagi. Jangan buang-buang uang yang eomma miliki untuk melakukan hal seperti itu. ku mohon.” Lanjut Jongdae sambil menatap serius ibunya yang nampak begitu terkejut dengan apa yang barusan ia katakan.



Tanpa memberi kesempatan pada sang ibu untuk melakukan pembelaan, Jongdae langsung meninggalkan ruang makan. Lagi, Jiae hanya bisa diam mendapat perlakuan seperti itu dari putranya. Tapi ia tak marah, karena ia tahu ia tak pantas untuk marah. Kalau bukan karena sikapnya, mungkin Jongdae tidak akan bersikap seperti itu. mungkin jika ia bisa meluangkan waktunya, putranya tak akan seperti tadi.




*******



Jongdae POV


Aku langsung berbaring saat baru saja sampai di dalam kamar. Sebenarnya tidur setelah makan tidak bagus untuk kesehatan, tapi untuk kali ini kuabaikan fakta tersebut. Menenangkan diri lebih penting untukku sekarang.



Dan beginilah aku, diam karena menyesali apa yang telah kulakukan di ruang makan tadi. Ya..aku menyesal karena bersikap kasar pada eomma. Tapi bolehkah aku membela diri, bolehkah aku bilang kalau apa yang kulakukan ini tidak sepenuhnya salah?. Apapun itu, aku tetap merasa jika aku bersalah. Kadang…aku merasa bingung pada diriku sendiri. aku tak pernah bisa benar-benar membenci eomma, pasti akan ada rasa menyesal setelah berkata kasar padanya.



Namun terkadang aku juga tidak peduli dengan apa yang eomma rasakan karena dia juga tidak memikirkan perasaanku, dia tak memikirkan bagaimana kecewanya aku saat tahu bahwa akulah satu-satunya siswa yang tidak didampingi orang tuanya. Sekitar satu tahun lalu aku mengikuti sebuah orkestra musik, aku ikut ambil bagian dalam acara itu. Hari itu merupakan hari yang sangat bersejarah untukku, karena aku bisa tampil di depan banyak orang dengan menampilkan kemampuanku dalam bermain piano. Tapi rasa senang itu langsung berubah drastis, kala aku tahu eomma tidak datang. eomma malah pergi ke Taiwan karena ada pertemuan penting. Jujur aku kecewa, hatiku hancur.



******



Gyuri POV

At Chung Ang University



Tahun baru dan misi baru. Mungkin itu yang ada di benakku saat ini, mengingat hari ini adalah hari pertama aku kembali bersekolah di tahun ini. Semangat untuk lebih baik berulang kali menjadi awal setiap aku ingin melakukan sesuatu. Begitu juga saat aku sampai di depan kelas yang hampir tiga minggu tak ku sambangi.

Ternyata sudah cukup ramai, ku kira aku akan menjadi orang pertama yang datang. Mataku terus mengedar untuk mencari kursi kosong yang bisa ku tempati. Akupun langsung berjalan menuju kursi yang kumaksud namun langkahku berhenti ketika mataku bertemu dengan mata Sora. gadis itu, maksudku Sora duduk di kursi tengah baris kedua, tempat dimana ia sering duduk.


Namun ku abaikan perasaan kacau itu, untuk saat ini aku sedang tak ingin mengurusi masalah itu. aku langsung duduk di kursiku kemudian mengeluarkan buku catatan dan membaca apa yang telah ku catat selama ini. sebenarnya aku tak benar-benar membaca, hanya saja aku ingin terlihat biasa saja. aku ingin menunjukkan bahwa aku baik-baik saja tanpa mereka, tanpa sahabat-sahabatku.



******


Hari demi hari terus berganti dan terus ku jalani dengan sendirian. Selama di kampus aku melakukan banyak hal sendiri, mulai dari mengerjakan makalah, mencari referensi buku hingga ke kantin. Walau terkadang aku juga melakukannya bersama beberapa teman sekelasku. Seperti saat ini contohnya. Aku sedang duduk seorang diri sambil memastikan buku-buku yang ku perlukan untuk mengerjakan makalah yang diberikan Jihye seosangnim.

Tanganku kembali membalik halaman buku yang tengah ku baca. Ahh…kenapa banyak sekali? Aku lelah membaca buku setebal ini. biasanya tugas seperti ini tidak terlalu berat karena ada Sora dan Nayoung, biasanya kami mengerjakannya bersama. tapi…AISSSHHH!!! Park Gyuri apa yang sedang kau pikirkan? Kau tidak boleh berpikir seperti itu! kau pasti bisa melakukannya sendiri. PASTI!!

Meski minatku mulai mengkerut, tapi akhirnya aku tetap melanjutkan kegiatan membosankan ini. Memahami serta mencatat beberapa bahan yang kuperlukan.

“ Serius sekali.” Ucap seseorang di saat aku sedang menyalin beberapa kalimat dari buku tebal ini ke buku catatanku.

Kegiatanku langsung terhenti seiring dengan kepalaku yang terangkat dan menghadap orang itu. Luhan sunbae?. Dia…sedang apa dia duduk di depanku?. Aigoo…kenapa dia muncul di saat aku membutuhkan banyak konsentrasi?.



Seperti biasa, dia hanya diam dan memfokuskan dirinya dengan novel yang sedang ia baca. Aiishhh…untuk apa dia kesini kalau hanya ingin duduk? Aigoo…Park gyuri, sadarlah! Ini tempat umum jadi terserah dia mau dimana saja. ahh…tapi kenapa dari sekian banyak bangku disini, ia malah duduk di depanku. Memecah konsentrasi saja.


Aku menghela nafas perlahan saat desiran darahku semakin menggila. Ah..ingat tujuanmu datang kesini Gyuri, jadi fokus! Baik…aku hanya perlu menyelesaikan tugasku dan pergi dari sini secepatnya. Abaikan saja dia, anggap saja tidak ada.

Walau sudah mencoba mengusir pikiran-pikiran aneh, tapi aku tetap tak bisa konsentrasi dengan tugasku. Pasti aku selalu meliriknya di sela-sela kegiatanku, bahkan saat menulis saja aku malah memperhatikan wajahnya.

Namun aku langsung mengalihkan pandanganku saat ia menegakkan tubuhnya. Aku mulai berpura-pura membalik lembaran buku yang sedang kubaca. Bertingkah seolah aku sedang sangat fokus dengan pekerjaanku.

“ Kau hanya sendirian? Sora dan yang lainnya mana? ”

Aku menatapnya kemudian mendengus pelan. Entah kenapa emosiku seakan terbakar saat ia bertanya begitu, tapi aku tidak mungkin memakinya kan? Aku perlu bersabar bukan? Karena bisa dipastikan sehabis ini perbincangannya tak akan jauh-jauh dari Sora.

“ Ya..aku sendirian dan aku tidak tahu mereka kemana.” Jawabku dengan sewajar mungkin. Tapi bukannya terdengar biasa, suaraku malah terdengar begitu sinis.

Ia hanya mengangguk kemudian menumpu dagunya di tangan kirinya. Laki-laki ini, maksudku Luhan sunbae malah menatapku dengan intens. Aku tak tahu kenapa ia seperti itu, tapi yang jelas karena perbuatannya itu aku jadi tidak bisa bersikap normal. Aku terus mengalihkan pandanganku ke sana kemari.

“ Sepertinya kau sedang ada masalah dengan Sora.” ucapnya yang membuatku terlonjak kaget. Aku menatapnya dengan ragu kemudian mendecak pelan. Ahh…kenapa dia masih menatapku seperti ini? apa dia tahu kalau tatapannya itu sangat menggangguku?.

“ Maaf..”

“ Ternyata benar. Tapi ku harap kalian tetap bisa bekerja sama untuk tugas mading.” Mulutku belum juga terkatup saat ia menyelak giliranku. Dan yang ia lakukan adalah menyimpulkan pikirannya yang membuatku kembali menghela nafas.

“ Kau tahu, kau bisa belajar banyak dari Sora. Dia itu bisa diandalkan, jadi kau….”


BRAAAKKK


“ BERHENTI!! BISAKAH KAU BERHENTI? AKU BOSAN MENDENGARMU MEMBANGGAKANNYA TERUS, AKU MEMANG TIDAK SEBAIK DIA. TAPI AKU JUGA BISA MENGERJAKAN TUGAS ITU SENDIRI, MENGERTI XI LUHAN?”

Ku tatap dirinya yang masih terpaku, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. ya…aku memang membentaknya. Aku tak peduli bagaimana pandangannya tentangku, aku sudah tak peduli, bahkan jika petugas perpustakaan memarahiku karena membuat kehebohan, akupun tidak masalah.

“ Aku permisi.” Ucapku setelah membawa semua barang-barangku.

Aku langsung beranjak dari bangku tadi dan berbalik untuk segera pergi dari tempat ini. aku berdehem pelan ketika banyak sekali orang yang memperhatikanku. Tapi aku tidak ku hiraukan, aku langsung melenyap dari tempat itu.


Dengan perasaan yang masih meledak-ledak, aku terus melangkah. Kalau bisa menghilang, mungkin aku akan menghilang sekarang juga dan pergi ke tempat yang bisa membuatku tenang. Kenapa? Kenapa di saat aku sedang mencoba untuk tidak mengingat hal itu, Luhan sunbae malah mengungkitnya? Bahkan ia menambahkan rasa sakit yang kurasakan.

Yah…aku memang bukan seseorang yang memiliki hati baja, benar kata Cheonsa, aku itu terlalu mudah tersinggung. Tapi apa hanya aku saja yang akan tersinggung saat orang yang ku suka dengan sangat jelas menyukai temanku sendiri? tidak hanya itu, aku juga sangat tersinggung karena Luhan sunbae terus mengatakan kalau aku harus belajar dari Sora. Apa aku salah jika merasa tersinggung?. Apa salah jika ada orang yang merasa tersinggung saat dirinya dibandingkan dengan orang lain?.

Kakiku berhenti melangkah kala mataku menemukan sosok Sora yang sedang berjalan bersama Nayoung dan Hara. Sekejap tubuhku lumpuh saat mata Sora menemui mataku, dan aku berani bertaruh jika Hara dan Nayoung juga sedang menatapku.

“ Park Gyuri!”

Namun tubuhku langsung berbalik saat seseorang memanggil namaku. Aku mendecak kesal. Kenapa orang yang memanggilku harus dia? Kenapa harus Luhan sunbae?.

Aku mengalihkan pandanganku ketika laki-laki itu menatapku, entah ada urusan apa ia berjalan mendekat ke arahku. Kalau sudah begini nafasku jadi tersengal, hatiku lelah. lelah karena harus merasakan dua perasaan yang bertolak belakang dalam waktu bersamaan.

“ Aku…”

“ Aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku tidak bermaksud kurang ajar seperti itu, tapi ku harap kau bisa mengerti. Oh ya, kalau kau ingin bicara dengan Sora, kau bisa bicara dengannya sekarang. maaf aku harus pergi.” Mulutnya terkatup saat aku memotong ucapannya dengan kalimat panjang yang sangat sarkatis.

Aku langsung memutar tubuhku dan kembali berjalan. Bisa kulihat banyak orang yang sedang mematung saat memandangku, mungkin mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. Seorang junior berkata kurang sopan pada seniornya, yah…pasti itu. tak berbeda dengan orang lainnya, kulihat Sora sedang menatapku dengan bingung, seolah sedang mengharapkan penjelasan.

Tapi aku terlalu sibuk untuk menjelaskan apa yang telah terjadi, lagipula itu memang tidak perlu. Aku lelah dan secepatnya ingin menghilang dari tempat ini. terserah jika orang lain ingin menganggapku bagaimana, bahkan jika Luhan sunbae ingin membenciku juga tidak masalah.


******  



Luhan POV


Aku menghela nafas panjang ketika semua anak telah keluar meninggalkan ruangan ini. ahh…lagi-lagi dia tidak ada. Ini sudah pertemuan ketiga dan aku tak pernah melihatnya lagi menghadiri ekskul ini. yah…memang semenjak kejadian di perpustakaan waktu itu, ia sudah tidak pernah kelihatan lagi. Dan kalian tahu? Aku merasa sangat bersalah. Tanpa diberitahu pun aku sudah mengerti kenapa dia tidak pernah datang lagi, pasti dia masih marah padaku atau mungkin dia sudah tidak sudi melihat wajahku lagi.


Aku memutar langkahku kemudian berjalan menuju meja di depan, tempat dimana Ryu Hoon dan Seo Jin berada. Mereka tengah berbicara entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak begitu mendengarkan lagipula aku memang tidak ingin tahu. Ku ambil tas ranselku kemudian menyampirkannya di kedua bahuku.


“ Kau sudah minta maaf padanya?” aku menoleh ke arah Ryu Hoon. untuk sejenak aku terdiam, kemudian kembali menatap Ryu Hoon dan Seo Jin. “ Belum.” Jawabku pelan.

“ Meski maksudmu baik, tapi caramu salah kawan. Lebih baik kau segera minta maaf padanya.” Tutur Seo Jin serius.

Aku hanya mengangguk pelan. Mengingat kejadian itu membuatku merasa buruk. Tapi sumpah demi apapun aku tidak bermaksud untuk mengecilkannya. Aku hanya ingin dia lebih giat lagi, sebenarnya apa yang pernah ia tulis, seperti puisinya tidaklah buruk. Hanya saja tidak  ada yang selesai. Yah…tapi aku akui aku memang salah.


******



Ku regangkan tubuhku setelah menyelesaikan tugas-tugas yang ku miliki. Langsung ku tutup dan ku bereskan semua buku yang berserakan di atas meja, kemudian menumpuk semua jadi satu. Aku bangkit dari kursi dan berjalan menuju ranjang. Namun langkahku terhenti kala mataku menemukan sebuah foto yang berada dalam bingkai yang terletak di atas meja. Dengan perlahan ku raih benda yang terletak di belakang rak kecil tempat aku menyimpan peralatan tulisku.

Ku pandangi foto yang selama ini sengahja ku simpan jauh dari jarak pandangku, meski faktanya aku masih menyimpannya di dalam kamarku. Ku elus permukaan kaca yang melapisi foto lama yang menyimpan segala kenanganku bersamanya, bersama Len Fang.





Dia adalah gadis yang pernah singgah di hatiku. Gadis yang pernah memberiku kesempatan untuk merasakan bagaimana rasanya punya kekasih walau hanya sebentar. Karena selepas lulus dari bangku sekolah menengah atas, dia memutuskan untuk kembali ke China. Jujur…aku sangat kecewa dengan keputusannya itu, tapi apa yang bisa ku lakukan? apa aku harus mencegahnya pergi dan tetap disisiku? Tidak. Biiar bagaimanapun aku tidak tega melihatnya kesepian karena tinggal jauh dari keluarganya.

Hmm…tapi itu sudah cukup lama. Aku sudah tak begitu memikirkannya, aku tak ingin berlarut-larut. Bukankah aku pernah mengalami kehilangan yang lebih hebat daripada kehilangannya? Kehilangan seorang ayah kukira lebih berat daripada cuma kehilangan kekasih.

“ Ternyata benar apa yang kau bilang aku harus mengurangi kebiasaan burukku. Baru-baru ini, kebiasaanku yang suka mengkritik secara terang-terangan telah menyakiti hati seorang gadis.”

Seperti orang gila aku menatap gambar Len Fang dan menceritakan apa yang ada di pikiranku. Aku menatap gambarnya dengan serius, berharap kalau setelah ini ia akan memberi tanggapan. Ckk…aku benar-benar gila sekarang. bagaimana mungkin foto bisa bicara?.


“ Dan kau tahu? Parahnya aku tidak bisa mengontrol kebiasaan itu padanya. Setiap melihatnya banyak sekali pikiran yang melayang-layang di kepalaku. Rasanya banyak sekali yang ingin ku katakan, dan aku merasa aneh. Aku ingin bicara banyak dengannya, tapi setiap kali bicara aku hanya akan membuatnya tersinggung. Aku bingung Len Fang..” lanjutku.

Meski tahu kalau kegiatan ini aneh, aku terus melanjutkannya. Bercerita pada foto yang tidak mungkin bisa mendengar. Tapi aku merasa nyaman dengan ini, aku membutuhkan tempat untuk berbagi cerita.



******


Author POV

At Chung Ang University

Kesibukan yang dari tadi membelenggu pelajar maupun pendidik, kini mulai terlihat lebih lenggang. Karena waktu istirahat telah tiba. Banyak orang yang memanfaatkan waktu ini untuk mengisi perut yang lapar, atau juga pergi dari ruang kelas untuk sekedar menyegarkan pikiran karena terlalu penat. Setiap bel istirahat berbunyi, semua penghuni kelas berlomba-lomba untuk segera meninggalkan kelas yang terasa membosankan.

Seperti seorang gadis yang baru selesai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, ia segera bangkit dari duduknya dan bergegas menuju pintu keluar. Langkah begitu tenang tidak seperti beberapa orang lain yang terkesan sangat antusias.


“ Gyuri..”  panggil seseorang di belakangnya. Gadis itu, Gyuri langsung berbalik ke belakang. Ia hanya memasang wajah datar ketika bertatapan langsung dengan orang yang baru saja memanggilnya.

  Kita butuh bicara. Ku rasa kau salah paham, ak..”

“ Yah..aku memang salah paham. Tapi untuk saat ini ku pikir tidak ada yang perlu kita bicarakan Sora.” selak Gyuri dengan tenang. Kelihatan sekali jika gadis itu sedang tidak ingin membahas apapun, ia sudah jengah dengan semuanya. Namun tidak dengan Nayoung, orang di sebelah Sora. ia malah memandang sinis Gyuri yang sebenarnya tidak melakukan salah padanya.

“ Sudahlah Sora, untuk apa kau bicara dengannya? ini semua sudah jelaskan? Jangan buang waktumu hanya untuk bicara dengannya.” cetus Nayoung sambil mendelik ke arah Gyuri.

Meski merasa kesal dengan tatapan Nayoung yang begitu mengintimidasinya, Gyuri tak melakukan sesuatu yang berarti selain diam dan menatap dua orang di depannya dengan tak bergairah. “ Kau dengar Sora? seharusnya kau jangan membuang waktumu hanya untuk bicara padaku.” Lontar Gyuri, kemudian ia memutar langkahnya dan bersiap untuk pergi keluar.

“ Tapi bisakah kita menyelesaikan mading bersama? aku butuh bantuanmu.” Ucapa Sora yang lantas membuat Gyuri berhenti. Gadis itu terdiam di tempatnya dengan pemikiran yang terus berlalu lalang, hingga ia sulit untuk menentukan mana yang benar. Namun ia meringis kala logikanya menemukan sebuah jawaban. Benar-benar bukan sesuatu yang membuatnya senang, tapi itulah kenyataannya.

“ Hhh…kau bisa menyelesaikannya tanpa bantuanku Sora. Kau tahukan, tidak banyak yang bisa ku lakukan?” sahut Gyuri masih dengan membelakangi lawan bicaranya.

Gadis itu bernafas panjang sambil menahan rasa perih yang ia rasakan. Kemudian menghembuskannya perlahan berharap bahwa rasa perih itu juga akan menghilang bersamaan dengan hembusan nafasnya. Tapi sayangnya tidak. tidak..karena ia malah merasa semakin tidak berguna.


******




Sora, gadis itu hanya diam ketika teman-temannya silih berganti melayangkan opininya tentang kejadian waktu istirahat tadi. Ia tak menambahkan apapun, ketika Hara dan Nayoung dengan kompaknya terus menerus memojokkan posisi Gyuri. Menyudutkan gadis itu, seolah ia benar-benar bersalah.

Rasanya kesal sekali saat salah paham menyelimuti kebenaran yang ada. Membuat Hara dan Nayoung terus menghakimi Gyuri yang sebenarnya tidak seperti apa yang mereka duga. Jujur…Sora ingin sekali berteriak, ketika berulang kali Nayoung mengatakan berbagai hal untuk membela dirinya. Ia merasa Nayoung terlalu berlebihan, meski ia tahu ia memang tidak bersalah dalam hal ini. tapi haruskah Nayoung mengecilkan Gyuri terus? Kenapa gadis itu seolah menutup matanya jika semua kekacauan ini juga disebabkan oleh sikapnya?.

“ Aisshh..benar! aku juga tidak mengerti kenapa dia terus menyalahkan Sora karena Luhan sunbae menyukainya. Benar-benar tidak beralasan!” suara  cerewet Nayoung kembali terdengar menimpali ocehan Hara.

Dengan sinis, dua orang itu saling melengkapi ketika membicarakan Gyuri. Mereka berdua seolah menyatukan misi, ketika bersahut-sahutan dan saling membenarkan keburukan Gyuri. Dan kalimat terakhir Nayoung tadi, itu merupakan puncak kegeraman Sora.

Gadis itu langsung menoleh ke arah Nayoung dan menatap gadis itu dengan kesal. Ia mendengus kasar, kemudian mendecak sinis ketika mendapati ekspresi Nayoung yang begitu bersemangat melanjutkan perbincangannya dengan Hara.

“ Tidak beralasan katamu?” tanya Sora dengan nada standar namun begitu banyak penekanan. Membuat Nayoung dan Hara mengerinyit heran melihat gadis itu. sedangkan Cheonsa dan Ji Eun, dua orang yang dari tadi hanya menjadi pendengar setia, melirik satu sama lain.

“ Dia menyukai Luhan sunbae.” Lanjut Sora yang terdengar tertahan. sejurus dengan emosi yang sedang ia tahan, ia mencoba untuk menjelaskan dengan cara baik-baik. meski nyatanya ia harus menahan matian-matian. Tapi sayangnya Nayoung tak membaca niat Sora dengan baik, ia malah membuang wajahnya sambil mendecak sinis.

“ lalu kenapa? Apa salahnya? Apa karena dia menyukai Luhan sunbae, jadi pria itu tidak boleh menyukaimu?”

“ Memang tidak salah! Tapi apa salah juga kalau dia merasa sakit? Apa salah? Gyuri memiliki hati yang sangat lembut, ku yakin pasti dia sangat sedih mengetahui kenyataan itu!”

“ Harusnya dia…”

“ Harusnya apa? kau ingin bilang apa Hara? Kau ingin bilang bagaimana? HAH? Mungkin kau bisa bersikap biasa saja jika orang yang kau suka menyukai temanmu sendiri. tapi tidak dengan Gyuri! Setiap orang punya tingkat ketabahan masing-masing! Dan Kau!” Hara hanya melongo hebat kala Sora berteriak padanya. Membentaknya padahal gadis itu tidak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya. Begitu juga dengan Nayoung, ia merasa tersudut ketika Sora menunjuknya tepat di depan wajah. Ia seperti melihat sisi Sora yang lain, sisi saat gadis itu sudah tidak bisa menahan kesabarannya.

“ Apa yang kau lakukan saat tahu Jung Kyu menyukai Hani? APA?”

“ Kau membenci gadis itu bukan? Kau bahkan tak sudi untuk melihat wajahnya lagi kan? Kau juga mengecapnya sebagai gadis perebut, padahal apa? Jung Kyu pun bukan pacarmu kan?”

Semua yang ada disana merasa tersentak, terlebih Nayoung. Tak bisa dihindarkan, jika ia gelagapan saat Sora memaparkan semuanya. Membuatnya tersadar bahwa yang ia lakukan bahkan lebih buruk dari Gyuri.

“ Semua tak akan sekacau ini kalau waktu itu kalian tak menyudutkannya, mengerti?” ucap Sora memperingati.

Iapun langsung beranjak dari tempatnya, pergi mendahului keempat temannya yang masih termangu. Dengan perasaan campur aduk, Nayoung menoleh ke sampingnya, tepatnya pada Cheonsa yang tengah tersenyum sinis padanya. Tak lama gadis itupun pergi ditemani Ji Eun yang tak lama juga meninggalkannya. Hingga hanya tersisa ia dan Hara.

Detakan jantung yang masih berpacu cepat akibat ucapan Sora tadi, begitu menyudutkan Hara maupun Nayoung. Secara sendirinya apa yang mereka rasakan menjadi objek yang membuat mereka begitu buruk. Dari mulai detakan jantung, desiran darah, hingga persedian yang mulai melemas.





******




Gyuri POV




Akhirnya aku bisa mengumpulkan makalahku pada Jihye seosangnim, dan yang membuatku semakin senang adalah saat Jihye mengatakan bahwa makalahku itu sesuai dengan apa yang dia harapkan. Sumpah… hanya karena ucapannya itu, aku merasa senang bukan main. Sepertinya ini awal yang baik untuk memulai hariku. Semangat dan penuh percaya diri, dua hal yang harusnya kumiliki sejak jauh-jauh hari.



Tapi apapun itu, aku sangat bersyukur. Karena sekarang aku merasa optimistik yang belakangan ini menggerus, kembali bertambah. Setidaknya aku bisa meyakinkan diriku sendiri bahwa aku juga berguna, aku bisa melakukan sesuatu dengan benar. Aku hanya perlu fokus pada sesuatu pekerjaan.


Namun kesenangan yang dari tadi ku besar-besarkan seolah tenggelam ketika dua orang di depanku tengah tersenyum lebar seperti dua anak kecil bodoh yang menggangguku. Sungguh aku tak bisa mengabaikannya kalau mereka memasang wajah seperti ini.



“ Gyuri…” panggil Ji Eun dengan nada manis dan panjang yang membuatku mual mendengarnya.


Aku hanya memutar bola mataku, ketika dua orang itu kembali memasang wajah bodohnya itu. Aku menoleh dengan cepat ketika merasakan tanganku sedang digenggam. “ Gyuri-aa…kau masih marah pada kami?” tanya Cheonsa sambil memainkan tanganku.



“ Aku tahu kami salah, tapi maukah kau memaafkan kami?”

 
Ku tatap Ji Eun sebentar lalu kembali membuang pandanganku ketika ia mulai bergerak untuk menatapku. Jujur aku masih kesal, tapi kalau seperti ini terus aku tak bisa menjamin kalau aku bisa bertahan pada pendirianku. Aigoo…


“ Sudahlah Cheonsa… Ji Eun…aku tak ingin membahas hal itu.” simpulku sambil melepaskan tangan Cheonsa. Aku melirik mereka berdua sekilas, kemudian beranjak pergi.


Aku bukannya ingin terus menerus seperti ini, aku juga ingin berbaikan dengan mereka. tapi masih ada rasa berat di hatiku. Jadi…aku tidak bisa memaksakannya, walau ku akui aku memang terlalu keras kepala untuk membuat semuanya nampak jauh lebih mudah.


“ Memangnya siapa juga yang ingin membahas hal-hal yang tidak menyenangkan?”


Aku terkejut bukan main. Secara tiba-tiba, tanpa kuduga Ji Eun sudah berada di samping kananku sambil melingkarkan tangannya di lenganku. Ia terlihat begitu senang dan ceria, berbeda sekali dengan aku yang masih tak bisa bersikap normal. Aku masih sangat terkejut karena perlakuannya itu.


“ Benar! Kita kan hanya ingin melakukan hal-hal yang menyenangkan, benar tidak?”


Hampir saja aku terjatuh kalau saja Ji Eun tidak memegangi lenganku. Bagaimana tidak? tanpa bilang lebih dulu Cheonsa langsung merangkulku dengan penuh tenaga. Apa kalian tidak tahu betapa besarnya tenaga yang dimiliki bocah ini? sungguh…ia bisa saja membuatku terjungkal.


Aku hanya bisa pasrah ketika dua gadis ini sudah berada di kanan kiriku. Sekarang ini aku hanya bisa mengikuti kemanapun mereka pergi, mendengarkan ocehan mereka yang tak kunjung berhenti. Bahkan telingaku hampir pengang mendengar suara tawa Ji Eun yang begitu menggelegar, belum lagi dengan suara melengking Cheonsa ketika memprotes suara tawa Ji Eun.


Sampai aku heran kapan mereka akan berhenti untuk menimbulkan kehebohan, karena hingga di kantipun mereka tak kunjung berhenti berceloteh. Dua manusia ini terus bicara seakan tidak pernah kehabisan topik untuk dibicarakan.


Oh ya, bicara tentang kantin. Aku juga heran kenapa aku bisa mengikuti mereka sampai sini. Bisa saja kan aku mengelak dan pergi dari mereka? tapi…ash..sudahlah! aku memang terlalu lemah untuk mengabaikan mereka.


Ku perhatikan dua gadis yang masih tertawa senang karena habis membicarakan yang sebenarnya tidak penting. Bayangkan…mereka bisa tertawa hanya karena membicarakan kepala botak Kang Soo ahjussi, penjaga sekolah. Yah…ku akui itu memang lucu, tapi bisakah mereka tak tertawa sekeras itu.



“ Hahaha….oh ya Gyuri kau mau pesan apa? ah…kau ingin lemon juice kan?”


Aku hanya mengangguk pelan ketika Ji Eun menanyakan apa yang ingin ku pesan. Meski masih belum berhenti tertawa sepenuhnya, gadis itu sudah bisa mengendalikan dirinya untuk bersikap lebih normal dari sebelumnya.

“ Eii..kau tidak bertanya padaku?” tanya Cheonsa kesal.


“ Aku sudah tahu apa yang kau inginkan, kau ingin memesan air bekas cucian piring kan?”


“ Yak!”


“ Keurae…kau ingin memesan Chocolate milkshake kan? Sudahlah! Aku sudah tahu apa pesananmu.” Ucap Ji Eun menyudahi. Ia pun langsung melesat meninggalkan aku dan Cheonsa untuk memesan minuman.


Pandanganku kembali mengarah pada Cheonsa, karena hanya dialah satu-satunya orang yang berasa di depanku. Ia memandangku dengan santai tapi membuatku ingin mencubit wajahnya. Karena ia seperti sedang menggodaku. Lama ditatap dengan cara seperti itu, aku pun mulai jengah.


“ Jangan menatapku begitu!” 

“ Kenapa? Memangnya aku menatapmu seperti apa? sepertinya biasa saja.” 

“ Ckk..lupakan!” tegasku. Okelah…sampai disini saja. aku tidak ingin memperpanjang urusan. Karena ujung-ujungnya aku hanya akan kalah melawannya.



“ Apa kau masih marah dengan Sora?” tanyanya dengan hati-hati.



Aku menatapnya kembali, kemudian diam, tidak langsung menjawabnya. Aku menundukkan kepalaku, menyisihkan sejenak waktu untuk berpikir.



“ Ayolah Sora tidak salah. Ya…mungkin pandanganmu dengan pandanganku berbeda, tapi bisakah kau sedikit berpikir positif? Meskipun Luhan sunbae menyukainya, tapi dia sudah memiliki Tao, jadi setidaknya kau tidak perlu terlalu cemas.” Paparnya lagi sambil menatapku serius. Tangannya bergerak ke sana kemari seperti sedang bicara dengan bahasa tubuh.



Helaan nafas lolos begitu saja. entah apa yang mesti kurasakan sekarang. apa aku harus marah, tapi kenapa? Apa yang dia katakan benar. Oh…kenapa aku jadi keras kepala seperti ini? kenapa aku mesti marah dengan Sora. Bahkan saat jelas aku tahu dia tidak melakukan kesalahan apapun.



“ Hei..kalian serius sekali.” Aku hanya melirik Ji Eun yang baru saja datang dengan membawa tiga gelas minuman.


“ Kalian sedang membicarakanku ya?”


“ Jangan terlalu percaya diri nona Han. Kami itu sedang membicarakan Sora.”


“ Oh begitu. Terus…bagaimana? Apa kau sudah tidak marah padanya lagi Gyuri?”

“ Aku tidak tahu.” Jawabku pelan. Tanganku langsung bergarak meraih gelas berisi orange juice pesananku. Tanpa bicara lagi, aku menyesap minumanku.


Setelah itu kami bertiga, ah..tidak! lebih tepatnya aku hanya diam tak mengatakan apapun. Sedangkan Cheonsa dan Ji Eun, dua gadis itu masih sibuk mengobrol, walau bukan membicarakan Sora lagi.





*******




At GavyNavy Café



Senyuman lebar langsung terpatri di wajahku ketika ku lihat dari kejauhan ada seseorang yang melambaikan tangannya. Tanpa buang waktu lebih banyak, aku berjalan menghampiri orang itu, yang tak lain adalah Jongdae. tadi sebelum pulang sekolah ia menelponku dan memintaku untuk datang ke sini. Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa dia menyuruhku untuk datang, tapi tak apalah. Lagipula bertemu dengannya bukanlah hal buruk.



“ Sudah lama?” sapaku padanya yang sedang menatapku dengan ramah, yah…memang beginilah dia. Memang sejak kapan seorang Kim Jongdae tidak bersikap ramah.
“ Lumayan..oh ya, kau mau pesan apa?”


Aku berpikir sejenak kemudian menatapnya lagi. Karena aku sedang tidak begitu lapar, sepertinya apa saja yang ia pesan tidak masalah. “ Apa saja. samakan saja dengan pesananmu.” Jawabku yang membuatnya menganggukkan kepalanya.



“ Bagaimana kalau Chocolate waffle ice cream? Hmm.. biasanya…”



“ Biasanya Sora memesan itu?” ia langsung mengangkat kepalanya dan menatapku dengan kaku. Sekejap suasana yang tadi bersahabat berubah menjadi kaku, bahkan ia seperti membatu dengan posisinya yang masih menatapku.



“ Ya sudah itu saja juga tidak apa-apa.” simpulku yang kemudian membuatnya menutup buku menu yang dari tadi ia baca. Ia segera memanggil seorang pelayan dan menyebutkan daftar makanan yang dipesan. Dan setelah itu, kamipun terdiam. Tak ada yang bicara, ataupun berniat untuk bicara. Jujur meski aku tahu semua ini karena ulahku, tapi aku sama sekali tak berkeinginan untuk memperbaiki suasana.



*******



Sampai pesanan datang dan pelayan telah selesai meletakkannya di atas meja, kamipun tetap tak bersuara. Baik aku maupun Jongdae langsung melahap makanan masing-masing. Mungkin jika aku tidak bicara seperti tadi, sekarang kami sedang berbincang, membicarakan banyak hal. Yah…setidaknya tidak seperti sekarang.


Hanya bunyi alat makan yang terus bersahut-sahutan mengisi hampanya atmosfer diantara kami. Kalau sudah seperti ini aku jadi merasa canggung, mungkin setelah ini Jongdae akan merasa kesal padaku. Biar bagaimanapun aku mengungkit seseorang yang sedang ia coba lupakan.


Ku angkat pandanganku. Kulihat ia masih serius dengan makanannya, dari air wajahnya ia terlihat sangat serius. Tidak terlihat seperti Jongdae yang biasa kukenal, yah…maksudku dirinya yang sering tersenyum. Aku menghembuskan nafas pelan kemudian meneruskan makanku.


“ Apa kau sudah berbaikan dengan teman-temanmu?”


Setelah lama berdiam-diam dan setelah aku menghabiskan setengah dari porsi makananku, akhirnya Jongdae bicara. Aku menghentikan gerakan tanganku, kemudian beralih pada kegiatan lainnya. Yaitu memandangnya.


“ Belum..tapi sepertinya aku sudah berbaikan dengan Ji Eun dan Cheonsa. Kemarin mereka menemuiku.” Jawabku yang membuatnya mengangguk. Ah…ku kira setelah bicara dia akan kembali seperti biasa. Ternyata tidak, dia tetap kelihatan…dingin?.


“ Aku masih sedikit kesal dengan Hara dan Nayoung, terlebih dengan perlakuan mereka.” lanjutku sengaja untuk membuatnya kembali bicara. Tapi bukannya bicara, dia hanya menatapku, menajamkan penglihatannya.



“ Sebenarnya aku sadar kalau dalam hal ini Sora tidak bersalah sama sekali. Tapi…..”

“ Tapi apa? Hmm? Karena Luhan?” aku menghembuskan nafas berat. Seakan kehilangan kesabaran. Baru kali ini aku merasa kesal dengan Jongdae. kenapa dia harus berkata seperti itu? kenapa dia bersikap seolah aku sangat salah? Aku memang salah, tapi haruskah dia memandangku dengan setajam itu?.



“ Bukan hanya itu, dia menganggapku tidak bisa melakukan apapun tanpa Sora. Coba kau bayangkan jika seseorang yang kau sukai bicara seperti itu di depanmu?” kesalku setengah berteriak.

Tak ingin kelewat batas, ku tatap nanar tumpukan es krim yang masih tersisa di piringku. Dengan kesal kusuapkan es krim itu ke dalam mulutku. setidaknya rasa dingin es mampu menormalkan tingginya emosi yang sedang ku alami.



“ Aku tidak bermaksud seperti itu Gyuri, aku…”

“ Ckk..sudahlah! aku memang salah. Tidak seharusnya aku bicara begitu di depanmu, mau cerita bagaimanapun kau pasti akan berpihak pada Sora.”

“ Cukup! Ini tidak ada hubungannya dengan siapa berpihak pada siapa Park Gyuri!”



Aku melongo hebat kala suaranya yang lembut berubah begitu keras dan menakutkan. Pandangan matanya yang biasa terlihat ramah kini berganti menjadi pandangan kesal, benar-benar membuatku tidak percaya dengan apa yang sedang kulihat. Jongdae..inikah dirinya?.



Entah mengapa tiba-tiba tubuhku bergetar, aku begitu kaget dengan sikapnya yang seperti ini. bahkan aku baru kali ini melihatnya mendengus kasar, kemudian menjatuhkan sendoknya begitu saja di atas piring, hingga suara dentingan nyaring terdengar. Membuatku semakin ketakutan.



*******




Author POV

At City Park, Seoul.



Sinar sang surya mulai menguning bahkan sudah memerah, menandakan waktu bergantinya matahari dengan bulan. Namun senja yang akan berganti dengan gelapnya malam, tak menyurutkan aktivitas di kota tersibuk di korea. Masih banyak yang berlalu karena pekerjaan, namun ada juga yang pergi keluar untuk melepas penat setelah seharian bekerja.



Di tengah sebuah taman kota yang disuguhi dengan pemandangan danau buatan serta pepohonan rindang, Gyuri duduk di salah satu bangku yang terdapat di sana. Ia baru kembali setelah sebelumnya pergi untuk membeli minuman hangat. “ Ini.” ia mengulurkan segelas kopi hangat pada seseorang di sampingnya. Orang itu menerimanya tanpa keberatan dan langsung menyesap dengan pelan larutan hangat itu.


“ Maaf aku tidak bermaksud untuk berkata kasar seperti itu.” ucap orang itu sambil menatap lurus ke depan.


“ Tidak apa-apa. Lagipula aku yang memulainya duluan.” Gyuri tersenyum cukup manis saat orang itu, maksudnya Jongdae menoleh padanya.


“ Tapi aku baru tahu kalau kau bisa marah. Ku kira kau itu tidak pernah marah.” Ucap Gyuri lagi yang mengundang tawa Jongdae.


Gadis itu hanya mengerinyit heran pada pria di sampingnya. Seingatnya, beberapa waktu yang lalu Jongdae sedang marah dengan menampakkan wajah seram dengan ekspresi menakutkan, kenapa sekarang berubah seratus delapanpuluh derajat?. Yah…walau tidak tertawa sampai terbahak-bahak, setidaknya pria itu sudah kembali dengan ekspresi biasanya.


“ Kau tidak tahu saja kalau aku sering sekali marah-marah. Bahkan aku lebih menakutkan dari apa yang kau lihat tadi.” Ujar Jongdae sambil menatap Gyuri yang kelihatan bingung. Pria itu merasa terhibur dengan ekspresi Gyuri yang terlihat begitu komikal. Dari mulai bingung, hingga terlonjak kaget.


“ Jinjja? Jadi sebenarnya…” ucapan Gyuri terputus. Gadis itu menatap serius pria di sampingnya, mencari sesuatu yang bisa ia temukan di mata pria itu.


“ Benar. Bukankah semua orang punya sisi seperti itu? Kita tidak selalu disuguhkan dengan hal-hal menyenangkan bukan? Kadang ada saja yang membuat kita kesal atau mungkin membuat kita benar-benar murka hingga kehabisan kesabaran.” Papar Jongdae. ia kembali berfokus ke depan, dimana ia melihat permukaan tanah luas beralaskan rerumputan hijau yang menyegarkan mata.


Gyuri menganggukkan kepalanya lalu mengikuti arah pandangan Jongdae, ke depan. gadis itu menghela nafas panjang kemudian menoleh pada orang di sebelahnya sekilas. Ia memandangi sebentar wajah Jongdae, dan mengambil sebuah kesimpulan yaitu semua orang pasti punya masa-masa sulit.


“ Aku bisa berlaku lebih kasar pada eomma. Aku sering bicara padanya seolah aku tak benar-benar menginginkannya. Aku selalu bersikap dingin padanya. Apa aku salah? Ya..aku memang salah. Tapi aku bukan malaikat, aku juga bisa marah, aku bisa kecewa.” Tutur Jongdae.


Gyuri memperhatikan Jongdae dengan seksama, terlebih saat pria itu mengatakan bahwa dirinya bukan malaikat. Bahkan pria sebaik dia saja tidak merasa jika dirinya malaikat. Pikir Gyuri dalam hatinya.

“ Aku jarang bertemu dengannya, jadi tidak salah bukan kalau aku ingin bertemu dengan appa?”

“ Kenapa tidak kau ketemui saja appa-mu?” 

“ Cckkk…tidak semudah itu. bertemu dengan appa saja membuat eomma terluka. Meski aku sangat kesal padanya, aku tak bisa melihatnya menderita.”


Untuk kesekian kalinya Gyuri menemukan hal baru yang tidak pernah ia pikirkan. Ia kembali meralat pikirannya, karena sebelumnya ia menyangka jika Jongdae dibesarkan di lingkungan yang menyenangkan. Tapi tidak. ia jadi ingat dengan apa yang pernah pria itu katakan padanya. Banyak sesuatu yang terjadi diluar apa yang kita pikirkan, meski kelihatan tidak meyakinkan, tapi namanya kenyataan mau diapakan lagi?.



“ Aku juga bingung harus bagaimana, aku tahu semua berawal dari kesalahan appa. Kesalahannya yang telah berpaling dari eomma.” 



******




Setelah merasa cukup puas berada di taman, Gyuri dan Jongdae kembali ke café tadi. Mereka tidak masuk lagi, mereka hanya sampai di depannya saja karena kendaraan mereka masih berada di sana. Yah…tadi karena saking kalutnya, Jongdae menarik lengan Gyuri dan bertolak ke taman yang berada tak jauh dari café tersebut.



“ Terimakasih untuk hari ini.” ucap Jongdae yang belum masuk ke dalam mobilnya. Ia masih berdiri memerhatikan Gyuri yang mulai menstarter mesin motornya.

“ Apa tidak terbalik? Harusnya aku yang berkata seperti itu. ya sudah aku duluan.”

“ Hati-hati.” Ujar Jongdae melepas kepergian Gyuri yang telah melesat dengan kecepatan sedang.

Pria itu membalik tubuhnya dan berjalan menuju mobilnya. Namun tangannya berhenti bergerak untuk membuka pintunya saat wajah Gyuri terbesit dalam benaknya. Ia hanya tersenyum simpul kemudian membuka pintu mobilnya.



*******


Luhan POV

At Chung Ang University




Aku langsung berlari dari ruang kelasku menuju tempat dimana mereka berkumpul, maksudku para anggota SarangBook. Hufft..…untung saja aku masih keburu, tadi dosen di kelasku itu lama sekali, maklum dia memang suka korupsi waktu. Suka sekali melebihkan jam pelajaran, padahal waktu pelajaran sudah selesai. Kadang aku merasa tidak enak, karena sering terlambat datang ke kelas SarangBook gara-gara guru itu. 



Tapi saat aku masuk ke dalam kelas, para anggota sedang menyerahkan tugas mading mereka yang ditanggapi oleh Ryu Hoon, Seo Jin dan Min Hee. Ahh..lagi-lagi aku telat. Dengan cepat aku masuk kemudian menyapa mereka serta memohon maaf atas keterlambatan. Entah ini sudah keberapa kalinya aku terlambat. Namun untungnya mereka mengerti dan langsung menyambutku dengan ramah.



Aku menanggalkan tasku kemudian berkeliling, melihat-lihat hasil pekerjaan mereka. Terkadang aku berhenti sejenak ketika ada sekelompok gadis yang memanggilku, mereka bertanya ini dan itu. meminta saran padaku lebih tepatnya. Setelah itu aku berpindah ke tempat yang lain, hingga aku berada di depan Sora. gadis itu bersama temannya…Ji Eun sedang membicarakan sesuatu sambil menempelkan kertas-kertas di papan mading kreasinya. Tapi…bukankah teman sekelompoknya itu Gyuri? Kenapa malah Ji Eun yang membantunya?. Kepalaku menoleh ke sana kemari, tapi aku sama sekali tak melihat kehadiran gadis itu. aishh..apa dia tidak datang lagi. Ckkk….benar-benar!.



“ Sora…kau mengerjakannya sendiri? mana Gyuri?” tanyaku langsung pada intinya.


Dia langsung terlihat resah, bahkan temannya juga ikut gelisah. Mereka berdua saling bertukar pandang seolah sedang menyalurkan rasa gugup yang mereka rasakan.


“ Dia..dia…tadi sakit sunbae.” Jawab Ji Eun yang terlihat tidak yakin dengan jawabannya sendiri.



Aku hanya diam kemudian beralih membaca beberapa bacaan yang tertempel di atas papan mading miliknya. Alisku mengerinyit kala semua tulisan yang ku baca, ahh…ini semua tulisan Sora. aku memang tak hafal karakter tulisan semua anggota, tapi setidaknya aku cukup kenal dengan tulisan ini. ini tulisan Sora. lagipula aku pernah membaca puisi buatan Gyuri sebelumnya, dan tipikal tulisannya cukup berbeda dengan tulisan yang ada disini.

“ Kau mengerjakannya sendirikan?” tembakku sambil menatapnya dengan serius.

Bukannya menjawab, gadis itu malah menundukkan kepalanya. tanpa ia jawabpun aku tahu apa jawabannya. Ckk…tidak ku sangka.



*******



Author POV 



Tak pernah disangka Gyuri jika ia akan dipertemukan dengan Hara, Nayoung, dan Sora. tadi saat baru keluar dari perpustakaan, Ji Eun membawanya secara paksa. Awalnya ia tidak menaruh curiga pada temannya itu.



Sebelas duabelas dengan Gyuri, Hara serta Nayoung kelihatan cukup terkejut. Setidaknya mereka belum melakukan persiapan sebelumnya. Tidak seperti Sora yang sudah mengetahui rencana ini dari awal. Bahkan ia yang meminta Cheonsa dan Ji Eun untuk menyusun rencana seperti ini, karena mereka tidak akan pernah berbaikan, jika tidak ada pihak yang mau mengalah, pikir Sora.



“ Kenapa diam saja? kalian ini seperti baru kenal saja.” ujar Cheonsa dengan santai. Yah…gadis itu bisa santai, tidak seperti temannya yang lain yang sedang bingung harus bicara apa.
“ Benar. Biasanya kalian itu bawel sekali kalau sedang bertemu.” Tambah Ji Eun yang diangguki Cheonsa.




“ Aku minta maaf, aku sadar semuanya terjadi karena sifat kekanakanku. Coba saja aku bisa menanggapi kejadian itu dengan bijak, mungkin aku tidak akan menjauhi Sora dan berujung dengan salah paham seperti ini.” Gyuri memulai ucapannya. Ia terus menunduk namun mengangkat kepalanya setelah mengakhiri semua perkataannya. Ia menatap satu-satu, mulai dari Hara, Nayoung dan Sora.



“ Ya..mungkin semuanya tak akan lebih kacau kalau aku tidak menyangkamu dengan yang tidak-tidak. aku juga minta maaf karena telah bicara kasar padamu Gyuri.”  Balas Hara yang ditutup dengan senyum tulus yang mewakili segenap hatinya. 



Gyuri tersenyum simpul, dan perlahan pikiran bercabang yang terus mengganggunya belakangan ini pergi, pupus sedikit demi sedikit. 



“ Itu…juga karena aku. Kalau saja aku tidak berpikiran yang macam-macam hingga membuatmu sakit hati, mungkin kita tidak akan separah ini.” ucap Nayoung yang masih ragu untuk menatap mata Gyuri. Dia merasa sangat bersalah pada Gyuri, ia merasa sangat buruk.



“ Aku senang semuanya bisa kembali seperti semula. Dan aku harap padamu..” Sora menatap Gyuri, “ Ku harap kau mau bercerita jika ada masalah. Yah..setidaknya jika itu menyangkut salah satu diantara kita. Aku tidak ingin salah paham seperti kemarin terjadi lagi.”



Gyuri menganguk pelan kemudian tersenyum pada Sora. dan berangsur suasana yang tadi sangat kaku berubah menjadi lebih menyenangkan. Bahkan mereka sudah tak sungkan untuk meledek satu sama lain. yah…walaupun belum seleluasa biasanya. 



*******



Gyuri POV 




Ahh…rasanya senang sekali bisa kembali bersama teman-temanku. kembali berbagi kebahagiaan bersama, melakukan banyak hal bersama. kira-kira ini sudah hari ketiga aku berbaikan dengan mereka. sekarang…semua ambisi buruk yang terus mengepung otakku pergi, kala aku menyadari bahwa mereka tak seburuk itu. Dan berkat salah paham yang terjadi waktu itu, kami jadi sering berkata langsung jika ada sesuatu yang kurang disukai terhadap satu sama lain. Dan banyak hal yang ku ketahui karena itu, tak ingin tutup mata maupun telinga, ternyata aku cukup menyebalkan. Hehehe…tapi aku tidak sakit hati, karena aku tahu semua orang pasti pernah melakukan kesalahan.



Huft…rasanya aku jadi tak sabar untuk menemui mereka. Dengan cepat ku buka pintu toilet dan keluar dari dalam sana. Aku berjalan santai menuju kantin, tempat mereka sedang menunggu. Tadinya aku ingin bersama, tapi mendadak aku ingin buang air kecil jadi aku tidak harus ke toilet dulu.


“ Senang sekali rupanya…ckk…benar-benar!” kakiku berhenti ketika sebuah suara terdengar. Suara itu terdengar begitu sinis dan dingin.



Kepalaku menoleh ke samping dan mendapati sosok Luhan sunbae yang datang dari arah kanan. Ia memutar bola matanya dengan sinis, kemudian menatapku seakan sedang menatap seseorang yang habis melakukan kejahatan.


“ Kau masih bisa tertawa seperti itu? Hhhh…..tak kusangka.” Ia terus mengoceh, tapi sayangnya aku tak mengerti dengan arah pembicaraannya. Apa mungkin ia masih kesal karena kejadian di perpustakaan tempo hari? .


Aku menatapnya bingung, karena aku benar-benar tak tahu harus merespon dengan apa. “ Sebenarnya apa yang sunbae maksud?” tanyaku yang membuatnya mendecak.


“ Awalnya aku ingin minta maaf padamu, tapi setelah tahu jika kau sama sekali tak mengerjakan apa-apa aku merasa bahwa aku tidak perlu minta maaf, bahkan aku tidak merasa bersalah. Cihh…ku kira kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu di perpustakaan. Kau bisa mengerjakannya tanpa bantuan Sora, tapi apa? bahkan kau tidak melakukan apa-apa untuk tugas mading itu. Ucapanmu itu tak lebih dari omong kosong Park Gyuri!”


Mataku melebar sempurna bersamaan dengan ragaku yang tersentak setelah mendengar apa yang baru saja Luhan katakan. Rasanya sakit, ingin menangis saja. Aku bahkan tidak pernah membayangkan sebelumnya, jika akan dibentak seperti ini. Aku tak percaya jika Luhan sunbae benar-benar hal seperti itu padaku. Ia…ya ampun tubuhku lemas.


Ku tatap ia yang masih menatap dengan sinis, dia kelihatan sangat benci padaku.

“ Dengar ini baik-baik. aku…tidak pernah menyesal telah berkata seperti ini padamu. Sungguh…” ucapnya sambil menatapku dalam. Ia seperti manusia tak berhati. Ucapannya memang tak sekeras tadi, tapi penekanan pada kalimatnya begitu mengecilkan aku.


“ Kalau kau memang tidak ingin dipandang sebelah mata, harusnya kau berusaha. Bukannya menyalahkan orang lain.” ucapnya lagi. Iapun pergi setelah menyelesaikan semuanya. Semua kalimatnya yang mungkin tidak ada apa-apanya untuknya. Tapi tidak denganku. Bagiku ini sangat menyakitkan, sekarang aku merasa seperti sampah. Kenapa? Kenapa dia yang bicara seperti itu padaku?.



^^^^^^^


TBC

My first update on January!!!! Weeww…oke sebelumnya aku mau say sorry karena lama bgt update ff ini. Abis…abis…ya udah deh nanti aku galau lagi.
Gimana tahun baruannya? Seru? Apa pada melar kayak aku karena kelamaan ngerem di depan laptop? Oke berhubung ini udh 2014 mungkin aku bakal namatin painfully smile. FF tergalau, termelow, terdrama ini mungkin bakal abis paling lambat awal atau pertengahan februari, jadi jangan pada enek ya krna aku rajin bgt update ff ini.
Baiklah readers unyu kayaknya itu aja yg mau aku sampein,  makasih….


The sleepyhead girl

GSB

Comments

Popular Posts